Ilustrasi operasi modifikasi cuaca. Foto: BNPB.
Atasi Karhutla Papua Barat, BMKG Modifikasi Cuaca 3 Kabupaten
Lukman Diah Sari • 13 October 2026 13:43
Manokwari: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprioritaskan tiga kabupaten di Provinsi Papua Barat untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC). Langkah ini disiapkan sebagai upaya strategis mengatasi rentetan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Kelas II Rendani Manokwari, Cipta Utama, menyebut ketiga kabupaten tersebut adalah Teluk Bintuni, Fakfak, dan Kaimana. Pemilihan ini didasarkan pada temuan titik panas dan kasus karhutla yang paling banyak di wilayah tersebut.
"Titik panas di Fakfak, Bintuni, dan Kaimana lebih banyak. Operasi modifikasi cuaca bertujuan mengurangi potensi titik panas maupun kabut asap," ujar Cipta di Manokwari, Selasa, 13 Oktober 2026, melansir Antara.
"Pesawat yang bawa logistik garam untuk operasi modifikasi cuaca, belum bisa mendarat karena kabut asap," terangnya.
Berdasarkan data pantauan per 12 Oktober 2026, Cipta menyebut sebaran titik panas di Papua Barat tersisa 59 titik (58 kategori sedang dan satu kategori tinggi). Jumlah tersebut mulai menurun seiring munculnya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
"Kalau Manokwari titik api tidak terlalu banyak, tapi terdampak kabut asap karena pergerakan asap mengikuti arah angin," tambahnya.

Ilustrasi: Asap akibat karhutla di Kelurahan Sepan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim pada 19 Agustus 2026 (Antara/ HO- BPBD PPU
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat, Danang Tri Soesilo, menilai OMC merupakan solusi paling efektif. Penanganan karhutla via jalur darat, khususnya di Fakfak, kerap terhambat medan yang didominasi alang-alang dan lahan gambut. Belum lagi keterbatasan personel, peralatan, serta sulitnya akses menuju lokasi titik api.
“Pemadaman yang dilakukan menggunakan peralatan di darat sangat susah karena banyak hambatan, makanya kami butuh skema operasi modifikasi cuaca atau OMC,” tegas Danang.
Sebelumnya, BPBD Papua Barat sempat mendapat bantuan dua helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan LNG Tangguh pada pertengahan September 2026. Armada tersebut kemudian dialihkan ke Kalimantan usai operasi pemadaman di Papua Barat dinyatakan selesai. Namun nahas, per 1 Oktober 2026, satelit justru kembali mendeteksi kemunculan 1.294 titik panas di sejumlah kabupaten.