Harmonisasi Fiskal dan Danantara Jadi Kunci Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Kiki Verico. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.

Harmonisasi Fiskal dan Danantara Jadi Kunci Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Eko Nordiansyah • 8 October 2026 13:54

Jakarta: Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Kiki Verico mengatakan, upaya mengejar target pertumbuhan ekonomi enam persen bukan suatu yang mudah. Menurut dia, pemerintah memiliki pekerjaan yang besar sehingga membutuhkan orkestrasi kebijakan yang tepat.

"Seperti yang dikatakan Pak Menkeu harmonisasi fiskal dan Danantara itu menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ini," kata dia dalam acara 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita yang diselenggarakan Metro TV di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.

Untuk ekonomi tumbuh enam persen dan kondisi Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sekarang, ia menyebut, butuh investasi Rp2.200 triliun per tahun. Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong kemudahan perizinan sehingga investasi yang masuk memberikan dampak lebih besar ke perekonomian.

"Kalau yang tadinya enam bulan jadi lima bulan urusan perizinan, empat bulan jadi tiga bulan, dua bulan jadi sebulan, tiga minggu jadi dua minggu itu efisinesi. Itu lebih efektif mendorong investasi ketimbang kita narik mencapai kekurangan Rp2.200 triliun," ungkap Kiki.


Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Kiki Verico. Foto: tangkapan layar Metro TV.
 

Investasi sektor teknologi


Selain itu, Kiki menyebut, pemerintah perlu mendorong investasi berbasis teknologi. Pasalnya saat ini, konsep product base menjadi salah satu perhatian karena banyak negara mulai melirik sektor teknologi dan turunannya.

"Sekarang konsepnya adalah product base, jadi jaringan produksi menghasilkan produk. Produk apa yang menentukan ke depan? Integrated Circuit (IC), elektrik, elektronik, sekarang negara maju seperti Jepang, Taiwan, kemudian Tiongkok, Korea Selatan mereka ke arah situ," ujar dia.

Sejak 2010 hingga 2026, ia menjelaskan, pola investasi di berbagai negara juga telah berubah. Saat ini pola manufaktur yang dianut adalah produk yang capital base seperti kecerdasan buatan (AI).

"Dunia sudah bergerak sedemikan jauh, dan kita harus memulai memetakannya sehingga Indonesia bisa catch up," ungkap dia.

(Eko Nordiansyah)