El Nino Berbeda dengan Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

Anomali suhu muka laut Indonesia dasarian II Juni 2026. (Dokumentasi/ BMKG)

El Nino Berbeda dengan Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

Silvana Febiari • 30 June 2026 20:02

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan fenomena El Nino berbeda dengan musim kemarau, meskipun keduanya dapat saling memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia. Penegasan ini disampaikan seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi El Nino kuat pada tahun 2026 yang dapat berdampak luas pada berbagai sektor.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Sementara musim kemarau adalah siklus tahunan yang terjadi secara rutin setiap tahun.

“Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Nino terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau,” ujar Faisal dalam kegiatan Sosialisasi Kesiapsiagaan Dampak El Nino di Jakarta, Senin, 29 Juni 2026. 
 


BMKG mencatat, El Nino 2026 berpotensi kuat dengan peluang mencapai 98 persen dan diperkirakan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan. Namun, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode tersebut.

Menurut BMKG, dampak paling signifikan terjadi ketika El Nino bertepatan dengan musim kemarau. Pada kondisi ini, curah hujan dapat turun di bawah normal, terutama di wilayah selatan khatulistiwa.

Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Periode Juli hingga Oktober 2026 diperkirakan menjadi puncak kondisi kering di sejumlah daerah tersebut.

BMKG juga mengingatkan kondisi ini dapat meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara, hingga gangguan kesehatan seperti ISPA. Di sektor pertanian, dampaknya meliputi gangguan pertumbuhan tanaman hingga penurunan produktivitas akibat defisit air.


Pengamatan cuaca. Foto: Istimewa


Untuk itu, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi dampak El Nino. Upaya tersebut mencakup penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi yang efisien, serta pemanfaatan informasi iklim dalam pengambilan keputusan di sektor pertanian, kesehatan, energi, dan lingkungan.

BMKG juga mengimbau pemerintah daerah untuk menyesuaikan strategi mitigasi sesuai karakteristik wilayah masing-masing. Apalagi, Indonesia memiliki 699 Zona Musim (ZOM) dengan kondisi yang berbeda-beda.

Selain itu, penguatan koordinasi lintas sektor dinilai penting untuk mengantisipasi risiko yang lebih luas. Termasuk potensi dampak terhadap inflasi daerah akibat gangguan produksi pangan.

Melalui penguatan informasi iklim dan koordinasi lintas sektor, BMKG berharap berbagai risiko yang ditimbulkan oleh El Nino dapat diantisipasi sejak dini sehingga dampaknya terhadap masyarakat, ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, dan pembangunan daerah dapat diminimalkan.

(Silvana Febiari)