Cedera Horor hingga Kematian Sang Ayah, Air Mata Raul Jimenez Jatuh di Azteca

Striker Timnas Meksiko Raul Jimenez. Instagram @raulalonsojimenez9

Cedera Horor hingga Kematian Sang Ayah, Air Mata Raul Jimenez Jatuh di Azteca

Whisnu Mardiansyah • 12 June 2026 11:59

Meksiko City: Selalu ada air mata di titik-titik penting kehidupan Raul Jimenez, penyerang tajam yang masih berstatus sebagai pencetak gol terbanyak Wolverhampton Wanderers di Liga Inggris (Premier League) dengan 40 gol.

Salah satu momen tersebut terjadi di Stadion Azteca, Mexico City, pada Kamis, 11 Juni 2026, malam waktu setempat, saat ia memperkuat tim nasional Meksiko menghadapi Afrika Selatan pada laga pembuka Piala Dunia 2026.

Begitu sundulannya dari jarak dekat masuk ke gawang Afrika Selatan, yang pada akhirnya membawa Meksiko menang 2-0, Jimenez tidak kuasa menahan tangis.

Emosinya meluap begitu saja. Bagi yang mengenalnya, hal itu terasa wajar lantaran terlalu banyak yang telah dilalui dan dikorbankan Jimenez untuk gol tersebut gol pertamanya setelah bermain di empat edisi Piala Dunia.

Melansir Antara, langkah Jimenez menuju Piala Dunia 2026 juga berat. Di tengah semua persiapan bersama skuad negaranya menuju turnamen itu, ia kehilangan sang ayah, Raul Jimenez Vega, yang wafat pada Maret 2026 karena kanker pankreas.

Duka menghantam dadanya begitu keras. Jimenez mengaku sang ayah sangat penting baginya. Ayahnya menjadi alasan di balik semua pencapaian Jimenez di lapangan hijau.

Setiap aksi di sepanjang kariernya yang gemilang, Jimenez selalu mempersembahkannya untuk sang ayah. Itulah yang membuat ruang kosong muncul di hidupnya begitu sang ayah berpulang.

Saat Jimenez bertarung untuk tim nasional Meksiko di Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022, ayahnya tidak pernah absen memberikan motivasi meskipun Jimenez tidak membuat satu gol pun di tiga penyelenggaraan tersebut. Namun, pada Piala Dunia 2026, kisahnya berbeda.

Jimenez menciptakan gol perdananya di Piala Dunia, mendapatkan pujian, dan dielu-elukan masyarakat Meksiko, tetapi ayahnya tidak ada di sisinya. Tidak heran Jimenez begitu larut dalam kesedihan.
 


Hidup dan Mati

Pada usia yang kini menginjak 35 tahun, Raul Jimenez sudah merasakan jatuh bangun di dunia sepak bola profesional, sama seperti mereka yang memiliki karier serupa. Akan tetapi, ada hal yang tidak semua pesepak bola pernah alami: Raul Jimenez pernah berada di antara garis tipis hidup dan mati.

29 November 2020 adalah tanggal yang tidak akan pernah dilupakan Jimenez. Baru lima menit laga berjalan di Stadion Emirates, London, Jimenez yang memperkuat Wolverhampton Wanderers terlibat benturan kepala dengan bek Arsenal, David Luiz. Jimenez tergeletak seketika dan tidak sadarkan diri. Semua pemain terdiam sambil menyaksikan tim medis bekerja dengan fokus luar biasa.

"Sangat sulit menyaksikan pasangan saya tidak berdaya. Saya hanya bisa menutup mata sambil berkata, 'Ayo, bangun. Ayo, bangun. Tolonglah bergerak sedikit saja biar kami tahu kau masih hidup'," kata tunangan Raul Jimenez, Daniela Basso, dalam film dokumenter berjudul Raul Jimenez: Code Red (2021).

Pelatih Wolverhampton Wanderers saat itu, Nuno Espirito Santo, bahkan masih menangis tersedu jika mengingat cedera horor Jimenez. "Mereka selalu meneriakkan code redcode red. Saya lalu berpikir, apakah dia selamat?" kata Nuno.

Sepuluh menit mendapatkan perawatan di lapangan Stadion Emirates, Raul Jimenez dilarikan ke rumah sakit dengan oksigen di mulutnya.


Timnas Meksiko. Foto: Instagram @miseleccionmx

Dokter kemudian mendiagnosisnya mengalami retak tulang tengkorak, cedera otak traumatis, dan sedikit pendarahan di otaknya. Berdasarkan catatan medis olahraga, tidak banyak atlet yang dapat melanjutkan karier seusai mengalami cedera brutal seperti itu.

"Dokter mengatakan kepada saya, sebuah keajaiban saya masih hidup," kata Jimenez kepada The Guardian, Agustus 2021.

Cedera tersebut membuat tidak sedikit orang yang meragukan kelanjutan karier sepak bola Jimenez. Akan tetapi, Jimenez tidak pernah kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Menjalani pengobatan dan perawatan hari demi hari, Jimenez menunjukkan peningkatan kondisi yang luar biasa. Tidak sampai tiga bulan setelah cedera, ia sudah berlatih ringan dalam pengawasan ketat pihak klub.

Pada Juli 2021, Jimenez akhirnya kembali muncul di lapangan pada laga pramusim Wolverhampton. Penampilannya berbeda karena ia harus mengenakan pelindung kepala, sesuatu yang wajib dipakainya sepanjang bermain sepak bola.

Progres Jimenez pun sangat positif. Kariernya terus bergulir dan bahkan ia dipanggil ke Piala Dunia 2022. Performanya yang konsisten membuat dirinya kerap masuk dalam daftar pemain tim nasional Meksiko.

Setelah pulih dari cedera kepala, Jimenez ikut membantu timnas Meksiko menjuarai Concacaf Nations League 2024/2025 dan Piala Emas Concacaf 2025. Ia melesakkan gol di semua final turnamen tersebut.

Sekarang, di usianya yang tidak lagi muda sebagai pemain sepak bola, Jimenez masih dipercaya berada di tim nasional. Piala Dunia 2026 bisa saja menjadi panggung terakhir eks pemain Atletico Madrid, Benfica, dan Fulham itu di kompetisi besar bersama Meksiko.

Sejauh ini, ia sudah bermain 147 kali untuk tim nasional senior negaranya dan membuat 46 gol, menyamai torehan gol legenda Meksiko Jared Borgetti. Koleksi gol tersebut membuatnya berada di posisi kedua pemain tersubur Meksiko sepanjang masa, di bawah Javier "Chicharito" Hernandez (52 gol).

Kelak saat pensiun tiba, Jimenez akan meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi sepak bola Meksiko dan dunia. Raul Jimenez memperlihatkan bagaimana kekuatan mental serta kedisiplinan akan membawa seorang pesepak bola mampu menaklukkan tantangan seberat apa pun dan konsisten bertahan di level tertinggi.

(Whisnu M)