Managing Director Development Investment DDMF M Rachmat Kaimuddin (kedua kiri). Foto: ANTARA/HO-DDMF.
DDMF: Hilirisasi Mineral Kritis Buka Peluang Investasi Industri Baterai
Husen Miftahudin • 24 October 2026 14:09
Jakarta: PT Danantara Development Management Fund (DDMF) menilai penguatan rantai pasok menjadi salah satu faktor penting untuk mengoptimalkan nilai tambah mineral kritis di Indonesia. Upaya tersebut membutuhkan investasi terkoordinasi, penguatan kapasitas industri domestik, serta kemitraan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan investasi swasta.
Managing Director Development Investment DDMF M. Rachmat Kaimuddin mengatakan kapasitas pengolahan mineral saja belum cukup untuk menghasilkan nilai tambah yang optimal.
"Untuk memperoleh nilai tambah yang optimal dari mineral kritis, kapasitas pengolahan saja tidak cukup. Diperlukan investasi yang terkoordinasi, kemampuan domestik yang lebih kuat, rantai pasok yang tangguh, serta kemitraan yang mampu memobilisasi modal untuk pembiayaan pembangunan dan investasi swasta," ujar Rachmat dalam keterangan di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan potensi peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi mineral. Nilai bijih nikel yang berkisar USD30 per ton, misalnya, dapat meningkat menjadi USD3.628 per ton setelah diolah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), yakni bahan antara untuk produksi baterai.
Pada tahapan produk baterai tertentu, nilai tambah tersebut disebut dapat mencapai 642 kali lipat. Angka ini menunjukkan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pengolahan mineral hingga menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi.
Ekspor produk hilirisasi diproyeksikan naik 45%
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai USD50 miliar hingga akhir 2026. Nilai tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan dengan realisasi ekspor produk hilirisasi pada 2024 sebesar USD34,5 miliar.
Selain pengolahan mineral, pengembangan ekosistem baterai juga menjadi salah satu peluang investasi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kebutuhan baterai di Indonesia mencapai 108,2 gigawatt-jam (GWh) pada 2030.
Sementara itu, untuk mendukung target pengembangan kendaraan listrik, kebutuhan kapasitas baterai diproyeksikan mencapai 780 GWh. Adapun kapasitas bahan baku yang tersedia saat ini disebut setara dengan 373 GWh, sehingga terdapat potensi kebutuhan tambahan sebesar 407 GWh.
Kesenjangan tersebut membuka peluang investasi untuk memperkuat rantai pasok baterai, mulai dari pengolahan mineral hingga pengembangan produk industri lanjutan.
(Ilustrasi baterai mobil listrik. Foto: dok Honda)
Perkuat industri domestik
Rachmat mengatakan negara-negara ASEAN dan Afrika memiliki kepentingan untuk memastikan manfaat ekonomi dari transisi energi turut memperkuat industri di negara penghasil mineral.
"Negara-negara ASEAN dan Afrika memiliki kepentingan yang sama agar nilai ekonomi transisi energi tidak hanya mengalir ke pusat manufaktur dan teknologi, tetapi juga memperkuat kemampuan industri negara penghasil," ujar Rachmat.
Menurut dia, investasi pembangunan perlu dinilai tidak hanya dari imbal hasil finansial, tetapi juga dari kontribusinya terhadap peningkatan kapasitas ekonomi, produktivitas, dan daya saing industri.
Penguatan rantai pasok dan pendalaman hilirisasi diharapkan dapat membantu Indonesia mengembangkan keunggulan sumber daya mineral menjadi kemampuan industri dan penguasaan teknologi yang lebih besar.