Bahlil: Pemerintah Mitigasi Risiko El Nino pada Fasilitas Energi

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: tangkapan layar YouTube Kementerian ESDM.

Bahlil: Pemerintah Mitigasi Risiko El Nino pada Fasilitas Energi

Ade Hapsari Lestarini • 11 September 2026 18:24

Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah telah melakukan mitigasi terhadap risiko El Nino pada sejumlah fasilitas energi, termasuk kilang LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat.

Bahlil mengatakan fenomena El Nino tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor energi.

"Kita tahu El Nino ini berdampak tidak hanya pada sektor pertanian, tapi hampir semua sektor termasuk energi," kata Bahlil, dilansir Antara, Jumat, 11 September 2026.

Menurut Bahlil, sejumlah fasilitas energi di wilayah timur Indonesia telah mendapat penanganan untuk menghadapi dampak kondisi tersebut. Kilang LNG Tangguh menjadi salah satu fasilitas yang disorot karena sempat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitarnya.

"Terutama di BP (pengelola kilang Tangguh) ya, di Tangguh, itu kebakaran dari hutan gambut itu hampir mendekati pusat-pusat tangki-tangki yang ada di sana. Tapi Alhamdulillah semuanya bisa teratasi dengan baik," ujar dia.

Saat ditanya mengenai antisipasi jika El Nino berlangsung lebih panjang, Bahlil mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi.

"Kita sudah mitigasi, ya," ucap dia.


Ilustrasi. Foto: dok MI.
 

 

El Nino masih berada pada kategori sangat kuat


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat El Nino masih berada pada kategori sangat kuat. Pada dasarian III Agustus 2026, anomali suhu muka laut wilayah Nino 3.4 tercatat positif 2,74 derajat Celsius. Sementara itu, rata-rata Juni-Juli-Agustus mencapai positif 2,2 derajat Celsius.

BMKG memprakirakan El Nino masih berpotensi bertahan hingga awal 2027. Kondisi atmosfer yang relatif kering juga membuat risiko karhutla tetap perlu diwaspadai. Pada 10 September 2026, sebaran asap terpantau di sejumlah wilayah, termasuk Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Di Teluk Bintuni, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya memperkuat penanganan karhutla di sekitar Tangguh LNG dengan mengerahkan satu helikopter water bombing.

Hingga 28 Agustus 2026, operasi tersebut telah melakukan 69 kali penyiraman dengan sekitar 69 ribu liter air. BNPB mencatat karhutla di Kabupaten Teluk Bintuni mulai terpantau sejak 22 Agustus 2026.

Setelah operasi pemadaman, dua lokasi yang ditangani tidak lagi menunjukkan kobaran api. Namun, pemantauan tetap dilakukan karena masih terdapat asap tipis dan potensi bara di bawah tutupan vegetasi.

Hingga 28 Agustus 2026, kondisi karhutla di sekitar wilayah operasi Tangguh LNG dinyatakan terkendali. BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait tetap melakukan pemantauan untuk mencegah api kembali meluas.

Tangguh LNG merupakan salah satu fasilitas strategis hulu migas nasional. Setelah beroperasinya Train 3, kapasitas produksi Tangguh LNG mencapai 11,4 juta ton per tahun atau sekitar 35 persen dari produksi LNG nasional.

(Ade Hapsari Lestarini)