81 Tahun TNI Menjaga Marwah, Merawat Sapta Marga

Ilustrasi TNI. Foto: dok. Antara.

81 Tahun TNI Menjaga Marwah, Merawat Sapta Marga

Safriady • 4 October 2026 18:21

Delapan puluh satu tahun bukan sekadar angka dalam perjalanan sebuah institusi. Ia adalah rentang sejarah yang panjang, penuh dinamika, ujian, pengorbanan, sekaligus perubahan zaman. Sejak lahir pada 5 Oktober 1945 sebagai Tentara Keamanan Rakyat hingga menjadi Tentara Nasional Indonesia seperti sekarang, TNI telah melewati berbagai fase sejarah bangsa.

Dalam perjalanan itu, ada satu hal yang semestinya tidak berubah yaitu marwah TNI sebagai alat negara yang mengabdi kepada bangsa dan negara, serta kehormatan prajurit yang berakar pada Sapta Marga.

Sapta Marga bukan sekadar teks yang dihafalkan seorang prajurit. Ia merupakan fondasi moral yang seharusnya hadir dalam perilaku, keputusan, dan pengabdian. Karena itu, memperingati 81 tahun TNI semestinya tidak berhenti pada parade, upacara, demonstrasi kekuatan alutsista, atau berbagai seremoni. Peringatan itu harus menjadi momentum untuk bertanya, sejauh mana nilai-nilai Sapta Marga benar-benar hidup dalam keseharian prajurit dan institusi TNI?

Pertanyaan ini penting karena tantangan pertahanan negara telah berubah secara fundamental.

Perang modern tidak selalu hadir dalam bentuk invasi militer. Ancaman dapat datang melalui perang informasi, serangan siber, disinformasi, konflik hibrida, manipulasi opini publik, hingga perang kognitif yang menyasar cara berpikir masyarakat. Di tengah perubahan tersebut, kekuatan militer tidak hanya diukur dari jumlah personel dan kecanggihan persenjataan, tetapi juga dari integritas, disiplin, legitimasi, dan kepercayaan publik.

Di sinilah makna marwah menjadi sangat penting.

Marwah TNI tidak dibangun semata-mata oleh kemenangan dalam pertempuran. Ia dibangun dari ribuan tindakan kecil para prajurit,  bagaimana mereka menjalankan tugas, memperlakukan masyarakat, menggunakan kewenangan, menjaga disiplin, mengelola informasi, dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.

Kepercayaan publik merupakan modal strategis yang tidak dapat dibeli dengan anggaran pertahanan maupun digantikan oleh teknologi.

TNI memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan eksistensi negara. Dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan, menghadapi berbagai pergolakan, menjalankan operasi pertahanan, hingga beradaptasi dengan perkembangan lingkungan strategis kawasan Indo-Pasifik. Namun, setiap zaman menghadirkan tuntutan yang berbeda.

Generasi prajurit hari ini tidak hanya dituntut memiliki kemampuan tempur. Mereka harus memiliki literasi teknologi, kemampuan menghadapi perang siber, memahami dinamika geopolitik, menguasai komunikasi strategis, dan mampu membaca perubahan sosial.

Lebih dari itu, prajurit masa kini harus memahami bahwa kekuatan senjata tanpa kekuatan moral dapat kehilangan legitimasi.

Sapta Marga menjadi relevan justru karena perubahan zaman tersebut. Nilai-nilai di dalamnya memberikan orientasi bahwa prajurit bukanlah kelompok yang berdiri di atas masyarakat, melainkan bagian dari rakyat yang mendapatkan mandat untuk mempertahankan negara.

Hubungan TNI dengan rakyat karena itu bukan sekadar slogan. Ia merupakan bagian dari sejarah pembentukan kekuatan pertahanan Indonesia.

Dalam konteks negara demokrasi, loyalitas prajurit juga harus ditempatkan secara jelas yaitu kepada negara, konstitusi, dan kepentingan nasional.

Profesionalisme militer bukan berarti menjauh dari rakyat, tetapi menempatkan kekuatan militer secara tepat dalam sistem demokrasi dan supremasi hukum.

Karena itu, menjaga marwah TNI juga berarti menjaga profesionalisme.

Prajurit harus kuat, tetapi kekuatan itu harus terkendali. Prajurit harus tegas, tetapi ketegasan harus berjalan bersama hukum. Prajurit harus memiliki keberanian, tetapi keberanian harus disertai tanggung jawab. Dan prajurit harus memiliki loyalitas, tetapi loyalitas tersebut harus diarahkan kepada bangsa dan negara.

Inilah tantangan besar TNI memasuki dekade-dekade berikutnya.

Indonesia berada di tengah perubahan geopolitik yang cepat. Persaingan kekuatan besar berlangsung di sekitar kawasan Indo-Pasifik. Laut Indonesia memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan dunia. Ruang udara, ruang siber, dan bahkan ruang informasi menjadi medan kompetisi baru.

Pada situasi seperti ini, Indonesia membutuhkan TNI yang modern sekaligus berkarakter. Modern dalam teknologi dan doktrin, tetapi tetap berakar pada nilai kebangsaan. Kuat dalam menghadapi ancaman eksternal, tetapi juga matang dalam menjalankan kewenangan di dalam negeri.

Pada akhirnya, Sapta Marga harus menjadi kompas moral di tengah modernisasi TNI.

Modernisasi alutsista memang penting. Penguatan industri pertahanan juga mutlak diperlukan. Peningkatan kesejahteraan prajurit harus menjadi perhatian. Tetapi seluruh pembangunan kekuatan tersebut akan kehilangan makna apabila tidak disertai pembangunan karakter.


Ilustrasi prajurit TNI. Foto: Dispenand TNI.

Delapan puluh satu tahun TNI adalah momentum untuk melihat masa lalu sekaligus menatap masa depan.

Menjaga marwah berarti menjaga kehormatan institusi. Merawat Sapta Marga berarti memastikan bahwa setiap prajurit memahami bahwa seragam yang dikenakan bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan simbol pengabdian.

Pada usia 81 tahun, tantangan terbesar TNI mungkin bukan hanya bagaimana menjadi lebih kuat, tetapi bagaimana memastikan bahwa kekuatan itu selalu digunakan untuk kepentingan bangsa, berada dalam koridor hukum, dan tetap mendapatkan kepercayaan rakyat.

Sebab pada akhirnya, TNI tidak hanya membutuhkan senjata yang modern. TNI membutuhkan prajurit yang berintegritas, institusi yang profesional, dan karakter yang kokoh. Itulah cara terbaik menjaga marwah. Cara paling konkret merawat Sapta Marga. Dan itulah fondasi agar pengabdian TNI kepada Indonesia tetap relevan melewati zaman.

(*Safriady, Pemerhati Isu Strategis)

(Gabriella Thesa Widiari)