Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. (DOK Istimewa)
Mengenal 10 Tokoh Kongres Pemuda II, Mulai Soegondo Djojopuspito hingga Johannes Leimena
Muhammad Adyatma Damardjati • 23 October 2026 14:54
Jakarta: Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 1928 menjadi momen bersejarah bagi lahirnya Sumpah Pemuda. Peristiwa tersebut tidak terlepas dari peran sejumlah tokoh yang duduk dalam kepanitiaan.
Berikut adalah 10 tokoh yang berperan penting dalam kongres tersebut.
1. Soegondo Djojopuspito
Soegondo memiliki peran paling sentral sebagai Ketua Panitia Kongres Pemuda II. Ia terpilih memimpin kongres atas persetujuan berbagai organisasi pemuda karena dinilai sebagai figur netral dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPI).
Ia mengarahkan jalannya rapat di tiga gedung berbeda di bawah pengawasan ketat intelijen kolonial Belanda (PID). Soegondo juga menyetujui dan langsung membacakan teks resolusi yang ditulis oleh Mohammad Yamin, yang kemudian dikenal sebagai teks Sumpah Pemuda. Perannya berhasil menyatukan ego berbagai organisasi kepemudaan berbasis kedaerahan menjadi satu identitas nasional Indonesia.
2. R.M. Djoko Marsaid
Djoko Marsaid menjabat sebagai Wakil Ketua Panitia, mendampingi Soegondo dalam memimpin kongres. Ia mewakili Jong Java, salah satu organisasi kepemudaan terbesar saat itu.
Djoko berperan menjaga keseimbangan organisasi dengan menetralkan ketegangan antarorganisasi dan menyelaraskan visi agar tetap fokus pada agenda persatuan nasional. Ia juga mengonsolidasikan basis massa Jong Java untuk mendukung peleburan identitas kedaerahan.
Mohammad Yamin menjabat sebagai Sekretaris Panitia sekaligus pencetus utama rumusan teks Sumpah Pemuda. Sebagai perwakilan Jong Sumatranen Bond, ia menjadi motor penggerak administrasi kongres.
Yamin menuliskan draf resolusi pada secarik kertas yang berisi tiga pilar utama: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, lalu menyodorkannya kepada Soegondo. Yamin juga menyampaikan pidato krusial mengenai pentingnya bahasa persatuan, dengan menjabarkan bahwa bahasa Melayu yang disempurnakan menjadi bahasa Indonesia adalah media paling kuat untuk menyatukan nusantara.
4. Amir Sjarifuddin
Amir Sjarifuddin berperan sebagai Bendahara Panitia yang memastikan keberlangsungan logistik dan keuangan kongres. Sebagai perwakilan Jong Bataks Bond, ia mengelola dana dan kontribusi dari berbagai organisasi kepemudaan.
Amir juga menyumbangkan pemikiran politik progresif dan radikal demi kemerdekaan berkat latar belakangnya di organisasi kepemudaan sekuler dan nasionalis. Ia aktif dalam sesi perdebatan untuk memastikan persatuan yang terbentuk memiliki dasar perlawanan politik yang kuat, serta membantu mengatur akomodasi dan pengamanan bagi para utusan dari luar Jawa.
(1).jpg)
Monumen Persatuan Pemuda Koleksi Museum Sumpah Pemuda. Foto: muspada.kemenbud
5. Prof. Mr. Soenario Sastrowardoyo
Soenario berperan sebagai penasihat panitia dan pembicara utama. Ia memberikan arahan hukum dan organisasi kepada panitia muda yang diketuai Soegondo. Pada sesi rapat kedua di Gedung Oost-Java Bioscoop, ia menyampaikan pidato penting bertema "Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia" yang merumuskan semangat persatuan nasional.
6. Johan Mohammad Cai
Johan Mohammad Cai menjabat sebagai Pembantu I Panitia yang mewakili kelompok pemuda Islam dan menjadi simbol inklusivitas etnis. Sebagai utusan resmi Jong Islamieten Bond (JIB), ia memastikan keterlibatan kelompok religius dalam ikrar kebangsaan.
Kehadirannya menjadi bukti nyata pelibatan golongan peranakan Tionghoa Muslim dalam kepanitiaan inti untuk mengikis sekat etnis. Ia juga menjadi tangan kanan pimpinan inti dalam mendampingi tugas organisasi dan mengawal kelancaran teknis di lapangan.
7. R. Katjasoengkana
Katjasoengkana berperan sebagai Pembantu II Panitia yang mengonsolidasikan pergerakan pemuda berhaluan nasionalis murni. Sebagai delegasi resmi dari organisasi Pemuda Indonesia yang bergerak atas asas kebangsaan, bukan kedaerahan, ia ikut andil sejak awal sebagai inisiator kepanitiaan yang merancang landasan persatuan. Ia juga membawa semangat literasi pergerakan melalui latar belakangnya yang aktif menyuarakan pemikiran merdeka.
8. R.C.I. Sendoek (Rumondor Cornelis Lefran Senduk)
Sendoek menjabat sebagai Pembantu III Panitia yang menyuarakan komitmen pemuda dari wilayah Sulawesi. Sebagai perwakilan Jong Celebes, ia memastikan suara masyarakat Indonesia Timur tercatat kuat dalam ikrar persatuan nasional.
Menggunakan latar belakang sebagai mahasiswa kedokteran STOVIA, Sendoek membantu persiapan fisik dan kesehatan para peserta. Ia juga aktif meredam ego kesukuan dalam forum demi meyakinkan utusan daerah bahwa integrasi nasional adalah tujuan utama bersama.
9. Johannes Leimena
Johannes Leimena berperan sebagai Pembantu IV Panitia sekaligus salah satu konseptor integrasi dari Maluku. Sebagai utusan Jong Ambon, ia membawa visi peleburan wilayah timur ke dalam bingkai keindonesiaan.
Johannes berhasil mengarahkan kelompok pemuda Ambon agar mengesampingkan perbedaan sosiologis demi berorientasi pada identitas nasional. Ia juga aktif menyumbangkan pemikiran visioner mengenai bentuk kerja sama antarorganisasi pascakongres yang melahirkan fusi pemuda tunggal.
10. Mohammad Rochjani Su'ud
Rochjani Su'ud menjabat sebagai Pembantu V Panitia yang mengamankan dukungan dari elemen masyarakat lokal. Sebagai representasi resmi Pemoeda Kaoem Betawi, ia bertindak sebagai tuan rumah pergerakan.
Rochjani membantu panitia membangun komunikasi dan mendapatkan perlindungan sosial dari masyarakat Betawi di sekitar lokasi kongres, serta mengoordinasikan pengondisian wilayah sekitar tempat rapat demi mengantisipasi gangguan keamanan atau sabotase eksternal.