Ketua Komite FFI 2026 Ungkap Peran Film Sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif

Ketua Komite FFI 2026, Ario Bayu, dok: MTVN/Putri Purnama

Ketua Komite FFI 2026 Ungkap Peran Film Sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif

Putri Purnama Sari • 18 September 2026 18:39

Jakarta: Film tidak hanya menjadi produk hiburan, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor dalam ekosistem ekonomi kreatif. Hal tersebut disampaikan Ketua Komite Festival Film Indonesia (FFI) 2026, Ario Bayu, dalam acara Media Junket Festival Film Indonesia 2026 di Jakarta.

Menurut Ario, FFI memang memiliki keterbatasan sebagai organisasi untuk melakukan banyak hal secara langsung. Namun, FFI dapat memaksimalkan perannya dalam memberikan rekognisi sekaligus mempromosikan film Indonesia.

"Kita ini sayangnya bukan badan atau bukan organisasi yang bisa melakukan banyak hal. Tapi kita bisa memaksimalkan tujuan dari organisasi FFI ini. Kan memang visi besarnya adalah memberikan rekognisi ya dan juga mempromosikan film Indonesia," ujar Ario kepada Metrotvnews.com, Jumat, 18 September 2026.

Rekognisi tersebut dinilai penting karena dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa karya serta para pelaku industri film Indonesia memiliki kualitas dan mampu memberikan dampak terhadap ekosistem perfilman.

"Film dianggap prospektus yang menjanjikan. Jadi di segi investasinya ada, ekonominya mulai berjalan," lanjutnya.

Industri Film Berdampak ke Sektor Lain

Ario menjelaskan, perkembangan industri film tidak hanya berkaitan dengan proses produksi sebuah karya. Ketika produksi film berjalan, terdapat berbagai kebutuhan yang turut menggerakkan sektor lainnya.

Ia mencontohkan keterlibatan investor dari berbagai latar belakang bisnis yang mulai melihat film sebagai bagian dari portofolio mereka. Dampaknya juga dapat dirasakan hingga sektor yang berkaitan dengan kebutuhan produksi maupun aktivitas ekonomi di sekitar industri film.

"Orang-orang yang misalnya produksi film bisa beli kopi. Berarti produksi kopi juga jalan. Jadi sampai hulu hilirnya ya yang disebut hilirisasi, itulah fungsinya ekonomi kreatif kita," kata Ario.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa film merupakan salah satu bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang memiliki rantai dampak cukup luas.

Menurutnya, FFI juga hadir karena diperintahkan oleh undang-undang, jadi memang harus ada ajang apresiasi terhadap para pelaku perfilman Indonesia.

"Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 mengenai perfilman, terus Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Kemajuan Kebudayaan. Bayangkan, kemajuan kebudayaan. Nah, itu aku bisa menterjemahi dan mengaplikasikannya ke dunia film," tambahnya.

FFI Ingin Memberikan Rekognisi kepada Perfilman Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, Ario juga menegaskan bahwa salah satu fungsi FFI adalah memberikan rekognisi dan apresiasi terhadap para pelaku perfilman Indonesia.

Ia menyebut penghargaan yang diberikan bukan sekadar soal piala, tetapi juga mengenai bagaimana karya dan kreator Indonesia mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

Ario menilai rekognisi tersebut dapat membantu memperlihatkan bahwa ekosistem perfilman Indonesia memiliki banyak kreator dengan karya yang layak mendapatkan perhatian. Hal itu juga diharapkan dapat memberikan motivasi kepada generasi baru yang ingin terjun ke dunia perfilman.

Film sebagai Bagian dari Kekuatan Budaya

Lebih jauh, Ario mengaitkan peran film dengan cultural diplomacy atau diplomasi budaya. Menurutnya, film dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya suatu negara.

Ia mencontohkan bagaimana budaya populer Korea dapat dikenal luas melalui berbagai produk budaya, termasuk K-pop. Menurut Ario, hal tersebut menunjukkan bahwa industri kreatif dapat berperan dalam membangun visibilitas suatu negara.

Dalam konteks Indonesia, film dapat menjadi salah satu medium untuk memperkenalkan tradisi, sejarah, nilai budaya, dan cerita masyarakat Indonesia kepada dunia.

"Film itu menjadi sangat strategic karena bisa membawa nilai-nilai budaya dan tradisi suatu negara. Mangkannya kenapa film itu penting dan harus kita kasih rekognisi," ucapnya.

Melalui peran tersebut, Ario berharap ekosistem perfilman Indonesia terus berkembang sehingga dalam beberapa tahun ke depan semakin banyak karya Indonesia yang mampu menjangkau penonton internasional.

Ario melihat film memiliki potensi untuk membawa berbagai kekayaan Indonesia kepada penonton yang lebih luas karena film menjadi medium untuk memperkenalkan tradisi, pariwisata, kuliner, hingga berbagai cerita dari daerah di Indonesia.

Ia berharap film Indonesia tidak hanya memiliki pasar di dalam negeri, tetapi juga semakin banyak dikenal di kawasan Asia dan pasar internasional.

Ario menilai Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Karena itu, semakin banyak cerita lokal yang diangkat melalui film, semakin besar pula peluang untuk memperkenalkan berbagai sisi Indonesia kepada masyarakat luas.

Nirina Zubir Ingin Film Indonesia Tembus Pasar Asia


Nirina Zubir, dok: MTVN/Putri Purnama

Senada dengan Ario Bayu, Nirina Zubir juga berharap perfilman Indonesia ke depan tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga semakin dikenal di Asia Tenggara hingga pasar internasional.

"Inginnya maksudnya skala penjualannya juga bisa lebih luas bukan hanya Indonesia, tapi minimal ke Asia," kata Nirina Zubir selaku Duta Festival Film Indonesia 2026.

Menurutnya, semakin luasnya jangkauan film Indonesia juga dapat ikut mengangkat berbagai potensi Tanah Air, mulai dari pariwisata, kuliner, hingga tradisi.

"Tradisi itu penting banget kan, dan kita punya banyak. Jadi ya inginnya lebih diekspos lagi," tambah Nirina.

Nirina melihat perkembangan tersebut mulai terjadi. Produksi film Indonesia kini semakin banyak dilakukan di berbagai daerah, tidak hanya berpusat di Pulau Jawa tetapi kota-kota lainnya.

Ia berharap keberagaman tersebut semakin terekspos melalui film sehingga masyarakat dunia dapat melihat bahwa Indonesia memiliki banyak potensi, bukan hanya Bali.

(Putri Purnama Sari)