Reza Pahlavi, 'Putra Mahkota' yang Dorong Demonstrasi di Iran

Reza Pahlavi. (Instagram/@officialrezapahlavi)

Reza Pahlavi, 'Putra Mahkota' yang Dorong Demonstrasi di Iran

Riza Aslam Khaeron • 13 January 2026 17:11

Jakarta: Protes di Iran telah memasuki hari ke-17. Aksi ini bermula dari para pedagang yang turun ke jalan untuk memprotes penurunan nilai mata uang rial Iran.

Unjuk rasa tersebut berujung ricuh dengan berbagai tindakan anarkis yang menyebabkan 646 orang tewas dan 10 ribu lainnya ditahan, menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat.

Dalam berbagai video yang beredar, para demonstran terdengar meneriakkan slogan-slogan seperti "kematian untuk diktator", "kematian untuk Khamenei", hingga "Pahlavi akan kembali". Seruan terakhir merujuk pada Reza Pahlavi, tokoh oposisi yang kini hidup di pengasingan.

Reza Pahlavi merupakan putra mahkota Mohammad Reza Pahlavi, Shah terakhir Iran yang digulingkan pada tahun 1979. Sejak lama ia aktif menyuarakan oposisi dari luar negeri dan kini kembali menjadi sosok yang disebut-sebut oleh para demonstran.

Selama protes ini berlangsung, ia berulang kali menyerukan agar massa terus melakukan demonstrasi dan pernah menyatakan akan kembali ke Iran untuk menyaksikan "revolusi".

"Saya juga tengah bersiap untuk kembali ke tanah air agar pada saat kemenangan revolusi nasional kita, saya bisa berada di sisi kalian," ujarnya.

Lantas, siapakah sebenarnya Reza Pahlavi? Berikut profilnya.
 

Latar Belakang Reza Pahlavi


Reza Pahlavi ketika masih anak-anak. (Domain Publik)

Reza Pahlavi lahir pada 31 Oktober 1960 dan dibesarkan sebagai putra mahkota dari ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ayahnya mewarisi takhta dari kakeknya, seorang perwira militer yang merebut kekuasaan di Iran dengan dukungan Inggris.

Sejak kecil, Reza Pahlavi telah tampil dalam berbagai simbol monarki. Salah satu momen yang terekam adalah ketika ia duduk di dekat takhta ayahnya dalam balutan seragam khusus anak-anak pada usia tujuh tahun.

Kemewahan sistem monarki pada masa itu, di tengah ketimpangan sosial, inflasi yang tinggi, dan modernisasi ekonomi berbasis minyak, turut memicu gelombang ketidakpuasan publik.

Menjelang tumbangnya monarki Iran, Reza Pahlavi meninggalkan negaranya dan pindah ke Amerika Serikat untuk menjalani pelatihan sebagai pilot tempur. Ia menyebut pernah menawarkan diri untuk bergabung dalam perang Iran–Irak pada dekade 1980-an, tetapi tawaran tersebut ditolak. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di bidang ilmu politik di University of Southern California.

Setelah ayahnya wafat, kalangan loyalis kerajaan di pengasingan menyatakan bahwa Reza Pahlavi mengambil peran sebagai shah pada 31 Oktober 1980, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-20. Ia kini diketahui telah berkeluarga dan memiliki tiga anak.
 

Seberapa Populer Reza Pahlavi di Iran?

Menilai seberapa besar dukungan Reza Pahlavi di dalam Iran tidaklah mudah, mengingat ia telah hidup di pengasingan selama hampir lima dekade. Ia diketahui menetap di Los Angeles dan Washington DC, serta selama ini menyerukan referendum dan perubahan damai di Iran.

Namanya kembali mencuat dalam setiap gelombang demonstrasi besar, termasuk pada 2009 dan 2022, terutama setelah kematian Mahsa Amini. Seruannya untuk perubahan kerap mendapatkan sorotan dari kanal berita berbahasa Persia dan diaspora Iran, khususnya di Amerika Serikat.

Di dalam negeri, dukungan terhadapnya kerap terlihat dalam video-video media sosial, di mana para pengunjuk rasa menyuarakan slogan seperti "hidup sang shah". Video demonstrasi di sejumlah kota Eropa juga menunjukkan gambar dirinya sebagai simbol oposisi.

Sebaliknya, media pemerintah Iran menggambarkan Reza Pahlavi sebagai sosok yang tidak membumi dan korup. Ia juga dikaitkan dengan kelompok "teroris monarkis" yang dituduh terlibat dalam aksi kekerasan pada 8 Januari.

Berdasarkan survei GAMAAN pada Februari 2022 terhadap 16.850 responden di dalam Iran menyebut Reza Pahlavi sebagai tokoh sipil dan politik paling populer dengan dukungan 39 persen.

Namun, hanya 19 persen responden yang mendukung monarki konstitusional sebagai bentuk pemerintahan, sementara 34 persen memilih republik sekuler, dan mayoritas menolak kepala negara yang diturunkan berdasarkan keturunan.

