Purbaya: RI Jauh dari Krisis!

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: dok YouTube Kemenkeu.

Purbaya: RI Jauh dari Krisis!

Insi Nantika Jelita • 27 March 2026 14:59

Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi perekonomian Indonesia masih jauh dari krisis, meskipun situasi global tengah memanas akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ia menilai, sejumlah indikator domestik justru menunjukkan tren positif, termasuk peningkatan konsumsi masyarakat.

Menurut Purbaya, lonjakan konsumsi pada periode Lebaran 2026 terlihat dari meningkatnya mobilitas masyarakat serta tingginya aktivitas belanja di berbagai daerah.

"Siapa yang bilang krisis? Jadi kita jauh dari krisis. Saat Lebaran di mana-mana macet. Di semua tempat pada belanja. Artinya daya beli ada," ujar Purbaya di Jakarta, Jumat, 27 Maret 2026.
 

Indikator ekonomi jadi acuan


Ia mengeklaim, berdasarkan berbagai indikator ekonomi, Indonesia saat ini justru tengah mengalami percepatan pertumbuhan, sekaligus mampu memitigasi dampak kenaikan harga minyak dunia melalui instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut dia, indikator yang ada menunjukkan pergerakan ekonomi yang semakin cepat, sementara tekanan harga minyak global dapat diserap melalui APBN. Dengan kondisi tersebut, ia menegaskan Indonesia masih jauh dari krisis dan justru terus berada dalam tren ekspansi.

"Kalau lihat dari indikator-indikator yang ada, kita memang sedang bergerak lebih cepat. Jadi, kita lumayan tuh bisa memitigasi harga minyak dunia yang tinggi. Kita jauh dari krisis, kita malah ekspansi terus," ucap bendahara negara.

Menkeu menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan, apalagi resesi. Sebaliknya, perekonomian nasional disebutnya tengah berada dalam fase akselerasi.


Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Khairunnisa Puteri M.
 

Purbaya menegaskan optimismenya bukan tanpa dasar, melainkan berdasarkan data dan kebijakan yang telah dijalankan pemerintah. Mengacu pada sejumlah survei, seperti survei konsumen, Purchasing Managers’ Index (PMI), hingga data penjualan kendaraan, yang menurutnya menunjukkan tren peningkatan.

"Jadi bukan saya optimis, saya melihat data. Resesi saja belum, melambatnya saja belum. Kita sedang mengalami akselerasi. Dan saya akan jaga terus, kita akan jaga terus bersama ke depannya," tegas Purbaya.

"Kan saya lihat dari data konsumen, survei konsumen, survei PMI, survei pembelian mobil, motor, katanya naik," sambungnya.
 

Belanja negara tepat waktu


Selain itu, pemerintah juga memastikan belanja negara berjalan tepat waktu sekaligus terus berupaya memperbaiki iklim usaha guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Upaya tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan peran kebijakan fiskal dan moneter agar mampu menggerakkan sektor swasta. Dengan langkah tersebut, pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi hingga enam persen bukanlah hal yang sulit untuk dicapai.

"Saya pastikan belanja pemerintahnya tepat waktu. Saya usahakan perbaikan iklim usaha seoptimal mungkin. Tapi, pada dasarnya kalau saya bisa jalankan mesin fiskal dan mesin moneter yang menggerakan swasta, tumbuh enam persen harusnya tidak terlalu sulit. Di atas buku ya," tutur dia.

Meski demikian, menkeu mengakui di lapangan masih diperlukan berbagai dorongan tambahan agar pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung lebih cepat. Namun, ia memastikan fondasi utama penggerak ekonomi sudah berjalan.

"Di lapangan kan kita perlu dorongan-dorongan seperti yang lain-lain supaya lebih cepat lagi. Tapi yang jelas, mesin-mesin (ekonomi) itu sudah kita hidupkan. Jadi hampir pasti kita tidak menuju resesi apalagi krisis," tegas Purbaya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)