PBB minta ketegangan bisa diredakan di wilayah konflik Yaman. Foto: Anadolu
PBB Desak Deeskalasi setelah Korban Sipil di Yaman Terus Bertambah
Muhammad Reyhansyah • 18 August 2026 12:05
New York: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak seluruh pihak yang terlibat dalam konflik Yaman segera meredakan ketegangan setelah meningkatnya serangan yang menimbulkan korban sipil dalam beberapa pekan terakhir.
Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk mengatakan sedikitnya 17 korban sipil akibat serangan kelompok Houthi telah dilaporkan di wilayah yang dikuasai pemerintah sejak 6 Agustus. Sementara itu, dua korban tercatat di wilayah yang dikuasai Ansar Allah pada akhir Juli.
"Saya menyerukan kepada semua pihak untuk meredakan ketegangan dan menyelamatkan rakyat Yaman dari penderitaan lebih lanjut," kata Turk, dikutip dari Anadolu, Selasa, 18 Agustus 2026.
Pada 7 Agustus, sebuah rudal Houthi menghantam kamp pengungsi internal di Jaw al-Naseem, Marib, dan melukai enam warga sipil, termasuk seorang anak.
Dua hari kemudian, serangan rudal dan drone terhadap Pelabuhan Al-Mokha di Provinsi Taiz menewaskan tiga pekerja pelabuhan dan melukai empat lainnya. Kantor HAM PBB juga tengah memverifikasi laporan serangan lanjutan terhadap pelabuhan tersebut pada 14 dan 15 Agustus yang diduga menimbulkan korban sipil.
Serangan terhadap sebuah kapal kargo di Selat Bab el-Mandeb pada 11 Agustus juga dilaporkan menewaskan empat awak kapal, terdiri atas tiga warga Pakistan dan satu warga Indonesia, serta melukai sejumlah lainnya.
PBB turut menerima laporan mengenai serangan terhadap sejumlah fasilitas sipil, termasuk tempat penyimpanan bahan bakar dan kompleks permukiman di Rumah Sakit Lapangan Saudi di Mokha.
Turk mengingatkan seluruh pihak untuk mematuhi hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia, serta menghentikan serangan terhadap warga dan fasilitas sipil.
"Serangan-serangan ini harus segera dihentikan," tegas Turk.
Menurut PBB, sedikitnya 18 juta orang di Yaman saat ini menghadapi kerawanan pangan. Turk memperingatkan serangan terhadap infrastruktur sipil berisiko semakin memperburuk kondisi kemanusiaan dan mendorong Yaman kembali ke konflik berskala penuh.