Menlu Araghchi: Hanya Iran yang Bertanggung Jawab Membuka Kembali Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Foto: Anadolu

Menlu Araghchi: Hanya Iran yang Bertanggung Jawab Membuka Kembali Selat Hormuz

Fajar Nugraha • 29 June 2026 12:15

Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, hanya Iran yang bertanggung jawab membuka kembali Selat Hormuz berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) Teheran-Washington.

Araghchi memperingatkan bahwa campur tangan asing akan mempersulit proses tersebut.

Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut pada hari Minggu dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein, di Baghdad di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, yang tetap berada di bawah kendali Iran setelah perang agresi ilegal AS-Israel terhadap Republik Islam Iran.

“Menurut MoU, selat tersebut akan kembali ke kapasitas sebelum perang dalam waktu 30 hari di bawah pengelolaan yang akan diadopsi Iran dan setelah penghapusan hambatan oleh Republik Islam Iran,” kata Menlu Araghchi, seperti dikutip dari Press TV, Senin 29 Juni 2026.

“Pengaturan ini sedang dilaksanakan, dan tanggung jawabnya terletak pada Republik Islam Iran,” tegas Araghchi.

“Campur tangan apa pun dalam masalah ini dan upaya apa pun untuk mengadopsi pengaturan baru atau terpisah dibandingkan dengan apa yang sedang dilakukan oleh Iran hanya akan menyebabkan situasi yang lebih rumit dan penundaan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz, dan akan memicu ketegangan,” imbuh Araghchi.

Merujuk pada ketegangan baru di Selat Hormuz, diplomat senior Iran tersebut menyerukan kepada semua pihak untuk tidak ikut campur dalam pengaturan yang sedang diadopsi oleh Iran untuk pembukaan kembali jalur air strategis tersebut, dan memastikan bahwa MoU tersebut tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan.

Iran telah membatasi transit melalui Selat Hormuz, yang bertanggung jawab atas seperlima permintaan minyak global, sejak awal agresi AS-Israel yang tidak beralasan terhadap negara itu yang dimulai pada 28 Februari dan berakhir dengan gencatan senjata pada 8 April.

Pada 17 Juli, Iran dan AS menandatangani MoU yang dimediasi Pakistan, yang menyerukan penghentian permanen permusuhan di semua front, termasuk Lebanon, serta pencabutan blokade angkatan laut terhadap Iran dalam waktu 30 hari, dan pemulihan lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz.

Selain itu, dalam pernyataannya, Araghchi menyatakan penyesalannya bahwa Israel terus melakukan serangan terhadap Lebanon, dan mengatakan bahwa berdasarkan MoU tersebut, AS harus menghentikan serangan rezim Zionis.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah dan bangsa Irak atas solidaritas mereka dengan rakyat Iran sebagai korban perang agresi ilegal AS-Israel.

(Fajar Nugraha)