Bali Ocean Days 2026 Conference & Showcase akan digelar pada 30-31 Januari 2026 di InterContinental Bali Resort, Jimbaran. (Foto: Dok. Ist)
Bali Ocean Days 2026 Digelar, Indonesia Pimpin Kolaborasi 11 Negara Hadapi Krisis Laut
Patrick Pinaria • 21 January 2026 17:37
Jakarta: Banjir rob di wilayah pesisir, tumpukan sampah di sungai dan pantai, pemutihan terumbu karang, hingga tekanan pariwisata terhadap ruang pesisir bukan lagi ancaman masa depan. Fenomena tersebut telah terjadi hari ini dan menjadi tantangan nyata bagi negara kepulauan seperti Indonesia.
Merespons situasi tersebut, Bali Ocean Days 2026 Conference & Showcase akan digelar pada 30-31 Januari 2026 di InterContinental Bali Resort, Jimbaran. Forum ini dirancang sebagai wadah lintas sektor yang mempertemukan pengambil kebijakan, pelaku industri, ilmuwan, investor, dan inovator untuk mendorong solusi konkret bagi keberlanjutan laut.
Tahun ini merupakan edisi ketiga dari penyelenggaraan Bali Ocean Days. Kali ini, penyelenggara mengusung tema Navigating Solutions for a Regenerative Ocean Future dalam acara tersebut.
Adapun forum ini diselenggarakan Sky Blue Sea Foundation bersama Darmawan & Associates, serta didukung Pertamina sebagai mitra pengembang solusi energi berkelanjutan, dengan InterContinental Bali Resort Jimbaran sebagai tuan rumah.
"Bali Ocean Days tidak kami rancang sebagai ruang diskusi biasa, tetapi sebagai meja kerja lintas negara, lintas sektor, dan lintas kepentingan. Kita tidak punya waktu lagi untuk hanya saling berbagi keprihatinan. Yang kita butuhkan adalah keputusan, keberanian, dan eksekusi," kata Ketua Dewan Pembina Sky Blue Sea Foundation, Paul Tan.
Meja kerja kebijakan, sains, dan bisnis
Bali Ocean Days 2026 akan menghadirkan lebih dari 40 pembicara dan organisasi dari 11 negara, yakni Indonesia, Fiji, Papua Nugini, Seychelles, Malaysia, Filipina, Hong Kong, Australia, Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman. Sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara kepulauan dijadwalkan hadir, bersama pemimpin lembaga internasional, ilmuwan, dan pelaku keuangan berkelanjutan.Selama dua hari, peserta akan terlibat dalam diskusi dan sesi kerja yang mencakup enam isu utama: negara kepulauan dan krisis iklim, sains dan teknologi kelautan, ekowisata dan pelestarian terumbu karang, perikanan berkelanjutan dan perlindungan spesies, masyarakat pesisir dan ruang hidup, serta sampah plastik dan polusi laut.
Beberapa pembicara internasional yang dijadwalkan hadir, di antaranya Menteri Perikanan dan Kehutanan Fiji Alitia Bainivalu, Menteri Perikanan dan Sumber Daya Laut Papua Nugini Jelta Wong, serta Utusan Khusus Seychelles untuk ASEAN Nico Barito.
Sementara dari Indonesia, pembukaan forum direncanakan dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, dan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa Ermawati.
Forum ini juga menghadirkan para ilmuwan dan praktisi, antara lain Prof. Indra Jaya (IPB), Dr. Rahmadi Prasetyo (MERO Foundation), Daniel Griffin (The Coral Champions), Arnaud Brival (praktisi restorasi terumbu karang di Raja Ampat), dan Vincent Chalias (Ocean Gardener). Dari sisi kebijakan dan pembiayaan pembangunan, hadir Yann Martres, Country Director Indonesia dari Agence Française de Développement (AFD).