Artinya, meskipun Reza Pahlavi populer sebagai figur oposisi, mayoritas publik Iran tidak secara otomatis mendukung kembalinya sistem monarki.

Dalam survei yang sama, 53 persen responden juga menyatakan setuju terhadap slogan "Reza Shah, semoga engkau beristirahat dalam damai", yang mencerminkan adanya nostalgia terhadap masa lalu, tanpa menjamin adanya dukungan politik penuh terhadap Reza Pahlavi sebagai pemimpin masa depan.
 

Dukungan Terhadap Israel


Reza bertemu Netanyahu tahun 2023. (Anadolu)

Dukungan terbuka Reza Pahlavi terhadap Israel telah lama menjadi sorotan, baik dari pihak pemerintah Iran maupun kelompok oposisi lainnya. Ia memosisikan dirinya sebagai tokoh oposisi yang ingin menjalin kembali hubungan antara rakyat Iran dan Israel di masa depan.

Pada April 2023, Reza Pahlavi melakukan kunjungan ke Israel dan bertemu langsung dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu serta Presiden Isaac Herzog. Dalam kunjungan tersebut, ia menghadiri upacara peringatan Hari Holocaust di Museum Peringatan Holocaust di Yerusalem Barat dan menyatakan.

“Sudah menjadi kewajiban saya untuk berada di sini mewakili sesama rakyat saya, untuk menghormati para korban Holocaust dan menyampaikan rasa hormat saya kepada bangsa dan rakyat ini,” ucapnya.

Ia juga disambut secara resmi di Bandara Ben Gurion Tel Aviv oleh Menteri Intelijen Israel, Gila Gamliel. Kunjungannya dinilai sebagai bentuk simbolik solidaritas terhadap Israel, serta sinyal keterbukaan terhadap rekonsiliasi antara kedua negara bila terjadi transisi politik di Iran.

Pada Juni 2025, setelah Israel meluncurkan serangan terhadap target di Iran, Reza Pahlavi tidak mengecam aksi tersebut. Sebaliknya, ia merilis pernyataan video yang menyalahkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, karena telah “menyeret Iran ke dalam perang” dan menyebut pemerintahan di Teheran sebagai “lemah dan terpecah.”

"Kepada komunitas internasional: jangan lagi berikan pelampung penyelamat kepada rezim teroris yang sekarat ini," ujarnya.

Ia juga menyerukan kepada militer dan aparat keamanan Iran untuk memutus hubungan dengan rezim dan bergabung bersama rakyat.
 
Baca Juga:
Korban Tewas Protes Iran Jadi 646 Orang, 10 Ribu Lebih Ditangkap
 

Apa Rencana Reza untuk Iran?

Melansir Euronews, dalam berbagai pernyataannya, Reza Pahlavi menegaskan bahwa ia tidak berupaya mengembalikan bentuk "monarki absolut" atau kekuasaan turun-temurun di Iran. Sebaliknya, ia mendorong terbentuknya pemerintahan yang berbasis pada kehendak rakyat melalui proses demokratis.

Ia menyebut bahwa keputusan bentuk negara, apakah republik atau monarki parlementer, harus ditentukan melalui referendum bebas.

Ia juga menyatakan tidak mengejar jabatan resmi, kekuasaan, atau gelar tertentu. Baginya, prioritas utama adalah memastikan rakyat Iran dapat menentukan sendiri arah masa depan politik negaranya, dengan berlandaskan pada hak asasi manusia, pemisahan agama dan negara, serta kebebasan sipil.

Dalam rangka transisi dari Republik Islam, Reza Pahlavi mengedepankan strategi perubahan damai dengan menghindari kekerasan. Ia menyerukan perlawanan sipil yang terorganisir dan mendukung upaya kolaboratif lintas sektor. 

Untuk memastikan bahwa perubahan rezim tidak menyebabkan kekacauan atau kevakuman pemerintahan, Reza Pahlavi mendukung inisiatif Iran Prosperity Project (IPP). IPP adalah peta jalan ekonomi dan transisi nasional yang disusun oleh organisasi diaspora National Union for Democracy in Iran (NUFDI).

Proyek ini merinci langkah-langkah pemulihan ekonomi, stabilisasi pemerintahan, dan pembangunan layanan publik pasca-rezim, termasuk strategi di bidang energi, kesehatan, pendidikan, anggaran, dan pembangunan infrastruktur.

Dalam wawancaranya di Council on Foreign Relations pada Oktober 2025, Reza Pahlavi menegaskan bahwa IPP bukanlah rencana untuk restorasi monarki, melainkan kerangka kerja untuk membangun Iran yang demokratis dan sejahtera."Saya tidak melihat ini sebagai soal restorasi atau hasil tertentu. Ini soal demokrasi dan penentuan nasib sendiri," katanya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)