Managing Director Investment DIM Stefanus Ade Hadiwidjaja. Dokumentasi/ istimewa.
Infrastruktur Digital dan AI Jadi Prioritas Investasi untuk Perkuat Teknologi Nasional
Deny Irwanto • 22 October 2026 23:31
Jakarta: Pengembangan infrastruktur digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu arah investasi strategis untuk memperkuat daya saing dan kapasitas teknologi nasional. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi di sektor ini diharapkan dapat membuka peluang transfer teknologi serta meningkatkan kemampuan sumber daya manusia Indonesia.
Danantara Investment Management (DIM) menyiapkan pengumuman sejumlah investasi strategis di bidang infrastruktur digital, pusat data, dan AI dalam New Asia Forum (NAF) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Bali pada 3–4 Desember mendatang.
Managing Director Investment DIM Stefanus Ade Hadiwidjaja menyampaikan, sejumlah proyek di sektor digital akan diperkenalkan dalam forum tersebut. Salah satunya berkaitan dengan pengembangan pusat data yang diharapkan menjadi bagian dari masuknya investasi berskala besar ke Indonesia.
"Kami memiliki beberapa proyek, termasuk di data center, yang akan diumumkan di acara New Asia Forum. Kami berharap ini menjadi salah satu contoh masuknya investasi dalam skala besar ke Indonesia," kata Stefanus di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
Ia menilai perkembangan AI secara global menghadirkan peluang yang perlu direspons secara terukur. Karena itu, keputusan investasi tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian, sekaligus memperhatikan potensi pengembangan teknologi yang semakin luas.

Managing Director Investment DIM Stefanus Ade Hadiwidjaja. Dokumentasi/ istimewa.
"Secara global, AI sedang berkembang pesat. Dalam setiap investasi, kami selalu prudent dan berhati-hati. Namun di sisi lain, kami juga tidak bisa tertinggal dari peluang yang sangat besar di bidang AI," jelasnya.
Di sisi lain, pengembangan pusat data berskala besar membutuhkan perencanaan infrastruktur yang memadai. Ketersediaan energi dan air, kesiapan jaringan listrik, keamanan data, serta dampak lingkungan menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhitungkan agar pertumbuhan infrastruktur digital tetap sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan industri nasional.
Untuk itu, DIM mendorong penerapan prinsip Bring Your Own Energy (BYOE) dalam pengembangan pusat data berskala besar. Pendekatan tersebut disertai pertimbangan penggunaan teknologi closed loop untuk mengurangi konsumsi air, serta sistem pengolahan dan desalinasi air sesuai kebutuhan proyek.
Perhatian terhadap aspek tersebut menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur pendukung AI. Dengan perencanaan yang tepat, investasi pusat data diharapkan tidak hanya memperluas kapasitas teknologi, tetapi juga memperhatikan efisiensi sumber daya dan keberlanjutan lingkungan.
Selain sektor digital, DIM juga melaporkan perkembangan investasi di sejumlah bidang strategis lainnya. Pada sektor pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), tiga proyek tahap pertama di Bali, Bekasi, dan Bogor telah memasuki tahap konstruksi. Sementara itu, delapan mitra tahap kedua telah menerima Conditional Letter of Award (CLoA) untuk delapan lokasi yang mencakup 20 kabupaten/kota, dengan target peletakan batu pertama secara bertahap pada awal 2027.
DIM bersama Denera juga telah menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel. Minat pembiayaan indikatif yang dihimpun disebut mencapai lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan program PSEL.
Di sektor pelayanan haji dan umrah, DIM menyelesaikan akuisisi Novotel Thakher Makkah pada 11 Agustus 2026 dan lahan seluas 4,4 hektare di kawasan Thakher pada 18 Oktober 2026. Hotel tersebut memiliki 1.461 kamar dengan kapasitas sekitar 4.400 jemaah. Adapun lahan yang diakuisisi direncanakan dikembangkan menjadi kawasan dengan 13 menara hotel, sekitar 4.560 kamar, dan kapasitas hingga 18.000 jemaah secara bertahap.
Sementara itu, di sektor protein, DIM menjalin kemitraan dengan JBS Group melalui rencana investasi senilai 2,5 miliar dolar AS untuk kepemilikan 25 persen pada perusahaan patungan yang menaungi operasional JBS di Australia dan Selandia Baru. Kemitraan tersebut juga membuka potensi pembiayaan tambahan hingga 2,5 miliar dolar AS untuk investasi dan akuisisi di Indonesia serta kawasan regional, termasuk peluang akses terhadap teknologi, standar industri, dan jaringan distribusi global.
Stefanus menegaskan, berbagai investasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang, memperluas penguasaan teknologi, dan meningkatkan kemampuan industri nasional.
Rencana pengumuman investasi digital dan AI dalam NAF 2026 menjadi salah satu langkah yang disiapkan DIM untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan Indonesia dengan peluang investasi global. Dampaknya terhadap daya saing teknologi nasional akan bergantung pada realisasi proyek, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta sejauh mana transfer teknologi dapat mendukung pengembangan industri dalam negeri.