Kick Andy Goes to Campus bersama Founders Arena di Universitas Negeri Jakarta, Kamis, 17 September 2026. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
DSC Dorong Calon Founder Indonesia Siap Uji dan Kembangkan Ide Bisnis
Duta Erlangga • 30 September 2026 10:02
Jakarta: Program Diplomat Success Challenge (DSC) tidak hanya mencari ide bisnis, tetapi juga founder yang memiliki kesiapan untuk menerima kritik, mengakui kesalahan, dan mengembangkan bisnis berdasarkan masukan. Hal tersebut disampaikan oleh Program Initiator Diplomat Success Challenge (DSC) Edric Chandra pada acara Kick Andy Goes to Campus di Universitas Negeri Jakarta, Kamis, 17 September 2026.
.jpg)
Program Initiator Diplomat Success Challenge (DSC) Edric Chandra pada acara Kick Andy Goes to Campus di Universitas Negeri Jakarta, Kamis, 17 September 2026. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
Menurut Edric, karakter founder menjadi salah satu aspek penting dalam membangun bisnis. Sikap terbuka terhadap kritik dan kesediaan mengevaluasi ide dinilai menjadi dasar dalam proses pengembangan usaha.
“Kami merasa bahwa menjadi seorang builder atau pembangun itu tidak banyak. Harapannya melalui program DSC ini sendiri, kita punya kesempatan untuk menemukan talent-talent luar biasa yang bisa menjadi founders of Indonesia, maksudnya membangun Indonesia bersama,” ujar Edric, Kamis, 17 September 2026.
Ia mengatakan seorang founder perlu memiliki mental untuk siap dikritik dan mengakui ketika ide yang dimiliki tidak berjalan sesuai harapan.
“Siap untuk dikritik, yang kedua, siap juga mengakui bahwa ternyata my idea itu salah. Siap juga ketika berproses, konsumen pun memberikan feedback, ini tidak works. Jadi kesiapan untuk salah dan open minded itu menurut kami starting point yang paling dasar,” katanya.
Ide Bisnis melalui Proses Validasi
Edric menjelaskan DSC memberikan ruang bagi peserta untuk mengajukan ide yang ditujukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Peserta dapat mendaftarkan ide melalui platform yang disediakan program.Dalam prosesnya, DSC tidak semata-mata membandingkan satu bisnis dengan bisnis lainnya. Penilaian juga diarahkan pada karakter founder yang menjalankan bisnis tersebut.
“Yang kami bandingkan itu adalah karakter dari founders yang menjalankan bisnisnya. Karena itu lebih penting bagi kami. Amanahnya ada, komitmennya ada, integritasnya ada,” ujar Edric.

Kick Andy Goes to Campus bersama Founders Arena di Universitas Negeri Jakarta, Kamis, 17 September 2026. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
Peserta kemudian menjalani proses validasi dan mendapatkan tantangan untuk mengembangkan ide maupun model bisnis. Evaluasi dapat mencakup model bisnis, target konsumen, hingga aspek legalitas usaha.
“Follow up-nya adalah teman-teman akan di-challenge untuk memperbaiki, mulai dari basis modelnya, memperbaiki, mungkin jangan-jangan revisit consumernya itu salah target audiensnya,” katanya.
Menurut Edric, aspek legalitas juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan pelaku usaha. Ia mencontohkan adanya kemungkinan produk telah dipasarkan, tetapi masih terdapat izin tertentu yang perlu dipenuhi.
Ia menambahkan, tata kelola juga menjadi bagian dari proses membangun bisnis yang berkelanjutan.
“Impact itu bisa didapatkan kalau teman-teman punya governance atau tata kelola yang baik. Nah, proses untuk memahami hal tersebut, itu kita mendampingi,” katanya.
Edric mengatakan pendampingan tersebut kemudian dikembangkan melalui platform pembelajaran dan validasi yang disediakan DSC.
Baca Juga :
Diplomat Success Challenge Ubah Kompetisi Bisnis Jadi Ekosistem Founder, Sediakan Hibah Rp2,5 Miliar
Lulusan DSC Kembangkan Bisnis Makanan Sehat
Salah satu lulusan DSC Season-16, Jonathan Holiyanto, mengatakan pengalamannya mengikuti program tersebut turut memberikan perspektif baru dalam menjalankan bisnis.Jonathan merupakan pendiri Lean Lab, bisnis makanan yang berfokus pada makanan sehat dan nutrisi. Usaha tersebut kini memasuki tahun kelima.

Founder Lean Lab Jonathan Holiyanto pada acara Kick Andy Goes to Campus di Universitas Negeri Jakarta, Kamis, 17 September 2026. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
Ia mengatakan ide bisnis tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya yang pernah mengalami obesitas dan kesulitan menemukan makanan yang dinilai sehat serta memiliki nutrisi yang baik.
“Awalnya dimulai karena aku dulu mantan obesitas dan memang susah banget cari makanan yang sehat, bernutrisi baik. Dari permasalahan itu, aku putuskan untuk coba bikin dari awal, merintis pelan-pelan dan sampai hari ini ada di sini,” ujar Jonathan.
Sebelum membangun bisnis, Jonathan mengatakan dirinya telah melalui berbagai program diet. Pengalaman tersebut membuatnya melihat adanya kebutuhan terhadap pilihan makanan sehat yang lebih mudah diakses.
“Pada saat ada kesempatan untuk bisa membuat usaha, aku putuskan cocok nih, masalah ini real dan pasti bukan cuma aku saja yang merasakan. Dari situlah terbit dan kita putuskan untuk bikin bisnis ini,” katanya.
Jonathan mengatakan saat mengikuti DSC, bisnisnya sudah berjalan. Ia memilih mengikuti program tersebut karena ingin terus belajar dan memperoleh perspektif dari pihak di luar bisnisnya.
“Untuk menjalankan usaha kita harus banyak belajar. Saya memutuskan bahwa kalau kita cuma jalan sendiri pasti ada keterbatasan. Jadi memang setiap satu-dua tahun saya usahakan untuk selalu bisa ikut event, kompetisi, ataupun komunitas untuk bisa terus menambah ilmu,” ujar Jonathan.
Menurut dia, menjalankan bisnis sehari-hari terkadang membuat pelaku usaha terlalu fokus pada aktivitas operasional sehingga sulit melihat kondisi bisnis dari perspektif lain.
“Kadang-kadang kita pada saat menjalankan terlalu fokus operating day to day, kita tidak bisa melihat dari luar. Jadi kadang kita bisa dapat input dari luar itu sangat-sangat membantu,” tuturnya.