Ilustrasi: Pexels
Waspada Rabies! Ini Tanda dan Gejala Kucing yang Terinfeksi
Riza Aslam Khaeron • 9 June 2026 17:36
Jakarta: Rabies merupakan salah satu penyakit paling mematikan yang dapat menyerang kucing. Ironis, gejala pada fase awal sangat mudah diabaikan karena tidak menunjukkan luka atau benjolan yang mencolok.
Tanda pertamanya sering kali hanya berupa perubahan perilaku kecil yang biasa dianggap sebagai tanda bahwa kucing sedang kelelahan atau sekadar sedang "tidak mood".
Padahal, di balik perubahan kecil tersebut, virus rabies sedang bergerak perlahan menyusuri sistem saraf menuju otak. Tidak hanya membahayakan keselamatan kucing, penyakit ini juga merupakan ancaman serius bagi manusia di sekitarnya karena penularannya yang sangat mudah melalui air liur atau gigitan.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), tingkat fatalitas rabies mencapai 100 persen begitu virus menginfeksi sistem saraf pusat dan gejala klinisnya muncul.
Namun, penyakit ini dapat dicegah melalui vaksinasi, baik untuk hewan maupun manusia. Masyarakat sudah selayaknya mengenali gejala-gejala rabies sejak dini agar nyawa terjaga.
Bagaimana sebenarnya penularan ini terjadi dan apa saja gejala yang harus diwaspadai? Berikut ulasan lengkapnya.
Bagaimana Kucing Bisa Terinfeksi Rabies?
.jpg)
Ilustrasi: Pexels
Mengutip informasi dari laman Garden State Veterinary Specialists di Eatontown, virus rabies masuk ke tubuh kucing melalui air liur yang ditularkan lewat gigitan hewan terinfeksi. Kasus infeksi paling sering terindikasi berawal dari virus yang dibawa hewan liar. Kucing yang sering dibiarkan bermain di luar ruangan memiliki risiko penularan tertinggi karena peluang mereka untuk berinteraksi dengan hewan liar jauh lebih besar.
Setelah masuk melalui luka gigitan, virus tidak langsung memicu gejala nyata. Virus ini akan menjalar perlahan melalui jaringan saraf menuju otak, hingga menyebabkan peradangan hebat yang memicu seluruh rangkaian gejala khas rabies.
Masa inkubasi ini bisa berlangsung mulai dari beberapa minggu hingga beberapa bulan. Fase inilah yang membuat rabies sangat berbahaya. Sebab, kucing tampak sangat sehat dalam waktu yang cukup lama, padahal virus terus aktif berkembang biak di dalam tubuh anabul. Begitu gejala klinis mulai terlihat, penyakit berkembang sangat cepat dan tidak lagi memiliki pengobatan efektif untuk menyelamatkan nyawa kucing.
Gejala Awal Rabies pada Kucing
Menurut penjelasan dari Garden State Veterinary Specialists, pada fase awal (prodromal), gejala rabies pada kucing cenderung tidak spesifik dan sangat mudah disalahartikan sebagai penyakit biasa:- Perubahan perilaku
Kucing yang biasanya ramah dan manja tiba-tiba menjadi pendiam dan suka menarik diri. Sebaliknya, kucing yang biasanya mandiri dan cuek bisa mendadak menjadi sangat manja serta terus-menerus mencari perhatian pemiliknya. - Demam ringan
Demam muncul sebagai respons alami tubuh dalam melawan infeksi virus. Namun, gejala ini terkadang sulit dideteksi tanpa bantuan termometer khusus hewan. - Nafsu makan menurun dan lesu
Gejala awal rabies lainnya, kucing tampak tidak bersemangat, enggan menyentuh makanan, dan menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk tidur atau bersembunyi. - Perubahan suara
Perubahan suara menjadi petunjuk awal yang penting. Kucing mungkin mengeluarkan suara yang tidak biasa, seperti meong dengan nada berbeda, erangan lirih, atau suara aneh yang belum pernah Anda dengar sebelumnya.
