5 Hal Wajib Dihindari saat Transaksi Digital Agar Tetap Aman

Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com

5 Hal Wajib Dihindari saat Transaksi Digital Agar Tetap Aman

Eko Nordiansyah • 26 October 2026 16:10

Jakarta: Transaksi digital memudahkan masyarakat melakukan pembayaran dan berbelanja secara daring. Namun, kemudahan tersebut juga diiringi risiko kejahatan siber yang dapat mengancam keamanan data pribadi dan kondisi finansial pengguna.

Melansir Allianz Indonesia, mengingatkan pentingnya menjaga keamanan saat bertransaksi digital. Pengguna perlu berhati-hati dalam memilih penjual, menjaga informasi pribadi, hingga memastikan metode pembayaran yang digunakan aman.

Berikut lima hal yang jangan dilakukan saat transaksi digital:

1. Verifikasi penjual atau merchant

Sebelum berbelanja secara daring, hindari melakukan transaksi tanpa memeriksa keaslian penjual atau merchant. Periksa reputasi penjual dan ulasan dari pembeli sebelumnya untuk mengetahui kualitas produk serta layanan yang ditawarkan.

Langkah ini dapat membantu meminimalkan risiko penipuan dan membuat aktivitas belanja daring lebih aman.

2. Hindari bagikan data pribadi

Informasi pribadi menjadi salah satu hal yang perlu dijaga saat melakukan transaksi digital. Hindari membagikan nomor kartu kredit, kata sandi, informasi tabungan atau aset, riwayat transaksi, hingga nomor KTP kepada pihak yang tidak berkepentingan.

Data tersebut berisiko disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan atau kejahatan lainnya.
(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

3. Jangan menggunakan metode pembayaran yang tidak resmi

Pastikan transaksi dilakukan melalui metode pembayaran dari lembaga keuangan yang terdaftar dan diawasi secara resmi oleh pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Beberapa metode pembayaran yang dapat digunakan antara lain transfer bank, virtual account (VA), dompet digital, ATM Link, dan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

4. Jangan mengabaikan keamanan perangkat

Keamanan transaksi digital juga berkaitan dengan perlindungan perangkat elektronik yang digunakan. Pengguna sebaiknya tidak mengabaikan pengamanan perangkat maupun pencadangan data.

Allianz Indonesia menyarankan penggunaan autentikasi biometrik, seperti sidik jari, Face ID, atau pemindaian retina, untuk meningkatkan keamanan akses. Pengguna juga perlu memiliki cadangan data agar informasi penting tetap tersedia jika perangkat harus dihapus atau diformat.

5. Laporkan masalah ke pihak berwajib

Jika mengalami masalah dalam transaksi digital, jangan mengabaikannya. Pengguna dapat menyampaikan keluhan melalui pusat bantuan di platform marketplace atau aplikasi keuangan yang digunakan.

Selain itu, pengaduan juga dapat diajukan melalui portal resmi yang disediakan Bank Indonesia (BI) atau OJK. Pelaporan diperlukan agar masalah dapat ditindaklanjuti dan hak konsumen dapat dilindungi.

Menjaga keamanan transaksi digital membutuhkan kewaspadaan dalam setiap tahap, mulai dari memilih penjual hingga melindungi data pribadi. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, pengguna dapat mengurangi risiko penipuan dan penyalahgunaan informasi saat beraktivitas di dunia digital. (Natasya Dwi Putri)

(Eko Nordiansyah)