FSAI dan Australia Awards Bantu Dorong Lahirnya Film Berkualitas di Indonesia

Pendiri Caravan Studio sekaligus sineas, Chris Lie, saat berbicara di konferensi pers FSAI 2026 di Jakarta, Rabu, 22 April 2026. (Metrotvnews.com / Muhammad Reyhansyah)

FSAI dan Australia Awards Bantu Dorong Lahirnya Film Berkualitas di Indonesia

Muhammad Reyhansyah • 22 April 2026 19:20

FJakarta: Pelaku industri film Indonesia menilai Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) serta program pendidikan seperti Australia Awards berperan penting dalam membantu mendorong lahirnya film berkualitas di Tanah Air.

Pendiri Caravan Studio sekaligus sineas, Chris Lie, mengatakan bahwa konsistensi penyelenggaraan FSAI selama lebih dari satu dekade mencerminkan komitmen kuat dalam membangun hubungan industri perfilman antara Australia dan Indonesia.

“FSAI yang ke-11 ini menunjukkan komitmen yang konsisten dari pemerintah Australia dalam mengelola hubungan antara industri perfilman Australia dan Indonesia,” ujar Chris dalam konferensi pers FSAI 2026 di CGV Pacific Place Mall, Rabu, 22 April 2026.

Menurutnya, kolaborasi tersebut telah melahirkan banyak sineas Indonesia dengan karya berkualitas, terutama dari kalangan alumni program pendidikan di Australia.

“Hingga saat ini telah banyak film berkualitas di Indonesia yang lahir dari sineas alumni Australia. Dengan adanya FSAI dan Australia Awards, saya yakin akan lebih banyak lagi karya bermutu yang dihasilkan di Indonesia,” katanya.

Film Animasi 'Jumbo'

Chris mencontohkan keberhasilan film animasi Jumbo yang menjadi salah satu film terlaris di Indonesia pada 2025 dengan capaian sekitar 10 juta penonton.

“Jumbo membuka mata banyak orang mengenai potensi film animasi di Indonesia yang sebelumnya belum banyak disadari,” ujarnya.

Dalam film tersebut, Chris berperan sebagai art supervisor yang bertanggung jawab atas pengembangan visual, mulai dari karakter hingga desain latar.

Ia juga membagikan pengalamannya mengikuti program Australia Awards di Griffith Film School, yang memberinya wawasan baru terkait teknik produksi, sistem pendanaan, hingga kebijakan pemerintah dalam mendukung industri film.

“Saya belajar banyak tentang teknik, funding, dan bagaimana pemerintah Australia membangun ekosistem perfilman,” katanya.

Chris menilai pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk mengembangkan karya di Indonesia sekaligus mendorong kolaborasi lintas negara yang lebih luas.

Ia juga menyambut positif penayangan film “Jumbo” dalam FSAI 2026 yang dinilai dapat memperluas jangkauan penonton, termasuk anak-anak.

“Ini membuka ruang bagi lebih banyak penonton untuk mengenal film ini, sekaligus mengenal FSAI,” ujar Chris.

Baca juga:  FSAI 2026 Jadi Ajang Penguatan Ekosistem Film Indonesia-Australia

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)