Ilustrasi, warga penerima mengangkat bantuan beras. Foto: MI/Ramdani.
Bapanas Siapkan 2.880 Paket Bantuan Beras untuk 960 Keluarga Rentan Stunting
Husen Miftahudin • 1 August 2026 15:57
Jakarta: Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan 2.880 paket bantuan beras fortifikasi dan biofortifikasi yang akan disalurkan kepada 960 kepala keluarga (KK) pada 2026. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat sekaligus mendukung percepatan penurunan prevalensi stunting di Indonesia.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengatakan setiap keluarga penerima akan memperoleh 15 kilogram beras fortifikasi dan biofortifikasi dalam tiga tahap penyaluran. "Ini (beras fortifikasi) harus bisa untuk saudara kita yang kekurangan gizi, untuk orang miskin, yang kekurangan gizi, dan yang stunting," kata Amran seperti dikutip dari Antara, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Dengan skema tersebut, total bantuan yang akan disalurkan mencapai 2.880 paket bagi 960 keluarga penerima manfaat. Diketahui, program bantuan beras fortifikasi dan biofortifikasi pertama kali dijalankan pada 2025.
Saat itu, sebanyak 648 kepala keluarga menerima bantuan beras khusus sebanyak 15 kilogram dalam tiga kali penyaluran yang bersumber dari Bapanas. Bantuan tersebut tidak menggunakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog.
Selanjutnya, tiga kali penyaluran tambahan dilakukan melalui dukungan Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia. Program tersebut juga mendapat dukungan dari Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) dan Dompet Dhuafa.
Selama tiga bulan pelaksanaan pada 2025, total 29.160 kilogram beras fortifikasi dan biofortifikasi telah didistribusikan kepada 648 keluarga atau setara 1.944 paket bantuan.
Diperkaya vitamin dan mineral
Bapanas memastikan beras yang disalurkan mengandung berbagai mikronutrien, antara lain vitamin A, vitamin B1, B2, B3, B6, B12, asam folat, zat besi, dan seng (zinc).
Kandungan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan status gizi masyarakat, terutama bagi ibu hamil, anak di bawah usia dua tahun, serta balita yang tergolong rentan mengalami kekurangan gizi.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mengatasi beban gizi ganda (triple burden of malnutrition) yang meliputi stunting, obesitas, dan kekurangan zat gizi mikro.

(Ilustrasi. Foto: dok Media Indonesia)
Berbeda dengan bantuan beras Bulog
Bapanas menegaskan program bantuan beras fortifikasi dan biofortifikasi berbeda dengan program bantuan pangan beras yang disalurkan Perum Bulog. Dalam program ini, beras yang digunakan tidak berasal dari stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP), melainkan disiapkan secara khusus sesuai standar kandungan gizi.
Beras fortifikasi juga telah ditetapkan sebagai salah satu indikator prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Amran kembali menegaskan produk beras fortifikasi semestinya dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang mengalami kekurangan gizi dan stunting, bukan dijual dengan harga yang dinilai tidak wajar.
"Ini ada yang dijual Rp20.000 sampai Rp42.000. Adil enggak saya tanya? Ini kan bisa diperuntukkan untuk saudara kita yang ada stunting. Stunting kita berapa? 21 persen, diperuntukkan untuk ini. Ini betul-betul seenaknya. Nanti Satgas Pangan kerja (untuk penindakan)," tegas Amran.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul temuan Bapanas terkait beras fortifikasi yang tidak memenuhi ketentuan dan dijual dengan harga tinggi. Bapanas menyatakan telah berkoordinasi dengan Satgas Pangan Polri untuk menindaklanjuti temuan tersebut.