Gejala Lanjut Rabies
Begitu virus berhasil mencapai otak dan menyebabkan kerusakan neurologis yang parah, penyakit ini akan memasuki fase agresif (furious) atau fase lumpuh (paralytic). Gejalanya akan berkembang menjadi jauh lebih jelas dan mengkhawatirkan:- Agresi mendadak
Peliharaan menjadi agresif merupakan salah satu tanda paling khas infeksi rabies. Kucing yang sebelumnya jinak dan manis bisa tiba-tiba menyerang, menggigit, atau mencakar tanpa adanya provokasi. Bahkan terhadap pemiliknya sendiri atau hewan peliharaan lain yang sudah tinggal bersamanya selama bertahun-tahun. Perubahan ini murni disebabkan oleh kerusakan sistem saraf pusat, bukan sekadar masalah perilaku biasa. - Air liur berlebihan atau mulut berbusa
Gejala ini muncul karena otot dan saraf di area tenggorokan mengalami kelumpuhan. Kucing kesulitan atau bahkan tidak mampu menelan air liurnya sendiri. - Disorientasi dan kehilangan keseimbangan
Gejala ini membuat kucing tampak kebingungan, berjalan sempoyongan, atau kerap terjatuh tanpa sebab yang jelas. - Kejang-kejang
Gejala ini akan semakin sering terjadi dan berulang karena menjadi tanda virus sudah menyebabkan gangguan fungsi otak yang sangat parah. - Kelumpuhan tubuh
Kelumpuhan menjadi salah satu gejala lanjutan bagi kucing yang terserang rabies. Biasanya dimulai dari bagian kaki belakang, lalu perlahan merambat ke bagian tubuh depan hingga akhirnya melumpuhkan sistem pernapasan kucing.
| Baca Juga: Cegah Rabies, DPKHP Cianjur Buka Layanan Kesehatan Hewan Gratis di CFD |
Langkah yang Harus Dilakukan Jika Mencurigai Kucing Terinfeksi Rabies
1. Isolasi Kucing dengan Aman
Segera tempatkan kucing di dalam ruangan tertutup yang tenang, jauh dari jangkauan anggota keluarga (terutama anak-anak) serta hewan peliharaan lainnya.Jika Anda harus memindahkan atau memegangnya, gunakan sarung tangan tebal, jaket tebal, atau handuk lebar guna menghindari kontak langsung dengan air liur atau cakaran kucing. Jangan sekali-kali mencoba memeriksa area mulut atau lukanya tanpa pelindung medis yang memadai.
2. Segera Hubungi Dokter Hewan
Telepon klinik atau rumah sakit hewan darurat sebelum Anda berangkat. Jelaskan secara detail mengenai gejala yang tampak, riwayat vaksinasi kucing Anda, serta kemungkinan kontak dengan hewan liar. Dokter hewan akan memberikan panduan langkah demi langkah tentang cara membawa kucing tersebut dengan aman demi keselamatan Anda.3. Gunakan 'Kandang' untuk Transportasi yang Aman
Masukkan kucing ke dalam kandang jeruji atau carrier yang kokoh, tertutup rapat, namun memiliki ventilasi udara yang baik. Selimuti bagian luar kandang dengan handuk atau kain gelap untuk meminimalkan rangsangan visual yang bisa memicu stres dan agresi kucing selama perjalanan.Pastikan tidak ada kontak fisik langsung selama proses pemindahan. Jangan lupa membawa buku catatan medis atau riwayat vaksinasi kucing jika ada. Jika kucing sempat menggigit atau mencakar siapa pun sebelum diisolasi, orang tersebut harus segera mendapatkan penanganan medis darurat secara bersamaan dengan proses pemeriksaan kucing.
Pertolongan Pertama Jika Terkena Gigitan
Setelah itu, segera pergi ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas medis terdekat untuk mendapatkan perawatan luka intensif serta evaluasi pemberian vaksin pasca-paparan (Post-Exposure Prophylaxis /PEP).