Devisa Pariwisata Capai USD8,43 Miliar pada semester I 2026

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa. Foto: Metro TV/Alvi.

Devisa Pariwisata Capai USD8,43 Miliar pada semester I 2026

Anggi Tondi Martaon • 19 September 2026 15:53

Jakarta: Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengatakan kontribusi devisa dari sektor pariwisata Indonesia mencapai 8,43 miliar dolar AS pada semester pertama 2026. Hal itu menjadi bukti sektor pariwisata menjadi salah satu penggerak perekonomian Indonesia.

"Ini menunjukkan sektor pariwisata terus menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus sumber devisa negara," kata Ni Luh dikutip dari Antara, Sabtu, 19 September 2026.

Ia mengatakan capaian tersebut melanjutkan pertumbuhan positif sektor pariwisata Indonesia sepanjang 2025. Pada tahun lalu, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta orang. 

Selain itu, Indonesia mencatat sekitar 1,2 miliar perjalanan wisatawan nusantara serta devisa pariwisata sebesar 18,27 miliar dolar AS sepanjang 2025.

Menurut Ni Luh, pertumbuhan tersebut merupakan peluang sekaligus amanah bagi seluruh pemangku kepentingan pariwisata untuk terus mengembangkan sektor tersebut secara lebih berkualitas dan berkelanjutan.

"Pengembangan pariwisata masa depan tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan," ungkap Ni Lu.

Ilustrasi pariwisata Indonesia. Foto: Pexels.

Oleh karena itu, Ni Luh berharap lulusan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga tumbuh menjadi sumber daya manusia yang tangguh, adaptif, berintegritas, serta mampu berkomunikasi dan bekerja di tengah keberagaman budaya.

Ia juga mengingatkan para wisudawan agar membawa nilai-nilai kearifan lokal Sulawesi Selatan dalam menjalankan profesinya, yakni sipakainge, sipakatau, dan sipakalebbi.

"Miliki keberanian untuk menembus batas, terus belajar, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Jadilah bagian dari generasi yang mampu membangun pariwisata Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Ni Luh.

(Anggi Tondi)