Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. Foto: Metrotvnews.com/Eko Nordiansyah.
Kredit Perbankan Diproyeksi Tumbuh 10-12% pada 2026
Richard Alkhalik • 12 May 2026 17:49
Jakarta: Prospek intermediasi industri perbankan nasional diyakini masih berada pada jalur yang solid. Apalagi di tengah rezim suku bunga tinggi negara-negara di dunia.
Analis Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan laju pertumbuhan kredit akan tetap kokoh di kisaran dua digit hingga akhir tahun.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyebut ketahanan likuiditas perbankan menjadi motor utama yang memastikan ketersediaan dana untuk disalurkan ke sektor riil.
"Pertumbuhan kredit kami lihat masih akan positif di kisaran 10-12 persen, ditopang oleh kredit modal kerja dan konsumsi. Likuiditas perbankan (LDR) masih ample di level 84 persen, sehingga bank masih punya ruang ekspansi," kata Josua, dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I-2026, Selasa, 12 Mei 2026.
Meski ruang ekspansi terbilang leluasa, Head, Macro Economic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memberikan catatan perbankan diimbau untuk mewaspadai rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL), terutama pada sektor-sektor industri padat karya yang rentan terpukul oleh tingginya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Pemerintah diharapkan untuk terus menggulirkan kebijakan yang mampu menjaga daya beli masyarakat demi memitigasi risiko rambatan dari guncangan ekonomi global di masa mendatang.

Ilustrasi. Foto: dok MI.
Baca Juga :
Rupiah Sore Ini Meluncur ke Level Rp17.529/USD
BI diprediksi tahan suku bunga acuan
Di sisi lain, Josua memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga acuannya (BI Rate) pada level saat ini. Peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin baru akan terbuka di kuartal keempat tahun ini, dengan catatan tekanan likuiditas global mulai mereda.
Josua mengatakan, penguatan dolar AS secara global akibat kebijakan The Fed atau bank sentral AS yang menahan suku bunga acuan di level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
"Kalau rupiah melemah, faktor utamanya adalah penguatan dolar AS secara global akibat kebijakan The Fed yang masih higher for longer. Di samping itu, ada demand valas korporasi domestik yang tinggi untuk repatriasi dividen," kata Josua.