Cerita Warga Kampung Nelayan Sejahtera Rasakan Lebaran Terindah Tahun Ini

Warsana warga Desa Eretan Kulon, Kabupaten Indramayu menempati rumah baru Program Kampung Nelayan Sejahtera yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Bakom RI

Cerita Warga Kampung Nelayan Sejahtera Rasakan Lebaran Terindah Tahun Ini

Whisnu Mardiansyah • 23 March 2026 15:56

Indramayu: Warga Kampung Nelayan Sejahtera di Desa Eretan Kulon, Kabupaten Indramayu tahun ini bisa menikmati Lebaran dengan suasana nyaman dan gembira. Hiruk-pikuk takbir tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Di kawasan yang dulunya identik dengan genangan air pasang laut itu, kini anak-anak berlarian di jalan lingkungan yang bersih, tanpa rasa khawatir akan lumpur yang menempel di kaki. Suasana teduh ini menjadi pemandangan langka bagi warga yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang ancaman air pasang.

Bagi warga, Lebaran tahun ini bukan sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi simbol perubahan, dari rasa waswas menjadi ketenangan. Beberapa tahun lalu, cerita Lebaran di kampung ini jauh dari hangatnya kebersamaan. Banjir rob kerap datang berulang, merendam lantai rumah, merusak perabotan elektronik, hingga meninggalkan lingkungan yang tidak sehat.

Anak-anak tumbuh dalam kondisi yang rentan terhadap penyakit kulit dan demam, sementara orang tua menjalani hari dengan kekhawatiran yang tak kunjung usai. Ketidakpastian itu selalu menghantui, terutama saat momen-momen penting seperti Lebaran tiba. 

Perubahan mulai terasa sejak pembangunan kampung ini pada 2025. Program Kampung Nelayan Sejahtera yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan dijalankan Kementerian Sosial bersama pemerintah daerah, Baznas, BNPB, serta dukungan TNI-Polri dan berbagai pihak lain, menghadirkan harapan baru bagi warga pesisir. Program ini hadir sebagai solusi komprehensif, tidak hanya membangun rumah, tetapi juga mengembalikan martabat hidup masyarakat pesisir.
 


Sebanyak 93 rumah tipe 36 berdiri rapi di kawasan ini. Setiap rumah dilengkapi dua kamar tidur, ruang tengah, dapur, dan kamar mandi yang layak. Dinding-dinding kokoh didesain untuk tahan terhadap kondisi lingkungan pesisir yang lembab dan rentan terhadap angin kencang. Tak hanya itu, akses air bersih, sanitasi, jaringan listrik, hingga fasilitas sosial seperti masjid, taman, dan sentra UMKM turut melengkapi kehidupan baru warga.

Bagi Warsana, 42, seorang nelayan yang sejak remaja mengarungi Laut Jawa, perubahan ini terasa begitu nyata. Lebaran tahun ini menjadi yang paling berkesan sepanjang hidupnya. Di rumah barunya yang bersih dan kokoh, Warsana bersama keluarga merayakan kemenangan dengan hati yang lapang.

“Lebaran tahun ini rasanya lebih senang, lebih tenang. Kebersihan di sini terasa sekali, suasananya juga nyaman. Jadi walaupun enggak punya banyak, tetap bisa ngerasain bahagia bareng keluarga,” ujar Warsana, Senin, 23 Maret 2026.

Ia tinggal bersama istrinya, Kadmina, 39, dan tiga anak mereka. Warsana mengisahkan, dahulu, setiap kali melaut dini hari, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Bukan soal hasil tangkapan semata, melainkan kondisi rumah yang sewaktu-waktu bisa terendam rob. Ia menatap langit-langit rumah barunya yang tinggi, seolah masih tak percaya bahwa kini ia memiliki tempat berlindung yang aman.


Banjir rob di kawasan pesisir Eretan Kulon Kabupaten Indramayu. MI

“Kalau lagi kerja itu pasti ada rasa khawatir. Kepikiran terus rumah banjir, kepikiran anak istri. Tapi mau gimana, kalau khawatir terus, kerja juga jadi enggak fokus,” katanya sambil tersenyum tipis, mengenang masa-masa sulit yang kini tertinggal.

Kekhawatiran itu mencapai puncaknya pada akhir 2022. Saat banjir besar datang, istrinya yang tengah hamil besar harus dievakuasi dengan cara dibopong menggunakan kasur ke rumah orang tua. Tak lama berselang, rumah mereka yang terbuat dari kayu dan papan lapuk itu roboh digerus air pasang yang tak kunjung surut.

“Waktu itu ya sudah, yang penting keluarga selamat dulu. Rumah bisa dicari lagi, tapi kalau keluarga kenapa-kenapa itu yang enggak tergantikan,” kenangnya dengan nada tegar, meski matanya berkaca-kaca.

Setelah peristiwa itu, Warsana dan keluarga sempat mengungsi, menumpang di rumah orang tua dalam kondisi serba terbatas. Mereka berbagi ruang sempit dengan sanak saudara, jauh dari privasi yang layak. Lebaran demi Lebaran pun terasa lewat begitu saja, tanpa rasa aman. Suasana Idulfitri hanya menjadi pengingat akan kehidupan yang tak kunjung membaik.

Kini, di rumah barunya, suasana itu berubah total. Lebaran dirayakan sederhana, namun penuh makna. Tanpa genangan air, tanpa rasa cemas. Dinding-dinding rumah yang kokoh menjadi simbol perlindungan yang selama ini mereka rindukan. Di ruang tengah yang bersih, Warsana dan keluarga menyambut sanak saudara yang datang bersilaturahmi.

“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah, khususnya Kementerian Sosial, yang sudah peduli dengan masyarakat kecil seperti kami. Dengan adanya tempat ini, kehidupan kami jadi jauh lebih baik, lebih layak, dan lebih tenang,” ucap Warsana.

Di Kampung Nelayan Sejahtera, Lebaran bukan lagi tentang apa yang dimiliki, melainkan tentang rasa aman yang akhirnya bisa dirasakan. Sebuah perubahan sederhana, namun berarti besar bagi mereka yang selama ini hidup di garis ketidakpastian. Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya membangun tembok dan atap, tetapi juga merestorasi keyakinan bahwa negara hadir untuk mereka yang paling membutuhkan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)