Ilustrasi Anadolu
Sindikat Penipuan Daring di India Meluas, Lansia Jadi Sasaran Utama
Fajar Nugraha • 28 October 2026 16:42
Jakarta: Sindikat penipuan daring lintas negara dilaporkan berkembang di India setelah penindakan aparat hukum menekan aktivitas sejumlah pusat penipuan di Asia Tenggara.
Jaringan ini menyasar korban di berbagai negara, terutama warga lanjut usia (lansia), dengan modus penyamaran sebagai petugas perusahaan teknologi hingga aparat pemerintah.
Laporan investigasi The Diplomat yang ditulis Vedant Sharma mengungkapkan, wilayah seperti Jamtara dan Mewat menjadi sorotan karena aktivitas penipuan daring dilaporkan berkembang di tengah kemiskinan dan terbatasnya lapangan kerja.
Kajian Institut Teknologi Kanpur memperkirakan jaringan penipuan daring di India menghasilkan sekitar USD10 miliar per tahun dari korban di seluruh dunia. Sementara itu, penipuan investasi kripto dengan modus pig butchering dilaporkan menimbulkan kerugian sekitar USD3,6 miliar di India pada 2024.
Modus Penipuan Manfaatkan Kepanikan Korban
Pelaku umumnya menghubungi korban melalui telepon dan berpura-pura menjadi petugas Microsoft, Apple, atau aparat pemerintah. Mereka mengarang ancaman, seperti serangan virus, pembobolan rekening, hingga persoalan hukum, untuk membuat korban panik.Korban kemudian diarahkan menyerahkan informasi keuangan, mentransfer uang, menarik tabungan, atau menyerahkan emas kepada seseorang yang mengaku sebagai petugas untuk mengamankan harta mereka
Jaringan tersebut dilaporkan menyasar warga Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada. Di India, sedikitnya 92.000 korban penipuan daring tercatat pada 2024 berdasarkan data yang dikutip dalam laporan.
Kerugian Miliaran Dolar, Aparat Lakukan Penindakan
Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang mengalami kerugian besar. Kerugian akibat penipuan yang dikaitkan dengan jaringan India dilaporkan meningkat dari USD807 juta pada 2022 menjadi USD1,464 miliar pada 2024.FBI pada 2024 dilaporkan menjalankan operasi khusus yang menghasilkan 215 penangkapan terkait jaringan kejahatan daring India. Di Texas, Hitesh Madhubhai Patel dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada Februari 2025 dan diperintahkan membayar ganti rugi USD9 juta. Sementara itu, tiga pusat panggilan di Maryland dilaporkan menipu sekitar 650 korban dengan kerugian mencapai USD48 juta.
Kasus lain melibatkan Jay Sunilbharthi Goswami, warga India berusia 21 tahun yang ditangkap di New Jersey.
Menurut laporan The Hindu pada 22 Agustus 2026, ia diduga berperan sebagai kurir yang mengambil uang dan emas dari korban di New York dan New Jersey. Total nilai barang yang diambil dalam sedikitnya sembilan aksi disebut mencapai USD7,5 juta.
Adapun Roshan Shah, warga India berusia 22 tahun, dijatuhi hukuman empat tahun penjara di AS pada Juli 2026 setelah mengaku bersalah atas konspirasi pencucian uang. Ia dilaporkan menyamar sebagai agen federal dan membantu mengambil uang dari 15 korban dengan nilai total sekitar USD3,7 juta.
Australia juga dilaporkan mengalami kerugian akibat penipuan serupa sebesar USD1,57 miliar pada 2025, sedangkan kerugian penipuan daring di Kanada disebut mencapai USD461 juta. Namun, angka tersebut perlu dibaca sesuai cakupan masing-masing laporan dan tidak seluruhnya otomatis dapat dikaitkan dengan sindikat yang beroperasi dari India.
Kemiskinan dan Kejahatan Lintas Negara Jadi Tantangan
Berkembangnya sindikat penipuan daring di sejumlah wilayah India menyoroti persoalan kemiskinan, keterbatasan pekerjaan, dan perekrutan masyarakat rentan ke dalam aktivitas ilegal. Laporan yang dirujuk juga menyinggung dugaan perlindungan dari sejumlah politisi lokal, yang memerlukan verifikasi lebih lanjut.Kompleksitas jaringan lintas negara membuat pemberantasan kejahatan ini membutuhkan koordinasi antarlembaga untuk melacak pelaku, rekening penampung, kurir, dan aliran dana hasil penipuan.
Lansia Perlu Waspada terhadap Tekanan Psikologis
Di tengah berkembangnya modus penipuan, masyarakat perlu memahami bahwa pelaku kerap mengandalkan rasa takut, urgensi, dan kepercayaan terhadap figur berwenang.Penelepon yang mengaku sebagai petugas bank, teknisi perusahaan teknologi, polisi, petugas pajak, atau agen federal tidak boleh langsung dipercaya hanya berdasarkan identitas yang mereka sampaikan.
Masyarakat sebaiknya tidak memberikan kata sandi, kode OTP, akses jarak jauh ke perangkat, atau informasi keuangan kepada penelepon yang tidak dapat diverifikasi. Permintaan untuk memindahkan uang ke rekening tertentu, menarik uang tunai, atau menyerahkan emas demi alasan keamanan juga patut dicurigai.
Jika menerima panggilan mencurigakan, korban sebaiknya mengakhiri komunikasi dan menghubungi institusi terkait melalui nomor resmi yang dicari secara mandiri. Anggota keluarga juga dapat membantu lansia memeriksa pesan, panggilan, atau permintaan transaksi yang tidak biasa.
Apabila sudah menyerahkan uang atau informasi keuangan, korban perlu segera menghubungi bank atau penyedia layanan pembayaran, mengamankan akun, menyimpan bukti komunikasi, dan melaporkan kejadian kepada aparat berwenang.
Kasus-kasus yang terungkap di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan India memperlihatkan bahwa penipuan daring bukan hanya persoalan kecanggihan teknologi. Kejahatan tersebut juga bertumpu pada manipulasi psikologis dan eksploitasi kepercayaan.
Selama jaringan kriminal masih dapat merekrut pelaksana, memindahkan hasil kejahatan, dan memanfaatkan perbedaan yurisdiksi, pemberantasan penipuan daring akan tetap menjadi tantangan bagi aparat penegak hukum internasional.