Petugas menangani wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo. (Anadolu Agency)
WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda Darurat Kesehatan Internasional
Willy Haryono • 17 May 2026 08:20
Kinshasa: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC).
Meski demikian, seperti dikutip dari CBC, Minggu, 17 Mei 2026, WHO menegaskan wabah yang disebabkan virus Ebola strain Bundibugyo tersebut belum memenuhi kriteria sebagai pandemi global.
Di Kongo, jumlah korban tewas akibat wabah terbaru itu dilaporkan bertambah menjadi sedikitnya 80 orang di Provinsi Ituri, wilayah timur negara tersebut. Otoritas kesehatan sebelumnya melaporkan 65 kematian dan 246 kasus suspek saat wabah pertama kali diumumkan pada Jumat.
Menteri Kesehatan Kongo Samuel Roger Kamba mengatakan sejauh ini terdapat delapan kasus yang terkonfirmasi laboratorium, termasuk empat kematian.
Hasil pemeriksaan memastikan wabah disebabkan strain Bundibugyo, varian Ebola yang lebih jarang muncul dibanding strain Zaire yang selama ini mendominasi wabah di Kongo.
Ini menjadi wabah Ebola ke-17 di Republik Demokratik Kongo sejak virus tersebut pertama kali ditemukan pada 1976.
Ebola merupakan penyakit menular mematikan yang menyebar melalui cairan tubuh seperti darah, muntahan, atau air mani.
Kamba menjelaskan kasus pertama diduga berasal dari seorang perawat yang meninggal di rumah sakit Bunia setelah mengalami gejala demam, pendarahan, muntah, dan lemas parah.
Kasus tersebut diketahui telah terjadi sejak 24 April lalu.
Risiko Penyebaran Lintas Negara
Di Bunia, warga mulai diliputi ketakutan akibat meningkatnya angka kematian. “Setiap hari ada orang meninggal. Dalam sehari kami bisa menguburkan dua hingga tiga orang atau lebih,” ujar warga Bunia, Jean Marc Asimwe.Sementara itu, Uganda juga mengonfirmasi satu kasus Ebola yang disebut sebagai kasus impor dari Kongo. Pasien tersebut meninggal di Rumah Sakit Kibuli Muslim, Kampala, pada 14 Mei sebelum jenazahnya dipulangkan kembali ke Kongo.
Kementerian Kesehatan Uganda menyatakan hingga kini belum ditemukan penularan lokal tambahan.
Africa CDC sebelumnya memperingatkan tingginya risiko penyebaran lintas negara mengingat wilayah terdampak berada dekat perbatasan Uganda dan Sudan Selatan.
Kenya juga meningkatkan kesiapsiagaan dengan membentuk tim respons Ebola dan memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk negara. Pemerintah Kenya menyebut risiko masuknya Ebola ke negara tersebut masih berada pada tingkat moderat.
WHO menyatakan saat ini fokus utama penanganan wabah adalah pengawasan, pelacakan kontak erat, pemeriksaan laboratorium, serta penguatan sistem kesehatan di wilayah terdampak.
Baca juga: Korban Tewas Wabah Ebola di RD Kongo Bertambah Jadi 80 Orang