Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Bank Jakarta memperluas akses permodalan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Foto: Dok. Istimewa.
Pemprov DKI Perluas Akses Modal Pedagang Pasar Induk Kramat Jati
Fachri Audhia Hafiez • 1 September 2026 17:58
Jakarta: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Bank Jakarta memperluas akses permodalan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Penyediaan fasilitas modal ini menjadi prioritas utama demi menjamin keberlanjutan usaha serta perputaran roda ekonomi kerakyatan di pasar induk.
"Hari ini kita memperluas akses pembiayaan bagi pedagang pasar induk di Kramat Jati ini. Ini penting sekali, karena pedagang membutuhkan kepastian modal kerja untuk menjaga keberlangsungan usaha," ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat menyaksikan penandatanganan Akad Massal Program Pembiayaan Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, dikutip Selasa, 1 September 2026.
Rano optimistis penguatan permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun non-KUR berplafon hingga Rp500 juta ini mampu mendongkrak kapasitas pedagang. Dari total 5.000 pelaku usaha di lokasi tersebut, Bank Jakarta tercatat telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp48 miliar kepada 167 pedagang.
Meski akses permodalan makin terbuka, Rano mengimbau agar penyaluran dana tetap dibarengi penguatan literasi keuangan. Manajemen keuangan yang sehat menjadi kunci utama agar pelaku usaha mampu berkembang secara berkelanjutan.
"Pasti akan ada dialog antara pihak bank dengan pedagang untuk saling membantu manajemen agar usaha lebih berkembang. Mudah-mudahan program ini bisa kita kembangkan di pasar-pasar yang lain," ujar Rano.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Bank Jakarta memperluas akses permodalan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Foto: Dok. Istimewa.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh para pedagang di lapangan, salah satunya Rosmani Sitohang. Pedagang bawang merah yang merintis usaha sejak 2015 ini berhasil melipatgandakan omzetnya setelah mengantongi suntikan modal sebesar Rp108 juta.
"Program pembiayaan pedagang pasar ini sangat membantu untuk mengembangkan usaha saya. Keuntungannya sekarang bisa sampai empat kali lipat," kata Rosmani.
Dampak serupa dialami Ika Tiara, pedagang sembako yang telah memanfaakan fasilitas pembiayaan secara berulang, mulai dari Rp500 juta hingga Rp400 juta. Dana tersebut tak hanya memutar bisnis sembakonya, tetapi juga memberikan kepastian tempat usaha untuk sewa kios jangka panjang hingga 20 tahun ke depan.
"Manfaatnya besar banget bagi pedagang untuk mengembangkan usaha. Sebelumya saya sudah mendapat pembiayaan Rp500 juta, kemudian terakhir Rp400 juta. Usaha saya terus meningkat setelah mendapatkan pembiayaan dari Bank Jakarta," tutur Ika.