Petugas membawa jenazah warga korban Ebola. Foto: Anadolu
Massa Bakar Tenda Perawatan Ebola di Kongo Akibat Rebutan Jenazah
Muhammad Reyhansyah • 22 May 2026 22:27
Bunia: Sejumlah demonstran menyerang dan membakar tenda di pusat perawatan Ebola di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo bagian timur, Kamis, 21 Mei 2026.
Kerusuhan terjadi di Rumah Sakit Rwampara di pinggiran ibu kota Provinsi Bunia setelah keluarga korban Ebola menuntut jenazah kerabat mereka untuk dimakamkan sendiri.
Mereka juga membantah laporan bahwa anggota keluarga mereka meninggal akibat Ebola. Pejabat lokal Luc Malembe mengatakan massa berkumpul di luar rumah sakit dan mulai membakar sejumlah tenda pasien setelah permintaan mereka ditolak.
"Polisi terpaksa menembakkan gas air mata dan tembakan peringatan untuk membubarkan massa," kata Malembe kepada wartawan di Kota Rwampara, dikutip dari Anadolu, Jumat, 22 Mei 2026.
Ia menyerukan peningkatan edukasi masyarakat terkait Ebola di wilayah yang selama ini juga menghadapi tantangan keamanan serius.
Insiden tersebut mengingatkan pada kejadian serupa pada 2020 ketika sejumlah pusat kesehatan diserang kelompok bersenjata dan warga sipil saat wabah Ebola 2018 melanda Kongo timur.
Saat itu, banyak warga tidak mempercayai tenaga medis dan petugas kesehatan. Wabah Ebola terbaru secara resmi diumumkan pada 15 Mei di Provinsi Ituri.
Sejak itu, otoritas kesehatan Kongo dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sekitar 600 kasus suspek dan 139 kematian probable.
Penyebaran wabah kini meluas ke North Kivu dan South Kivu, sementara dua kasus impor juga ditemukan di Uganda.
Direktur Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) Jean Kaseya pada Kamis meminta masyarakat mematuhi langkah-langkah pencegahan secara ketat.
Berbicara di Bunia, ia menegaskan komitmen mitra-mitra Afrika untuk membantu penanganan wabah Ebola.
"Kami memiliki tim yang sangat termotivasi dan berpengalaman, dan kami akan memperkuat mereka untuk menangani epidemi ini," ujarnya.
WHO sebelumnya menetapkan wabah Ebola yang disebabkan varian Bundibugyo sebagai darurat kesehatan global setelah lonjakan kasus dan kematian di Kongo timur.