Mengulik Dokumen Rahasia Peristiwa 9/11 yang Dirilis Mamdani

Wali Kota New York City Zohran Mamdani. Foto: The New York Times

Mengulik Dokumen Rahasia Peristiwa 9/11 yang Dirilis Mamdani

Fajar Nugraha • 11 September 2026 09:51

New York: Kota New York merilis lebih dari 170.000 halaman dokumen yang mengungkap bahwa para pejabat berulang kali menyesatkan warga mengenai tingkat kualitas udara yang beracun pascaserangan 11 September 2001 terhadap World Trade Center, Amerika Serikat.

Rilis ini dilakukan hanya beberapa hari sebelum kota tersebut memperingati peristiwa itu.

Pengungkapan ini memperlihatkan besarnya jumlah korban jiwa dan dampak buruk yang dialami mereka yang kesehatannya terganggu pada tahun-tahun setelah tragedi tersebut. Hal ini juga diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada publik mengenai respons pemerintah kota setelah runtuhnya menara-menara tersebut, di tengah upaya cepat untuk memulihkan stabilitas dan membuka kembali kawasan Lower Manhattan.

Menurut dokumen-dokumen tersebut, warga yang tinggal di dekat Ground Zero berulang kali diyakinkan oleh para pejabat bahwa kondisi udara aman, meskipun data internal dan pengalaman warga menunjukkan hal yang sebaliknya.

Dokumen-dokumen tersebut mungkin hanya memuat sebagian kecil dari laporan kualitas udara yang diambil di Ground Zero, namun juga mencakup memo internal yang krusial.

Dalam beberapa dokumen, para pejabat menyuarakan kekhawatiran terkait pengujian lingkungan antara Oktober dan November 2001, yang secara rutin mendeteksi peningkatan kadar zat beracun, termasuk asbes dan bahan kimia berbahaya yang sulit dideteksi.

Dokumen-dokumen itu merinci kegagalan dalam melindungi kesehatan petugas tanggap darurat, penyembunyian data mengenai asbes dan hasil pengujian lainnya, serta pernyataan pejabat yang bertolak belakang dengan fakta terkait risiko kesehatan bagi publik.

"Seiring berlalunya waktu dan bertambahnya jumlah korban jiwa, kita terus merasakan dampak dari peristiwa 11 September setiap kali ada lagi warga New York yang direnggut nyawanya terlalu dini," ujar Wali Kota Zohran Mamdani pada Selasa dalam konferensi pers yang mengumumkan perilisan dokumen tersebut, seperti dikutip dari CNN, Jumat 11 September 2026.

Hampir 3.000 orang tewas dalam peristiwa 9/11, namun ribuan orang lainnya -,termasuk petugas tanggap darurat yang menghabiskan waktu berbulan-bulan bekerja di lokasi kejadian,- telah meninggal dunia akibat kanker dan penyakit lain yang terkait dengan peristiwa 9/11, menurut data 9/11 Memorial.

Sebuah portal yang dilengkapi fitur pencarian akan menyediakan akses ke dokumen-dokumen tersebut, dan pemerintah kota diperkirakan akan menambahkan lebih banyak materi secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang, demikian disampaikan para pejabat pada Selasa.

Setiap dokumen yang dimuat dalam portal tersebut dapat dilihat dan diunduh secara gratis.

Mengapa dokumen-dokumen tersebut baru dirilis sekarang? Menurut pejabat pemerintah kota, dokumen-dokumen tersebut merupakan bagian dari 68 kotak yang tersimpan di kantor pemerintah kota -,yang ditemukan tahun lalu,-dan kini dirilis menjelang peringatan 25 tahun serangan tersebut pada Jumat.

Selama bertahun-tahun, para pegiat isu 9/11, penyintas, dan petugas tanggap darurat -,termasuk banyak orang yang jatuh sakit akibat paparan zat beracun di udara pascaserangan,- telah menyerukan transparansi lebih lanjut dan menuntut agar dokumen-dokumen tersebut dibuka untuk umum.

Menurut direktur eksekutif Ben Chevat, perilisan dokumen minggu ini menyelesaikan gugatan hukum yang diajukan oleh kelompok advokasi 9/11 Health Watch; kelompok tersebut sebelumnya menggugat pemerintah kota agar dokumen itu dibuka demi mendatangkan lebih banyak bantuan federal dan mendorong penelitian tambahan mengenai dampak kesehatan.

“Wali Kota, saya ingin mengucapkan terima kasih karena Anda menjadi wali kota yang, setelah 25 tahun, mulai menjawab pertanyaan: Apa yang diketahui pemerintah kota mengenai bahaya dari awan beracun di Ground Zero, dan kapan hal itu diketahui?" ujar Chevat dalam konferensi pers Selasa, yang ditujukan kepada Mamdani.

(Fajar Nugraha)