Founder Kallestory, Achmad Cliff Yusron, dok: Metro TV
Juragan Jaman Now Season 5: Kallestory Tawarkan Kacamata Mewah dari Tanduk Kerbau
Putri Purnama Sari • 17 May 2026 19:00
Jakarta: Brand eyewear lokal Kallestory tampil dalam ajang Juragan Jaman Now Season 5 dengan membawa konsep kacamata premium berbahan tanduk kerbau alami. Founder Kallestory, Achmad Cliff Yusron, memperkenalkan produknya sebagai luxury eyewear handmade yang mengedepankan craftsmanship dan material berkelanjutan.
“Di tengah dominasi brand global, kami memilih untuk berdiri bukan mengikuti, tapi menetapkan standar kami sendiri, inilah Kallestory,” ujar Cliff dalam tayangan JJN Season 5 Batch 3, Sabtu, 16 Mei 2026.
Kacamata Handmade dari Tanduk Kerbau

Dok: Metro TV
Dalam presentasinya, Cliff menjelaskan bahwa Kallestory menggunakan bahan tanduk kerbau dan domba alami untuk menciptakan frame kacamata yang unik dan eksklusif. Menurut dia, setiap pola tanduk memiliki karakter berbeda sehingga tidak ada desain yang benar-benar sama.
Selain memiliki tampilan premium, material tanduk dinilai lebih ringan, fleksibel, anti alergi, dan ramah lingkungan. Produk Kallestory dibanderol mulai Rp1,8 juta hingga Rp2,7 juta per frame dan menyasar segmen pasar premium.
Pada kompetisi tersebut, Kallestory mengajukan kebutuhan pendanaan sebesar Rp250 juta. Dana itu rencananya akan digunakan untuk memproduksi 125 frame limited edition beserta kebutuhan pra dan pasca produksi.
Sebagai imbal hasil, investor ditawarkan skema profit sharing sebesar 60 persen dengan estimasi siklus produksi dan penjualan selama enam hingga delapan bulan. Namun, proposal tersebut mendapat sejumlah pertanyaan dari panelis terkait skema pengembalian modal dan profit bisnis.
Reino Barack Soroti Margin dan Branding
Reino Barack menilai produk Kallestory memiliki positioning yang unik karena menggunakan bahan tanduk alami. Meski demikian, dia mempertanyakan margin keuntungan yang dinilai terlalu kecil jika dibandingkan dengan biaya produksi.
Menurut Reino, jika modal Rp250 juta digunakan untuk membuat 125 kacamata, maka biaya produksi per item diperkirakan hampir Rp2 juta. Sementara harga jual tertinggi hanya berada di kisaran Rp2,7 juta.
Dia juga mempertanyakan strategi Kallestory dalam memastikan seluruh produk limited edition tersebut dapat terjual. Selain itu, Reino menilai komunikasi branding Kallestory masih bisa diperkuat, terutama dalam menyampaikan nilai sustainability dan keunikan material tanduk alami kepada konsumen premium.
"Buat saya sih dari segi branding ya, karena positioning-nya cukup unik dari tanduk, tapi dari segi nama dan tagline-nya Kallestory Luxury with Identity... ya okelah," kata Reino.
Dapat Masukan soal Produksi dan Premium Quality

Panelis JJN 5, dok: Metro TV
Mentor Peter Shearer menilai Cliff memiliki passion besar di industri eyewear karena telah menekuni bidang tersebut selama lebih dari 11 tahun. Menurut Peter, tantangan terbesar Kallestory saat ini adalah bagaimana membawa brand tersebut naik kelas dari sisi branding, strategi bisnis, dan manajemen.
Sementara itu, Irwan Mussry memberikan masukan terkait desain temple atau tangkai kacamata yang juga dibuat menggunakan tanduk. Menurut Irwan, penggunaan horn pada bagian temple justru membuat proses produksi menjadi lebih sulit dan berat. Ia menyarankan penggunaan material lain agar kualitas premium tetap terjaga namun proses produksi menjadi lebih efisien.
"Kalau saya lihat frame-nya di depan di sini Pak. Kalau ini namanya apa, temple ya? Ini juga dibikin dari horn juga kan ya. Kayaknya lebih susah ya bikin temple-nya daripada frame-nya sendiri. Challenge-nya untuk kualitas yang dikatakan premium tadi, mungkin tidak perlu memakai horn juga di sini akan lebih bisa produksi lebih ringan. Itu input aja dari saya," ungkap Irwan Mussry.
Sistem Custom Jadi Nilai Tambah
Menanggapi pertanyaan panelis terkait beberapa tangkai kacamata yang belum dipasang permanen, Cliff menjelaskan sistem tersebut memang sengaja dibuat custom sesuai permintaan pembeli.
Menurut dia, pelanggan dapat memilih kombinasi frame dan tangkai sesuai selera sebelum produk difinalisasi berdasarkan ukuran kepala masing-masing. Konsep personalisasi tersebut menjadi salah satu nilai tambah yang coba ditawarkan Kallestory di pasar luxury eyewear lokal.
Fokus pada Branding dan Cerita Produk
Di balik layar, Cliff mengaku masukan dari para panelis sangat relevan dengan kebutuhan Kallestory saat ini. Menurut dia, tantangan terbesar bukan hanya soal pendanaan, tetapi juga bagaimana membangun komunikasi brand yang lebih kuat agar cerita di balik produk tanduk alami tersebut bisa diterima pasar premium Indonesia.
Melalui Juragan Jaman Now Season 5, Kallestory mencoba menunjukkan bahwa brand lokal juga mampu menghadirkan produk luxury eyewear dengan identitas dan karakter khas Indonesia.