Iran Sebut Jadwal Perundingan Lanjutan dengan AS Masih Dikaji

Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani. (Anadolu Agency)

Iran Sebut Jadwal Perundingan Lanjutan dengan AS Masih Dikaji

Muhammad Reyhansyah • 11 February 2026 19:12

Teheran: Pejabat keamanan tertinggi Iran menyatakan bahwa tanggal untuk putaran berikutnya perundingan dengan Amerika Serikat (AS) masih dalam tahap peninjauan dan akan diumumkan kemudian.

Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan kepada stasiun televisi milik pemerintah Al-Alam bahwa pembicaraan terbaru dengan Washington berlangsung “relatif baik.” Ia mengisyaratkan bahwa pihak AS tampak berminat untuk mendorong dialog menuju solusi yang dianggap tepat.

Namun, ia menekankan bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan mengenai arah keseluruhan negosiasi hanya dari satu pertemuan.

“Seseorang tidak dapat menilai negosiasi hanya dari satu putaran saja, dan kita harus mengikuti kelanjutannya,” ujarnya, seperti dikutip Anadolu, Rabu, 11 Februari 2026.

Sehari sebelumnya, dalam wawancara dengan Oman TV saat berkunjung ke Muscat, Larijani menyampaikan bahwa pihak AS telah menyimpulkan bahwa perundingan yang sedang berlangsung sebaiknya dibatasi pada isu nuklir dan tidak diperluas ke persoalan lain.

Ia menilai peluang keberhasilan akan lebih besar jika fokus tersebut dipertahankan.

“Jika kekhawatiran Amerika adalah agar Iran tidak bergerak menuju kepemilikan senjata nuklir, itu adalah sesuatu yang bisa diselesaikan. Namun memasukkan isu-isu di luar itu ke dalam negosiasi akan memperumit jalannya,” katanya.

Larijani juga menyebut bahwa Washington kini mengambil pendekatan yang lebih realistis.

“Sebelumnya, mereka mengaitkan isu militer dan rudal dengan berkas nuklir. Sekarang mereka hanya berbicara tentang berkas nuklir, yang merupakan pendekatan rasional. Isu militer tidak memiliki hubungan dengan berkas nuklir.”

Ketegangan Regional dan Perbedaan Tuntutan

Larijani menambahkan bahwa Amerika Serikat seharusnya tidak membiarkan Israel memengaruhi arah perundingan sesuai dengan kepentingannya sendiri, karena langkah semacam itu pada akhirnya dapat merugikan kepentingan AS.

Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pertemuan yang dijadwalkan berlangsung Rabu malam antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan media Israel.

Sebelum meninggalkan Tel Aviv, Netanyahu mengatakan bahwa dalam kunjungannya yang dijadwalkan hingga Kamis ia akan membahas “Gaza, kawasan ini, dan yang pertama dan terutama negosiasi dengan Iran.”

Pada Jumat lalu, perundingan tidak langsung antara Iran dan AS digelar di Muscat di tengah meningkatnya ketegangan dan laporan mengenai penambahan kekuatan militer AS di kawasan. Trump kemudian menyatakan bahwa pembicaraan baru antara kedua pihak akan berlangsung “awal” pekan depan, tanpa merinci tanggalnya.

Teheran menuduh pemerintahan AS dan Israel menciptakan dalih untuk intervensi militer dan perubahan rezim, serta menegaskan akan merespons setiap serangan, termasuk yang berskala terbatas. Para pejabat Iran juga menegaskan bahwa pencabutan sanksi harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan pembatasan program nuklir negara tersebut.

Isu pengayaan uranium tetap menjadi titik perselisihan utama. Iran menuntut penghapusan sanksi ekonomi Barat sebagai imbalan atas pembatasan aktivitas nuklirnya guna mencegah pengembangan senjata nuklir. Sementara itu, AS meminta Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium dan memindahkan cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi ke luar negeri.

Washington juga berupaya memperluas cakupan pembicaraan agar mencakup program rudal balistik Iran serta dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan. Namun, Teheran berulang kali menegaskan bahwa negosiasi hanya akan membahas program nuklirnya.

Baca juga:  Trump Sebut Kesepakatan dengan Iran Harus Lebih dari Sekadar Isu Nuklir

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)