Balas Klaim Trump atas Selat Hormuz, Iran Sebut California Wilayah Barunya

Selat Hormuz jadi perairan penting dalam rute perdagangan minyak. Foto: Anadolu

Balas Klaim Trump atas Selat Hormuz, Iran Sebut California Wilayah Barunya

Muhammad Reyhansyah • 19 August 2026 19:10

Teheran: Iran membalas pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz sebagai wilayah baru AS dengan mengunggah peta California dan menyebut negara bagian tersebut sebagai "wilayah baru Republik Islam Iran".

Trump sebelumnya mengunggah gambar peta Selat Hormuz melalui platform Truth Social pada Selasa, 18 Agustus 2026. Dalam gambar tersebut, jalur strategis itu dilingkari dengan tulisan "NEW U.S. Territory" atau "Wilayah Baru AS".

Gedung Putih kemudian mengunggah ulang pernyataan Trump melalui akun resminya di platform X.

Sebagai tanggapan, akun resmi @IraninHyderabad di X mengunggah peta Amerika Serikat dengan California diberi warna biru dan tulisan "NEW TERRITORY OF ISLAMIC REPUBLIC OF IRAN".

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi juga mengecam pernyataan Trump.

"Delusinya mengenai Selat Hormuz akan segera dikoreksi, atau kami yang akan mengoreksi delusi pria yang delusional ini," tulis Gharibabadi melalui X, dikutip dari Anadolu, Rabu, 19 Agustus 2026

Sebelumnya, Trump mengatakan Amerika Serikat akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayahnya setelah perang berakhir. Selat tersebut merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia.

California dipilih Iran sebagai sasaran balasan retoris karena negara bagian tersebut menjadi rumah bagi komunitas keturunan Iran terbesar di Amerika Serikat. 

Sekitar 141 ribu warga keturunan Iran diperkirakan tinggal di Los Angeles County, menurut Iranian Diaspora Dashboard dari Center for Near Eastern Studies, UCLA.

Pertukaran pernyataan tersebut berlangsung di tengah ketegangan antara Teheran dan Washington setelah konflik selama berbulan-bulan. 

Iran dan Amerika Serikat sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni untuk mengakhiri perang dan membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih luas, tetapi perundingan kemudian terhenti akibat perselisihan mengenai implementasi kesepakatan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

(Fajar Nugraha)