Pembangunan Huntara untuk Korban Gempa Sigi Dimulai Hari Ini

Tim gabungan melakukan pembukaan bendung alami yang terbentuk akibat gempabumi di kawasan Gunung Nokilalaki yang mengarah ke Sungai Kamarora, Selasa, 23 Juni 2026. Dokumentasi/ BNPB

Pembangunan Huntara untuk Korban Gempa Sigi Dimulai Hari Ini

Silvana Febiari • 24 June 2026 14:44

Sigi: Upaya penanganan darurat pasca-gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terus menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak mulai dilaksanakan melalui peletakan batu pertama di Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki.

"Pembangunan huntara tahap pertama tersebut menjadi langkah penting dalam percepatan pemulihan masyarakat terdampak," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Rabu, 24 Juni 2026. 

Berdasarkan data yang telah diverifikasi dan divalidasi, Bupati Sigi telah menetapkan Surat Keputusan Berita Acara Nama dan Alamat (By Name By Address-BNBA) penerima bantuan huntara tahap I sebanyak 50 unit rumah. Sementara proses verifikasi dan validasi penerima bantuan untuk tahap berikutnya masih terus berlangsung. 
 


"Selain pembangunan hunian sementara, berbagai upaya penanganan darurat terus dilakukan oleh pemerintah bersama BNPB, BPBD, TNI, Polri, serta unsur terkait lainnya," tambah Abdul. 

Abdul menjelaskan, perbaikan infrastruktur darurat berupa pemasangan bronjong dan perbaikan jaringan air bersih di Kecamatan Nokilalaki juga mulai dilaksanakan dengan dukungan pendanaan dari PUM Sulawesi Tengah.

Di sektor mitigasi risiko, tim gabungan juga melakukan pembukaan bendung alami yang terbentuk akibat gempa bumi di kawasan Gunung Nokilalaki yang mengarah ke Sungai Kamarora. Kegiatan dilakukan menggunakan jet water untuk membuka material kayu dan bebatuan yang menyumbat aliran sungai. 

Langkah ini bertujuan mengurangi penumpukan air dan meminimalkan potensi banjir bandang maupun aliran material saat hujan. Hal ini juga sesuai arahan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat meninjau langsung lokasi terdampak, Jumat, 19 Juni 2026. 

“Masalah potensi banjir bandang, itu jangan dilupakan. Kalau kemudian hujan lalu air tertahan oleh material longsoran di atas, kemudian bisa terjadi banjir bandang nanti muncul korban baru. Kita sudah sepakat akan dibersihkan material longsornya menggunakan pompa alkon dan peralatan lainnya. BNPB nanti akan bantu operasionalnya,” jelas Suharyanto.


Tim gabungan melakukan pembukaan bendung alami yang terbentuk akibat gempabumi di kawasan Gunung Nokilalaki yang mengarah ke Sungai Kamarora, Selasa, 23 Juni 2026. Dokumentasi/ BNPB

Di samping itu, pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak masih berlangsung dan siaga di posko-posko kesehatan. Sementara itu, kebutuhan logistik dasar masyarakat tetap terpenuhi. Ketersediaan logistik makanan dipastikan mencukupi hingga berakhirnya masa tanggap darurat pada 30 Juni 2026 berkat dukungan berbagai pihak.

Tim gabungan juga terus memantau kondisi pengungsian mandiri warga serta menyalurkan bantuan kebutuhan dasar. Tempat ibadah yang terdampak gempa telah difasilitasi dengan tenda darurat dan telah digunakan kembali oleh masyarakat untuk beribadah.

Untuk memperkuat dukungan penanganan darurat, BNPB menyalurkan bantuan tahap III yang terdiri atas berbagai peralatan dan logistik. Bantuan tersebut antara lain satu unit mobil dapur umum lapangan, 100 unit handy talky, dan satu unit tenda pengungsi untuk Kodam XXIII/Palaka-Wira. 

Selanjutnya, Korem 132/Tadulako menerima satu unit mobil dapur umum lapangan, dua unit motor trail beserta pompa alkon, serta dua unit tenda pengungsi. BPBD Provinsi Sulawesi Tengah menerima 300 paket sembako, 200 unit tenda keluarga, tiga unit tenda pengungsi, 300 lembar matras, dan 300 lembar selimut.

(Silvana Febiari)