Trump Kecam Kanselir Jerman karena Kritik Perang Lawan Iran

Kanselir Jerman, Friedrich Merz kritik Trump karena tak jelas akhir perang Iran. Foto: Anadolu

Trump Kecam Kanselir Jerman karena Kritik Perang Lawan Iran

Fajar Nugraha • 29 April 2026 06:49

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecam Kanselir Jerman Friedrich Merz atas kritiknya terhadap perang AS-Israel melawan Iran.

Trump menekankan bahwa konflik tersebut diperlukan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.

Komentar Trump pada Selasa mencerminkan kekecewaannya yang sering diungkapkan terhadap sekutu Eropa dan NATO atas keengganan mereka untuk sepenuhnya mendukung perang atau ikut serta di dalamnya.

“Kanselir Jerman, Friedrich Merz, berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir. Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan! Jika Iran memiliki senjata nuklir, seluruh dunia akan menjadi sandera,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di media sosial, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu 29 April 2026.

“Saya sedang melakukan sesuatu dengan Iran, saat ini, yang seharusnya dilakukan oleh negara atau presiden lain sejak lama. Tidak heran Jerman begitu buruk, baik secara ekonomi maupun lainnya!,” ujar Trump.


Meskipun Jerman telah menjadi salah satu sekutu paling setia AS dan Israel, Merz memberikan penilaian yang blak-blakan tentang perang melawan Iran, menyebut kampanye militer itu "tidak dipikirkan matang-matang".

“Masalah dengan konflik seperti ini selalu Anda tidak hanya harus masuk – Anda juga harus keluar lagi. Kita melihat itu dengan sangat menyakitkan di Afghanistan selama 20 tahun. Kita melihatnya di Irak,” kata Merz.

Pemimpin Jerman itu juga menyatakan bahwa Washington sedang "dipermalukan" oleh taktik negosiasi Teheran karena Iran menolak untuk mengirim delegasi untuk bertemu dengan pejabat AS sebelum blokade di pelabuhannya dicabut.

Kritik Merz merupakan penyimpangan tajam dari kebijakan pro-Israelnya yang agresif. Ketika militer Israel mulai membombardir Iran tanpa provokasi tahun lalu, kanselir Jerman mengatakan Israel "melakukan pekerjaan kotor untuk kita semua".

Jerman telah menjadi salah satu pemasok senjata terbesar untuk Israel.

Namun, perang AS-Israel saat ini melawan Iran telah menyebabkan harga minyak melonjak pada saat Jerman dan negara-negara Eropa lainnya masih terpuruk akibat krisis ekonomi yang dipicu oleh pandemi COVID-19 dan invasi Rusia ke Ukraina.

Sejak awal perang, Trump telah mengeluh tentang sekutu-sekutu Eropa atas penolakan mereka untuk berpartisipasi langsung dalam konflik atau membantu membuka kembali Selat Hormuz secara paksa.

Ketika Merz mengunjungi Gedung Putih bulan lalu, Trump mengancam akan memutus perdagangan dengan Spanyol karena sikapnya yang menentang perang. Merz tetap diam ketika Presiden AS mencela negara Uni Eropa tersebut, dan Trump kemudian memuji Jerman selama pertemuan itu.

“Mereka adalah negara yang dihormati. Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan negara itu – khususnya sekarang, dengan pemimpin ini,” tegas Trump.

Presiden AS berpendapat bahwa perang dengan Iran bertujuan untuk mencegah negara itu memperoleh senjata nuklir. Tetapi kepala intelijen Trump sendiri, Tulsi Gabbard, mengatakan kepada Kongres tahun lalu bahwa Teheran tidak sedang membangunnya.

Beberapa bulan sebelum Israel dan AS mulai membom Iran lagi pada 28 Februari, Trump berulang kali mengatakan bahwa serangan AS pada Juni 2025 terhadap fasilitas Iran "menghancurkan" program nuklir Teheran.

Minggu lalu, Kementerian Luar Negeri AS merilis justifikasi hukum untuk perang tersebut, dengan mengatakan bahwa Washington "terlibat dalam konflik ini atas permintaan dan untuk membela diri secara kolektif sekutunya, Israel, serta dalam menjalankan hak inheren Amerika Serikat untuk membela diri".

Namun Trump bersikeras bahwa Israel tidak membujuknya untuk melancarkan perang tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)