Massa Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) menggelar aksi unjuk rasa solidaritas di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pada Kamis, 8 Januari 2026.
Demo Kedubes AS di Jakarta, Massa Kecam Aksi Penangkapan Presiden Venezuela
Whisnu Mardiansyah • 9 January 2026 13:20
Jakarta: Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) menggelar aksi unjuk rasa solidaritas di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pada Kamis, 8 Januari 2026. Aksi ini mengecam penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS).
Massa aksi yang membawa perangkat seperti mobil komando, bus, sepeda motor, serta berbagai spanduk dan poster, menyuarakan penolakan keras. Beberapa narasi yang tampil antara lain 'Ganyang Trump' dan 'Hari Ini Venezuela, ke Depan Mungkin Indonesia'.
Dalam orasinya, mereka menyebut tindakan AS sebagai bentuk "premanisme global" dan intimidasi militer terhadap kedaulatan Venezuela. Aliansi ini secara tegas mengutuk segala bentuk tindakan sepihak, intimidasi, dan upaya provokasi yang dilakukan pemerintah Amerika.
Korpus PTKIN, Miftahul Rizqi, menyampaikan analisis mendalam dalam pidatonya. Ia menilai tindakan unilateral AS berpotensi melemahkan fondasi tatanan hukum internasional.
"Jika tindakan unilateral ini dibiarkan tanpa perlawanan intelektual dan diplomatik, maka hukum internasional secara de facto telah kehilangan taringnya. Ia berubah menjadi sekadar instrumen bagi yang kuat untuk menindas yang lemah, sebuah ‘hukum rimba’ versi modern yang dibalut dengan dasi dan diplomasi," tegas Rizqi.
Baca Juga :
Trump: Saya Tidak Butuh Hukum Internasional
Rizqi juga menyoroti motif di balik intervensi AS dengan merujuk pada teori Neorealisme Ofensif. Menurutnya, tindakan AS didorong oleh kalkulasi kekuasaan untuk mempertahankan dominasi global, bukan atas dasar moralitas.
"AS bertindak bukan atas dasar moralitas atau hak asasi manusia, melainkan murni kalkulasi kekuasaan untuk mencegah munculnya kekuatan lain yang mengancam kepentingannya," kata dia.
Lebih lanjut, Rizqi menyebut adanya kepentingan ekonomi besar, khususnya terkait cadangan minyak Venezuela yang mencapai sekitar 300 miliar barel. Dominasi energi global disebut sebagai salah satu motif utama intervensi. Ia juga mengingatkan bahwa instabilitas di Venezuela dapat berdampak sistemik pada ekonomi global, termasuk Indonesia, melalui kenaikan harga energi dan inflasi.
"Kami dari aliansi DEMA PTKIN mengutuk keras segala bentuk tindakan premanisme global, intimidasi militer, dan upaya provokasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela," tegas Rizqi.
Sebagai simbol perlawanan, massa aksi melakukan pembakaran foto Presiden Amerika Serikat dan bendera AS. Seluruh rangkaian aksi dilaporkan berjalan aman, tertib, dan kondusif hingga selesai.