PHR Regional 1 Pacu Produksi Migas Lewat Teknologi dan Temuan Cadangan Baru

Ilustrasi. Foto: dok PHR Regional 1.

PHR Regional 1 Pacu Produksi Migas Lewat Teknologi dan Temuan Cadangan Baru

Ade Hapsari Lestarini • 3 August 2026 16:02

Jakarta: PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 memperkuat strategi menjaga produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional di tengah tantangan penurunan alami (natural decline) pada lapangan-lapangan migas yang telah lama berproduksi (mature).

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan Muhamad Arifin mengatakan Regional 1 masih menjadi salah satu kontributor utama produksi migas nasional. Hingga semester I-2026, wilayah kerja tersebut menyumbang sekitar 31 persen lifting minyak nasional atau sekitar 177 ribu barel minyak per hari (MBOPD).

Selain itu, Regional 1 berkontribusi 39 persen terhadap produksi minyak dan 27 persen produksi gas Subholding Upstream Pertamina. Pada semester I-2026, PHR membukukan produksi minyak sebesar 178,03 MBOPD atau 87 persen dari target. Produksi gas mencapai 746,80 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 98 persen dari target. Sementara lifting minyak tercatat 177,47 MBOPD dan lifting gas mencapai 545,25 MMSCFD.

Menurut Arifin, tantangan terbesar industri hulu migas saat ini berasal dari lapangan-lapangan tua, terutama Blok Rokan yang telah berproduksi sejak 1952 dan mengalami penurunan produksi alami lebih dari 30 persen setiap tahun.

"Menjaga produksi dari lapangan mature membutuhkan upaya yang semakin kompleks. Karena itu kami menjalankan strategi yang tidak hanya mempertahankan baseline produksi, tetapi juga menciptakan sumber pertumbuhan baru agar ketahanan energi nasional tetap terjaga," ujar dia dalam Media Gathering PHR Regional 1 2026 di Sentul.
 

Perkuat teknologi dan eksplorasi


Untuk menjaga produksi, PHR menerapkan tiga strategi utama, yakni Energy Security, Energy Transition, serta New Business & Strengthening Enablers. Implementasinya dijalankan melalui lima pilar strategis, mulai dari menjaga produksi lapangan eksisting, meningkatkan produksi dari lapangan baru, mempercepat transisi energi, meningkatkan efisiensi operasional, hingga mengembangkan bisnis baru.

Salah satu fokus utama ialah optimalisasi lapangan tua melalui teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) yang mulai diterapkan secara komersial di Minas Area A sejak Desember 2025.



Di sisi lain, PHR juga mempercepat eksplorasi dan pengembangan struktur baru di sejumlah wilayah prospektif, seperti Astrea, Pinang East, dan Mustang Hitam yang telah memberikan tambahan produksi sekitar 1.000 hingga 2.000 barel minyak per hari.

Perseroan juga mulai mengembangkan ekosistem Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung transisi energi dan menciptakan sumber pertumbuhan baru.
 

Tambah cadangan migas


Selain menjaga produksi, PHR terus memperkuat keberlanjutan cadangan migas. Hingga Juni 2026, Regional 1 telah menyelesaikan tiga sumur eksplorasi, merealisasikan 163 sumur eksploitasi, menambah cadangan terbukti (P1) sebesar 6,26 juta barel setara minyak (MMBOE), serta menemukan sumber daya migas kategori 2C sebesar 16,49 MMBOE.

Di bidang operasional, perusahaan mencatat Schedule Performance Index (SPI) sebesar 0,960 dan Cost Performance Index (CPI) sebesar 1,133. Akuisisi seismik tiga dimensi mencapai 140 kilometer persegi atau 140 persen dari target.

Sementara dari aspek keselamatan kerja, hingga Juni 2026 PHR Regional 1 membukukan zero fatality, Total Recordable Injury Rate (TRIR) sebesar 0,00, serta mencatat 74,97 juta jam kerja aman. Arifin menegaskan, inovasi teknologi akan menjadi kunci menjaga keberlanjutan produksi migas nasional di tengah tantangan lapangan tua.

"Kami meyakini kombinasi inovasi teknologi, investasi yang berkelanjutan, serta eksplorasi agresif akan menjadi kunci menjaga produksi migas nasional di tengah tantangan lapangan mature sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia," kata dia.

(Ade Hapsari Lestarini)