Kolaborasi 11 negara untuk solusi berskala nyata
Sekretaris Jenderal SBS Foundation sekaligus Direktur Program Bali Ocean Days, Pascal Philippe menegaskan bahwa skala krisis laut menuntut skala kolaborasi yang sama besarnya."Tahun ini kami secara sengaja mempertemukan pembicara dan organisasi dari 11 negara untuk berbagi data, praktik terbaik, dan pengalaman kebijakan. Krisis laut tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lokal yang terpisah-pisah. Tanpa dukungan dan kolaborasi internasional, kita akan bekerja dalam skala yang terlalu kecil. Bersama, kita bisa bekerja dalam skala yang besar dan berdampak," ujar Pascal.
Dari ide ke implementasi: Eco-Showcase & SEA-MaP
Berbeda dari forum pada umumnya, Bali Ocean Days juga menghadirkan eco-showcase, ruang yang mempertemukan solusi nyata dengan pembuat kebijakan dan investor. Berbagai inisiatif yang akan ditampilkan antara lain Handprint, Parongpong RAW Lab, Shiva Industries, Biosphere Foundation, MDPI, The SeaCleaners, PALLLM, serta Gerakan Ciliwung Bersih, mulai dari pengolahan sampah hingga restorasi ekosistem dan pembiayaan inovatif.Tahun ini, Bali Ocean Days juga menjadi tuan rumah side event SEA-MaP (Southeast Asia Regional Program on Combating Marine Plastics). Ini merupakan sebuah program ASEAN didukung oleh World Bank dan GIZ, yang bertujuan membawa isu pengurangan sampah plastik dari level proyek ke level kebijakan dan pembiayaan kawasan.
Deklarasi darurat terumbu karang
Salah satu keluaran utama Bali Ocean Days 2026 adalah peluncuran Coral Emergency Declaration, sebuah seruan bersama untuk menghentikan degradasi terumbu karang akibat aktivitas pariwisata laut, pelayaran, dan kegiatan pesisir yang tidak berkelanjutan.Deklarasi ini disusun bersama jaringan organisasi konservasi dan sains kelautan yang berpartisipasi dalam konferensi, termasuk the Reef World Foundation, the Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF), the Coral Triangle Center (CTC), the WWF Coral Reef Rescue Initiative (CRRI), dan Positive Ripple Consulting.
Dokumen tersebut menyoroti tekanan serius di destinasi utama seperti Bali, Komodo, Raja Ampat, Banda, Bunaken, Wakatobi, Alor, Derawan, dan Lembeh, akibat penggunaan jangkar kapal wisata, kepadatan lalu lintas perahu, limbah kapal, serta lemahnya pengawasan kawasan konservasi.
Deklarasi ini mengusulkan delapan langkah kebijakan mendesak, termasuk larangan nasional penggunaan jangkar di kawasan sensitif, kewajiban sistem pengolahan limbah kapal, perluasan buoy tambat, briefing lingkungan wajib bagi operator wisata, penguatan pengawasan dan penegakan hukum, sanksi tegas dan konsisten, asuransi wajib kerusakan terumbu karang, serta pembatasan jumlah pengunjung berbasis daya dukung ekosistem.
"Deklarasi ini harus menjadi salah satu gerakan konkret untuk mendorong perubahan yang cepat dan berkomitmen dalam melindungi pesisir, terumbu karang, dan destinasi laut Indonesia. Ini adalah titik awal untuk menyatukan kebijakan, standar, dan tanggung jawab lintas sektor," tambah Pascal Philippe.
Sebuah simbol dan ajakan bertindak
Sebagai penutup, Sky Blue Sea Foundation Trophy of Honor akan diberikan kepada Sir David Attenborough, yang akan diterima Manajer Biodiversity and Ecology Minderoo Foundation, Matt Fraser. Film Ocean with David Attenborough yang didukung Minderoo Foundation sebagai penyandang dana dan produser eksekutif akan diputar sebagai penutup acara.Bali Ocean Days 2026 ditujukan bagi pembuat kebijakan, pelaku industri dan pariwisata, investor, akademisi, peneliti, startup, serta organisasi lingkungan yang terlibat dalam isu laut dan pesisir.
Pendaftaran dan tiket dapat diperoleh melalui Megatix.