Komentar FIFA soal Visa AS di Piala Dunia 2026 Dibandingkan dengan Kasus Indonesia

Presiden FIFA Gianni Infantino. (Anadolu Agency)

Komentar FIFA soal Visa AS di Piala Dunia 2026 Dibandingkan dengan Kasus Indonesia

Willy Haryono • 14 June 2026 10:42

Jakarta: Pernyataan Presiden FIFA Gianni Infantino terkait kontroversi visa di ajang Piala Dunia 2026 menuai perdebatan di media sosial.

Sejumlah warganet membandingkan respons FIFA saat ini dengan tindakan organisasi tersebut terhadap Indonesia pada 2023 ketika menolak kehadiran tim nasional Israel di Piala Dunia U-20.

Dalam konferensi pers di Meksiko pada 10 Juni lalu, Infantino menegaskan bahwa FIFA tidak memiliki kewenangan untuk mengatur kebijakan imigrasi suatu negara. Ia meminta publik untuk menghormati keputusan yang diambil pemerintah terkait pemberian visa.

“Hormati keputusan yang telah diambil,” kata Infantino dalam unggahan video di laman Instagram Arab News, Sabtu, 13 Juni 2026, menanggapi kontroversi visa yang melibatkan sejumlah individu terkait Piala Dunia 2026.

Ia menegaskan bahwa urusan imigrasi berada di tangan negara berdaulat, bukan FIFA.

Kontroversi muncul setelah beberapa pihak terkait Piala Dunia dilaporkan menghadapi kendala masuk ke Amerika Serikat. Salah satu kasus yang mendapat perhatian adalah wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang tidak diizinkan memasuki AS meski telah memiliki visa yang sah.

FIFA menyesalkan situasi tersebut, tetapi menekankan bahwa keputusan akhir berada di tangan otoritas pemerintah AS.

Pernyataan Infantino kemudian memicu perbandingan dengan keputusan FIFA terhadap Indonesia pada 2023. Saat itu, Indonesia kehilangan status sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 setelah muncul penolakan terhadap keikutsertaan tim Israel.

FIFA kemudian mencabut hak tuan rumah Indonesia dan menjatuhkan sanksi administratif berupa denda kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Di media sosial, sejumlah pengguna mempertanyakan perbedaan pendekatan FIFA dalam dua kasus tersebut. Mereka menilai FIFA saat ini cenderung menghormati keputusan pemerintah AS terkait visa, sementara pada kasus Indonesia tidak seperti itu, dan malah mencabut hak tuan rumah turnamen.

Baca juga:  Narasi Hak Asasi Manusia FIFA Runtuh saat Trump Campuri Piala Dunia 2026

(Willy Haryono)