Gubernur BI Destry Damayanti dan Wamenkeu Juda Agung dalam 2nd BRICS Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting/BRICS FMCBG di Mumbai, India. Foto: ANTARA/HO-Bank Indonesia.
Indonesia Dorong BRICS Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal
Husen Miftahudin • 12 September 2026 12:43
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mendorong penguatan kerja sama konkret negara-negara anggota BRICS melalui penggunaan mata uang lokal dalam transaksi dan konektivitas pembayaran lintas negara.
Dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS atau 2nd BRICS Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (BRICS FMCBG), Gubernur BI Destry Damayanti menekankan pentingnya menjaga stabilitas sekaligus memperkuat sumber pertumbuhan di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan fragmentasi ekonomi global.
"Indonesia melihat peluang strategis bagi BRICS untuk mengubah berbagai tantangan menjadi resiliensi bersama melalui penguatan kerja sama konkret. Termasuk transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara, dengan tetap memperhatikan tahapan pembangunan dan prioritas nasional masing-masing negara," kata Destry seperti dikutip dari Antara, Sabtu, 12 September 2026.
Sebagai bagian dari rangkaian BRICS FMCBG di Mumbai, India, Destry melakukan pertemuan bilateral dengan Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Sanjay Malhotra.
Pertemuan tersebut membahas percepatan kerja sama local currency transaction (LCT) Indonesia-India, local currency bilateral swap arrangement (LCBSA), serta konektivitas pembayaran melalui QR antarnegara.
BI menyampaikan kerja sama tersebut menjadi salah satu langkah untuk menerjemahkan komitmen BRICS ke dalam konektivitas ekonomi dan keuangan yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
BRICS perkuat kerja sama ekonomi dan keuangan
Pertemuan BRICS FMCBG kedua yang berlangsung pada Rabu, 9 September 2026, hingga Kamis, 10 September 2026, turut dihadiri Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung sebagai perwakilan Indonesia.
Pertemuan tersebut dihadiri pimpinan bank sentral dan kementerian keuangan negara anggota BRICS, yakni Indonesia, Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, dan Iran.
Dalam pertemuan tersebut, negara-negara anggota BRICS menyepakati komitmen untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan serta meningkatkan resiliensi dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Komitmen tersebut dirumuskan setelah pembahasan sejumlah isu strategis, meliputi penguatan resiliensi dan pertumbuhan, transformasi digital dan kecerdasan artifisial (AI), konektivitas pembayaran lintas negara, penggunaan mata uang lokal, ketahanan siber, serta keuangan berkelanjutan.

(Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: dok MI/Ramdani)
Dorong reformasi arsitektur keuangan global
BRICS juga menyepakati pentingnya penguatan arsitektur keuangan global, antara lain melalui reformasi tata kelola Dana Moneter Internasional (IMF) untuk memperkuat suara dan representasi negara berkembang.
Sejalan dengan kesepakatan tersebut, Indonesia menekankan pentingnya menjadikan keberagaman karakteristik negara anggota sebagai kekuatan untuk membangun kerja sama yang saling melengkapi dan menghasilkan nilai tambah bersama.
Pertemuan BRICS FMCBG kedua menyepakati Pernyataan Bersama yang merefleksikan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Ke depan, Indonesia memandang penting untuk menjaga ruang dialog dan membangun jembatan di tengah fragmentasi global.
Melalui sinergi Bank Indonesia dan pemerintah, Indonesia akan terus berkontribusi dalam agenda kerja sama internasional untuk menghasilkan langkah-langkah konkret yang inklusif dan sejalan dengan prioritas nasional. Upaya tersebut diarahkan untuk mendukung ketahanan ekonomi dan keuangan Indonesia.