BPBD Banyumas Siagakan Personel Hadapi Peralihan Musim

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas Dwi Irawan Sukma. ANTARA/HO-BPBD Banyumas

BPBD Banyumas Siagakan Personel Hadapi Peralihan Musim

Silvana Febiari • 7 October 2026 13:25

Banyumas: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, meningkatkan kesiapsiagaan personel menghadapi masa transisi musim. Musim kemarau diprakirakan mulai beralih ke musim hujan secara bertahap pada November 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas Dwi Irawan Sukma mengatakan kesiapsiagaan akan diperkuat melalui apel siaga yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pada 24 Oktober 2026.

"Kami akan mengadakan apel kesiapsiagaan pada 24 Oktober di kolam retensi. Apel siaga ini akan bersama seluruh stakeholder yang ada," kata Dwi, dilansir dari Antara, Rabu, 7 Oktober 2026. 


Menurutnya, masyarakat perlu waspada terhadap risiko longsor saat hujan mulai turun setelah musim kemarau. Tanah yang kering dan retak dapat menyerap air lebih banyak sehingga meningkatkan kerawanan longsor.

"Ketika sudah mulai masuk musim hujan, tanah-tanah ini sudah mengalami pelapukan dan rekahan-rekahan. Warga khususnya yang bermukim di wilayah lereng perbukitan atau tebing diharapkan waspada karena air bisa masuk ke rekahan tersebut," ungkapnya.

Sejumlah wilayah pegunungan di Kabupaten Banyumas menjadi titik yang perlu mendapat perhatian, antara lain Tambak, Sumpiuh, Kemranjen, Kebasen, Lumbir, Cilongok, Wangon, Ajibarang, Gumelar, dan Karanglewas.

"Yang jelas titik rawan longsor berada di wilayah pegunungan yang memiliki potensi besar khususnya untuk tanah longsor," ujarnya.

Dia mengatakan dampak kekeringan pada musim kemarau 2026 telah melampaui kondisi 2023 yang juga dipengaruhi fenomena El Nino. Hingga saat ini, kekeringan 2026 telah berdampak terhadap 82 desa yang tersebar di 21 kecamatan, sedangkan pada 2023 tercatat 81 desa di 19 kecamatan mengalami kekeringan.

Dampak kekeringan tahun ini masih lebih tinggi dibandingkan 2023. Namun, untuk sementara wilayah terdampak hanya bertambah satu desa.

"Untuk perbandingan, dampaknya masih tinggi yang tahun ini," ucapnya.


Ilustrasi hujan deras. (Medcom.id)


Terkait hal itu, pihaknya masih menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan. Bahkan, penyaluran bantuan air bersih tetap disiapkan apabila hujan yang turun belum mampu mengisi kembali sumber-sumber air masyarakat.

"Kami memperkirakan kalau hujan ke depan hanya turun tetapi belum mengisi sumber air, kami tetap siap untuk menyiapkan bantuan," tuturnya.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), awal musim hujan 2026/2027 di Jawa Tengah umumnya berlangsung pada November hingga Desember. Kondisi tersebut membuat BPBD Banyumas meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, terutama longsor di wilayah perbukitan dan pegunungan.

Dwi mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan sejak masa transisi, termasuk memantau rekahan tanah dan segera melaporkan apabila muncul tanda-tanda pergerakan tanah.

(Silvana Febiari)