Pesawat Cessna 208B Grand Caravan EX dengan nomor registrasi PK-SNL terparkir di Bandara APT Pranoto Samarinda dan siap diterbangkan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 15–19 September 2026 di Kota Samarinda. ANTARA/ HO- Diskominfo Kaltim
BNPB Siapkan Tiga Ton Garam untuk Modifikasi Cuaca di Kaltim
Whisnu Mardiansyah • 17 September 2026 14:01
Samarinda: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Timur (Kaltim) dengan menyiapkan tiga ton natrium klorida (NaCl) atau garam sebagai bahan semai awan. Upaya tersebut dilakukan di tengah kondisi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah.
Tenaga Ahli Kepala BNPB Marsma TNI Albertus Irianto mengatakan keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan menjadi peluang untuk membantu mengurangi dampak asap karhutla sekaligus kondisi kering di sejumlah daerah.
"Kami berharap awan yang berpotensi dapat menurunkan hujan, sehingga kondisi di wilayah terdampak dapat berangsur membaik,” ujar Albertus usai rapat penanganan siaga darurat karhutla dan kekeringan di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda, seperti dilansir Antara, Kamis, 17 September 2026.
Albertus menjelaskan penyemaian awan telah dilakukan di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara pada Rabu, 16 September 2026, pukul 08.20-10.20 Wita.
Operasi kemudian dilanjutkan ke wilayah Kutai Timur dan Kota Samarinda pada pukul 12.02–14.25 Wita. Pada sore hari, sekitar pukul 17.02 Wita, penyemaian awan kembali dilakukan dengan sasaran Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Kabupaten Penajam Paser Utara.
Untuk pelaksanaan OMC pada Kamis, 17 September 2026, BNPB menyiagakan tiga ton NaCl sebagai bahan semai.
Albertus mengatakan pelaksanaan OMC mengacu pada hasil analisis dan prakiraan cuaca. Faktor yang diperhitungkan meliputi potensi pertumbuhan awan serta perkiraan akumulasi curah hujan dengan kategori ringan hingga sedang di sejumlah wilayah.
Hasil pemantauan meteorologi menunjukkan potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Kaltim berada pada kategori sedang hingga tinggi, dengan peluang sekitar 50–70 persen.
Meski demikian, pelaksanaan modifikasi cuaca tetap membutuhkan pemantauan kondisi atmosfer dan titik panas secara berkelanjutan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan terjadi peningkatan karhutla akibat kondisi cuaca kering ekstrem di sejumlah wilayah. Kawasan lahan gambut menjadi salah satu area yang membutuhkan penanganan khusus.

Ilustrasi: Asap akibat karhutla di Kelurahan Sepan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim pada 19 Agustus 2026 (Antara/ HO- BPBD PPU
"Penanganan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran terjadi, tetapi juga melalui pemantauan, pencegahan, dan kesiapsiagaan. Kami terus mengoptimalkan personel dan koordinasi lintas instansi agar titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran besar," ucapnya.
Sebaran asap dari karhutla turut berdampak pada kualitas udara di ibu kota provinsi.
Kepala Laboratorium Kesehatan Kaltim Muhammad Yunus mengonfirmasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Samarinda telah masuk kategori Tidak Sehat dengan parameter kritis PM2,5.
"Berdasarkan pola pemantauan, kualitas udara diperkirakan masih dapat memburuk pada malam hingga dini hari akibat fenomena inversi suhu yang menjebak polutan asap karhutla di permukaan udara. Kami mengimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan," kata Yunus.
Sekolah Beralih ke PJJ
Menanggapi kondisi kualitas udara tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim menerapkan kebijakan darurat berupa pengalihan kegiatan belajar mengajar dari tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring.
Kebijakan belajar dari rumah diberlakukan di sejumlah wilayah terdampak asap, termasuk Kota Samarinda. Pelaksanaannya dijadwalkan berlangsung pada 17–19 September 2026. Plt Kepala Disdikbud Kaltim Armin mengatakan kebijakan tersebut ditempuh dengan mengutamakan keselamatan siswa.
"Kami meminta Kepala Satuan Pendidikan agar berkoordinasi langsung dengan orang tua atau wali murid untuk melakukan pengawasan penuh selama pembelajaran secara daring dilaksanakan demi menghindari risiko gangguan pernapasan atau ISPA pada anak-anak," jelas Armin.
Pelaksanaan OMC diharapkan dapat meningkatkan peluang turunnya hujan, terutama di wilayah Kaltim yang masih menghadapi kondisi kering dan terdampak asap karhutla.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan bersama untuk mengurangi dampak karhutla, menjaga keselamatan masyarakat, serta menghadapi kondisi bencana hidrometeorologi di Kaltim.