Ilustrasi. Foto: Magnific.
Baja Jadi Masa Depan Kota Modern, Saatnya Arsitek RI Tampil di Kancah ASEAN
Ade Hapsari Lestarini • 13 May 2026 06:22
Jakarta: Sejumlah pakar arsitektur menekankan inovasi desain di masa depan tidak hanya tentang estetika visual, tetapi fokus merespons tantangan iklim dan keberlanjutan. Pemilihan material seperti baja lapis (coated steel) dinilai memiliki dampak langsung terhadap kualitas lingkungan perkotaan melalui pendekatan life cycle thinking.
Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk "Innovation and Sustainability with Coated Steel" pada ARCH:ID 2026, yang menjadi rangkaian pembukaan pendaftaran Indonesia Steel Architectural Award (ISAA) 2026. Juri ISAA 2026, Ar. Doti Windajani, mengatakan arsitek perlu memahami konsep Life Cycle Assessment (LCA) dalam menentukan material bangunan. Menurut dia, baja menjadi salah satu material berkelanjutan karena dapat didaur ulang hingga 100 persen dan berkontribusi terhadap sirkulasi ekonomi urban.
Pemilihan material fasad yang tepat sangat krusial bagi perbaikan kualitas perkotaan, terutama dalam mengurangi emisi karbon dan efek Urban Heat Island. Finalis Steel Architectural Award 2024 Budi Sumaatmadja menambahkan, desain yang kuat lahir dari kemampuan merespons realitas proyek secara utuh. Melalui proyek Summarecon Mall Bekasi 2, Budi mengeksplorasi metal roofing untuk menciptakan bentuk atap dinamis yang menyerupai ikan koi sekaligus berfungsi sebagai ruang publik.
"Baja memberikan fleksibilitas untuk menciptakan bentuk tiga dimensi yang rumit namun tetap kuat secara struktural," ungkap Budi, dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu, 13 Mei 2026.
Tahun ini, ISAA memasuki penyelenggaraan keempat di Indonesia. Berkolaborasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), ajang tersebut mengangkat tema "Shaping Resilient Futures-Timeless Design with Coated Steel" sebagai ajakan untuk merespons tantangan masa depan melalui desain yang tangguh, relevan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Kepala Badan Penghargaan Arsitektur IAI sekaligus Komite ISAA 2026, Ar. Dill Raaj Singh menegaskan ajang ini adalah momentum untuk menunjukkan karya Indonesia memiliki kualitas untuk tampil sejajar di tingkat internasional. "Baja bukan hanya soal fungsi, tetapi juga medium ekspresi desain yang adaptif dan berkelanjutan," tambah dia.

Baca Juga :
ARCH:ID 2026 Resmi Digelar: Siap Perkuat Industri Arsitektur melalui Kolaborasi Lintas Disiplin
Membawa karya Indonesia ke tingkat ASEAN
Pendaftaran Indonesia Steel Architectural Award (ISAA) 2026 telah dibuka sebagai ajang seleksi nasional (Country Award). Karya-karya terbaik yang berhasil memenangkan ISAA akan secara otomatis mewakili Indonesia untuk bersaing di tingkat regional dalam ASEAN Steel Architectural Awards (SAA) 2026 di Thailand.
Inisiatif regional ini merupakan ruang kolaborasi empat negara di ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Tailan. Pemenang di tingkat ASEAN nantinya akan mendapatkan kesempatan eksklusif berupa perjalanan belajar selama satu minggu ke fasilitas BlueScope di Australia.
Pada kesempatan yang sama, Marketing Manager PT NS BlueScope Indonesia Monika Frederika menjelaskan visi besar ajang ini. "Di banyak negara maju, baja telah menjadi bagian penting arsitektur yang adaptif dan berkelanjutan. Melalui program ini, kami sebagai pionir baja lapis ingin mendorong eksplorasi serupa di Indonesia bersama para arsitek yang memahami konteks, iklim, dan kebutuhan masyarakatnya," ujar Monika.
Monika menekankan ISSA bukan sekadar kompetisi, namun bagaimana komunitas arsitektur dapat saling menginspirasi dan bergerak maju bersama.