ANTARA/HO-Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG
Lereng di Malut Masih Labil Pascagempa, Warga Diminta Hindari Bangunan Rusak
Lukman Diah Sari • 9 April 2026 13:50
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan warga di Maluku Utara dan wilayah sekitarnya yang terdampak gempa untuk menghindari bangunan rusak. Imbauan tersebut untuk mencegah risiko runtuhan akibat gempa susulan
"Tetap waspada namun tidak panik, serta menjauhi bangunan yang mengalami retakan signifikan atau kerusakan struktur," kata Pelaksana Tugas Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, di Jakarta, Kamis, 9 April 2026, melansir Antara.
Dia mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di area lereng perbukitan yang rawan longsor. Lantaran, kondisi tanah yang masih labil pascagempa.
"Jadi wajib menjauhi area lereng perbukitan yang rawan longsor akibat ketidakstabilan tanah pasca-gempa," jelas dia.
Sebelumnya, gempa bumi magnitudo 7,6 mengguncang wilayah barat daya Pulau Batang Dua, Ternate, pada Kamis, 2 April 2026, dan dirasakan di sejumlah daerah seperti Ternate, Manado, dan Gorontalo dengan intensitas yang bervariasi. BMKG mencatat gelombang tsunami sempat terdeteksi di beberapa wilayah pesisir, antara lain di Halmahera Barat setinggi 0,30 meter, Bitung 0,20 meter, serta Minahasa Utara mencapai 0,75 meter.
Data harian menunjukkan tren penurunan jumlah gempa susulan, dari 394 kejadian pada hari pertama menjadi 91 kejadian pada hari keenam, dan 63 kejadian pada hari ketujuh ini. Atas peristiwa tersebut dilaporkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakibatkan satu orang meninggal di Kota Manado, dan satu orang luka ringan.
Kemudian, 16 keluarga terdampak di Kabupaten Minahasa. Selain korban jiwa, gempa tektonik ini juga menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah, termasuk di Kota Manado, Kabupaten Minahasa, dan Kota Ternate.