Operasional Bandara Sepinggan Balikpapan Tetap Aman di Tengah Kabut Asap

Langit kelabu di atas Bandara Sepinggan, tidak mengganggu jarak pandang. ANTARA/Novi Abdi

Operasional Bandara Sepinggan Balikpapan Tetap Aman di Tengah Kabut Asap

Silvana Febiari • 21 August 2026 00:47

Balikpapan: Operasional Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan dipastikan tetap normal. Meski demikian, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu jarak pandang di tiga bandara regional lainnya di Kalimantan.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Sepinggan Iwan Winaya Mahdardi mengatakan gangguan jarak pandang akibat asap karhutla saat ini terjadi di tiga bandara Regional VI, yaitu Bandara Supadio Pontianak, Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

"Gangguan muncul pada pagi hari ketika asap masih tebal, lalu kembali normal setelah pukul 09.00 waktu setempat," kata Iwan, dilansir dari Antara, Kamis, 20 Agustus 2026. 


Meskipun Bandara Sepinggan terpantau aman, keterlambatan dari bandara lain yang terdampak asap berpotensi mengganggu jadwal penerbangan lanjutan. Oleh karena itu, berbagai langkah antisipasi tetap dilakukan untuk menjaga kelancaran operasional.

Hingga saat ini, belum ada gangguan signifikan maupun pembatalan penerbangan di Bandara Sepinggan akibat asap karhutla. Jarak pandang di kawasan bandara dilaporkan berada di atas batas minimum operasional sehingga seluruh aktivitas penerbangan berlangsung tanpa hambatan.

Bandara Sepinggan memiliki landasan pacu yang menghadap laut dan kawasan sekitar yang relatif bersih dari pembukaan lahan. Kondisi geografis tersebut dinilai turut membantu menjaga stabilitas jarak pandang dibandingkan bandara lain di Kalimantan.

Terkait prosedur keselamatan, batas minimum jarak pandang dalam penerbangan ditentukan berdasarkan aturan terbang yang digunakan.

Untuk penerbangan visual (VFR), jarak pandang minimum umumnya sekitar 5 kilometer. Sementara untuk penerbangan instrumen (IFR), pesawat dapat mendarat pada jarak pandang ratusan meter dengan bantuan alat seperti Runway Visual Range (RVR).

Iwan menekankan penanganan karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Pihak bandara terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) guna mengantisipasi perluasan dampak karhutla pada masyarakat maupun transportasi udara.

Langkah antisipasi sejak dini disiapkan, termasuk menghadapi potensi musim kemarau panjang. Salah satu opsi yang disiapkan pemerintah jika kondisi memburuk adalah rekayasa cuaca melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk meningkatkan peluang hujan dan menekan risiko kebakaran lahan.

Saat ini, pemantauan cuaca dan kualitas udara di Bandara Sepinggan terus dilakukan secara berkala demi menjamin keselamatan operasional penerbangan.

(Silvana Febiari)