Terkendala Cuaca Buruk, Pencarian Korban Tenggelam KM Nurul Salsa Dihentikan

Proses pencarian korban tenggelamnya KM Nurul Salsa di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan. (Istimewa/Muhammad Syawaluddin)

Terkendala Cuaca Buruk, Pencarian Korban Tenggelam KM Nurul Salsa Dihentikan

Lina Herlina • 24 July 2026 15:52

Makassar: Basarnas Makassar mengumumkan operasi pencarian korban tenggelamnya KM Nurul Salsa secara resmi ditutup untuk sementara pada hari ini, Jumat, 24 Juli 2026. Penghentian ini bertepatan dengan masuknya hari kesepuluh masa pencarian.

"Penutupan sementara ini sesuai SOP di mana batas operasi SAR selama 7 hari. Namun, karena ada evaluasi, kami perpanjang tiga hari," kata Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muh Arif Anwar, Jumat, 24 Juli 2026. 

Arif mengungkapkan kondisi cuaca buruk menjadi kendala terbesar yang dihadapi selama operasi berlangsung. Sepanjang pencarian, cuaca tidak pernah bersahabat. Kecepatan angin dari arah timur ke tenggara berkisar 15 hingga 20 knot yang memicu gelombang setinggi tiga meter. Bahkan kapal KN SAR Kamajaya kesulitan bermanuver akibat hantaman ombak besar.

Tim SAR terpaksa menggunakan speedboat untuk mengakses pulau-pulau tak berpenghuni lantaran kapal utama tidak dapat merapat ke dermaga. Meski operasi pencarian dihentikan, Arif menegaskan evakuasi tetap akan dilakukan apabila ada laporan penemuan korban di kemudian hari.

Di sisi lain, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan mengalami kesulitan besar mengenali jasad pria yang ditemukan terapung di perairan Pangkep. Tingkat dekomposisi yang sudah parah membuat upaya pencocokan identitas menjadi sulit.
 


Satu kantong jenazah yang diserahkan Basarnas Makassar kepada tim DVI Polda Sulsel kini menjadi sorotan utama dalam proses pengungkapan peristiwa nahas yang masih menyisakan 14 awak dan penumpang dalam status hilang. Penyerahan dilakukan di Gedung Biddokes Polda Sulsel, Jumat, 24 Juli 2026.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulsel, Kombes Muh Haris, mengakui timnya menghadapi hambatan berat akibat kondisi fisik jenazah yang tidak lagi lengkap.


Tim SAR gabungan saat melakukan pencarian korban tenggelamnya KM Nurul Salsa di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan, Senin, 20 Juli 2026. (Istimewa)


"Nanti kita lihat. Kalau sidik jari lebih utuh, itu bisa lebih cepat. Mungkin profil data giginya sudah ada, termasuk properti, kemudian ciri medis lainnya," ujar Muh Haris.

Haris menjelaskan tim DVI akan mengandalkan tiga cara utama, yaitu pencocokan sidik jari, pemeriksaan rekam gigi, serta identifikasi properti dan tanda-tanda medis korban. Namun, ia belum dapat menentukan lamanya proses ini berlangsung karena tingkat pembusukan yang dialami jasad.

(Whisnu M)