Jamaluddin Affan Asyi
Strategi Jemput Bola demi Korban Banjir Aceh Tetap Berangkat Haji
Akmal Fauzi • 11 May 2026 18:00
Mekkah: Kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat banjir besar akhir 2025 tidak menyurutkan langkah warga Aceh untuk tetap berangkat ke Tanah Suci. Meski didera cobaan bencana, keteguhan hati para jemaah ini menjadi motor penggerak bagi pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan upaya demi memastikan keberangkatan mereka pada musim haji tahun ini.
Jamaluddin Affan Asyi atau yang akrab disapa Syekh Jamal, Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi membuktikannya. Ia memaparkan perjuangan panjang lintas instansi demi memastikan para korban bencana tetap dapat menunaikan rukun Islam kelima meski kehilangan harta benda.
"Di antara 23 kabupaten/kota di Aceh, 18 kabupaten/kota itu terdampak bencana yang sangat luar biasa yang harta benda mereka itu habis semuanya, contohnya di Aceh Tamiang," kata Jamal saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Minggu, 10 Mei 2026 malam.
Kondisi ekonomi jemaah pascabencana sempat menjadi kendala serius. Di Aceh Tamiang, misalnya, dari sekitar 150 calon jemaah, hanya satu orang yang mampu melakukan pelunasan biaya haji pada tahap pertama.
Kondisi ini direspons cepat dengan strategi "jemput bola". Tim Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) dan perwakilan pemerintah daerah turun langsung ke lapangan untuk memfasilitasi proses istita'ah kesehatan hingga koordinasi dengan pihak perbankan untuk mempermudah pelunasan.
"Saya, kemudian dengan tim dari Kemenhaj ditugaskan oleh Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur untuk menjemput bola, untuk merelokasi jemaah supaya bisa melakukan istita'ah," kata pria yang biasa sisapa Syeikh Jamal.
Di Aceh Utara, 18 paspor jemaah dilaporkan hanyut terbawa arus banjir. Selain itu, hancurnya jaringan komunikasi dan fasilitas kesehatan di daerah terdampak memaksa petugas mengalihkan proses input data ke wilayah lain yang masih berfungsi.
"Akhirnya kami alihkan ke daerah yang ada internetnya, kemudian yang ada komunikasi telepon dan sebagainya, karena semua infrastruktur elektronik hancur," kata Jamal.
.jpg)
Ilustrasi jemaah haji. Dok. MI
Kerja keras tersebut juga dilakukan untuk menepis isu pengalihan kuota haji Aceh ke provinsi lain akibat kendala pelunasan di daerah bencana. "Karena pada saat itu ada isu bahwa jemaah daerah yang dampak bencana itu akan kuotanya dialihkan ke provinsi lain. Tetapi kami Aceh, ditugaskan saya oleh Bapak Gubernur itu betul-betul jemput bola," tegasnya.
Hasilnya, kuota haji Aceh justru menjadi salah satu yang tercepat terpenuhi dan bahkan melampaui target nasional. Tahun ini, Aceh mendapatkan kuota 5.426 jemaah yang terbagi dalam 14 kelompok terbang (kloter).
Di balik segala hambatan teknis, Jamal mengaku paling terenyuh melihat keteguhan hati para jemaah, khususnya dari wilayah terdampak parah seperti Tamiang.
"Alhamdulillah sampai sekarang jemaah haji walaupun bagaimana yang paling menyedihkan di Tamiang. Mereka nggak ada apa-apa lagi, rumah udah nggak ada, tapi mereka tetap berhaji," ucapnya haru.
Secara nasional, hingga Minggu, 10 Mei 2026, ada 323 kloter dengan total 125.243 jemaah haji telah diberangkatkan ke Tanah Suci. Dari jumlah tersebut, sebanyak 78.946 jemaah kini telah berada di Mekkah.