Lukisan Anak Autisme Disulap Jadi Merchandise Bernilai Jual

Dini, ibu yang mengembangkan bakat melukis anaknya, Revanza. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah.

Lukisan Anak Autisme Disulap Jadi Merchandise Bernilai Jual

Husen Miftahudin • 31 October 2026 15:26

Jakarta: Kreativitas anak berkebutuhan khusus dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi jika mendapatkan dukungan dan ruang untuk berkembang. Hal tersebut dilakukan Dini, seorang ibu yang mengembangkan bakat melukis anaknya, Revanza, yang merupakan penyandang autisme, menjadi berbagai produk merchandise bernilai jual.

Melalui usaha bernama Revans World, lukisan orisinal Revanza diolah menjadi produk fungsional, mulai dari tote bag, tas laptop, pouch, hingga tempat pensil. Berbeda dengan produk merchandise pada umumnya, ilustrasi yang digunakan berasal dari lukisan Revanza yang dibuat secara langsung di atas kanvas menggunakan cat akrilik.

Karya tersebut kemudian didigitalisasi oleh sang ibu untuk diaplikasikan pada berbagai produk. Usaha yang mulai dirintis sejak 2018 ini menjadi salah satu upaya Dini dalam memperkenalkan sekaligus mengapresiasi kreativitas anaknya kepada masyarakat.

"Jadi dia tetap melukisnya di kanvas, pakai cat akrilik, kemudian kita digitalize. Setelah itu kita lihat lukisan apa yang cocok dibuat menjadi produk, disesuaikan dengan dimensi dan ukurannya. Jadi, orang lain juga bisa menikmati karya lukisannya Revan, tetapi dalam bentuk yang bisa dipakai sehari-hari," ucap Dini di Bazar Rakyat, Jakarta, dikutip Sabtu, 31 Oktober 2026.
 

 

Berawal dari hobi melukis


Dini menceritakan, ketertarikan Revanza terhadap dunia seni sudah terlihat sejak kecil. Awalnya, Revanza kerap mencoret-coret dinding rumah. Melihat ketertarikan tersebut, Dini kemudian mencoba mengarahkan aktivitas anaknya dengan menyediakan media menggambar yang lebih sesuai.

Berawal dari melukis di atas kertas kertas, Revanza mulai diperkenalkan dengan berbagai alat menggambar, seperti krayon hingga cat. Seiring waktu, kemampuan melukisnya berkembang hingga menggunakan cat akrilik di atas kanvas.

Kesempatan mengembangkan lukisan menjadi produk komersial muncul ketika Revanza diajak mengikuti sebuah pameran lukisan oleh komunitas. Saat itu, Dini mulai berpikir untuk menghadirkan sesuatu selain lukisan yang dipamerkan. Ia kemudian mencoba membuat produk sederhana berupa kaos dan tote bag dengan ilustrasi karya Revanza.

"Awalnya kita coba bikin yang simple saja, waktu itu kaos dan tote bag. Ternyata peminatnya banyak dan mendapat respons bagus. Dari situ saya berpikir, ternyata banyak yang tertarik dan mengapresiasi lukisan Revan. Akhirnya pada 2018 lahirlah Revans World," ucap Dini.

Respons positif dari pengunjung menjadi awal bagi Dini untuk mengembangkan produk tersebut lebih serius. Apresiasi terhadap lukisan Revanza juga datang dari sejumlah perusahaan dan perbankan yang pernah menggunakan karya tersebut untuk kalender perusahaan.


(Kreativitas anak berkebutuhan khusus yang dikembangkan menjadi peluang ekonomi. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah)
 

Jadi bekal kemandirian


Lebih dari sekadar mengembangkan usaha, Dini memiliki harapan jangka panjang melalui Revans World. Ia ingin kemampuan dan kreativitas Revanza dapat terus berkembang sehingga kelak anaknya memiliki bekal untuk hidup lebih mandiri, termasuk secara finansial.

Menurut Dini, kemandirian menjadi salah satu hal penting yang perlu dipersiapkan orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Sebab, orang tua tidak selamanya dapat mendampingi anak dalam setiap aktivitas kehidupannya.

"Harapannya tentu sama seperti semua orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus, mereka kelak bisa mandiri. Makanya kita siapkan juga dari sekarang, terus berusaha supaya dia bisa mandiri. Salah satunya kalau dia bisa menghasilkan karya seperti ini, harapannya bisa mandiri secara finansial nantinya," ucap Dini.

Di sisi lain, Dini juga berharap pengalaman mengembangkan potensi Revanza dapat menjadi dorongan bagi orang tua lain yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, setiap anak memiliki kelebihan dan potensi yang dapat ditemukan apabila orang tua memberikan kesempatan serta fasilitas untuk mengeksplorasi minat mereka.

Dini berpesan agar orang tua tidak hanya berfokus pada keterbatasan yang dimiliki anak, tetapi juga berupaya mengenali kemampuan yang dapat dikembangkan. Proses tersebut memang membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran untuk menemukan aktivitas yang benar-benar disukai anak. (Tiaranissa Juliansyah)

(Husen Miftahudin)