Presiden Prabowo Subianto pidato di Eastern Economic Forum (EEF) di Rusia. Foto: BPMI Setpres
Pidato di Hadapan Putin, Prabowo Selipkan Peribahasa Rusia
Fajar Nugraha • 3 September 2026 19:25
Vladivostok: Presiden Prabowo Subianto sebagai tamu utama Eastern Economy Forum (EEF) di Vladivostok, Rusia dan memberikan pidatonya pada 3 September 2026.
Ada yang menarik ketika Presiden Prabowo memberikan pidatonya. Saat itu dia menyelipkan peribahasa Rusia yang ditanggapi dengan senyuman oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Indonesia mengenang dukungan dari Uni Soviet pada masa-masa awal republik kami yang masih muda. Kami mengingat sejarah itu dan tidak pernah melupakan sahabat-sahabat kami. Namun, persahabatan tidak bisa hanya hidup dalam sejarah,” ujar Presiden Prabowo, dikutip dari Viory.
“Generasi kita harus memiliki keberanian untuk menulis babak baru,” ujar Presiden.
Mari kita berdiri setara, mari kita mandiri, mari kita bekerja sama demi kemaslahatan kedua negara, dan mari kita dinilai berdasarkan apa yang dapat dihasilkan oleh upaya kita bagi rakyat kita. Perdamaian tidak terpisahkan dari pembangunan.
Kelaparan, pengangguran, ketidakadilan, dan penghinaan adalah benih-benih konflik. Kawasan Timur Jauh yang menyediakan peluang, negara-negara yang mampu memberi makan anak-anaknya, serta Asia-Pasifik yang melakukan perdagangan secara terbuka merupakan kontribusi nyata dan langgeng bagi perdamaian.
Kedaulatan memungkinkan terciptanya perdamaian, perdamaian memungkinkan pembangunan, dan pembangunan yang bermanfaat bagi rakyat membuat perdamaian itu bertahan lama.
Itulah sebabnya tema forum ini bukan sekadar slogan ekonomi. Ini sesungguhnya adalah sebuah doktrin keamanan.
“Saya memahami bahwa rakyat Rusia memiliki sebuah pepatah. ‘Tidak ada kemenangan jika kita berjuang sendirian’. Di Indonesia, kami memiliki pepatah yang sama. Kami menyebutnya Gotong Royong,” sebut Presiden saat membacakan peribahasa itu.
Presiden Prabowo menambahkan, beban seberat apa pun akan terasa ringan jika dipikul bersama. Kita memiliki bahasa yang berbeda, namun kita memiliki kearifan kuno yang sama dari para leluhur kita. Segala hal yang kita bahas hari ini, mulai dari pos tarif dalam perjanjian perdagangan bebas (FTA), koridor transportasi, sistem pembayaran, hingga proyek-proyek industri, semuanya ada demi satu tujuan,” sebutnya.
“Agar seorang nelayan di Indonesia dan seorang pembuat kapal di Rusia sama-sama dapat menatap anak-anak mereka dan meyakini bahwa hari esok akan lebih baik daripada hari ini,” kata Presiden.
Menurut Presiden, generasi muda kedua negara tidak akan bertanya termasuk dalam blok yang mana. Mereka akan bertanya apa yang telah dibangun demi masa depan mereka.