Desainer Muda Maranatha Eksplorasi Isu Sosial hingga Teknologi Lewat Fesyen

Pertunjukan busana karya calon desainer muda dari mahasiswa Universitas Kristen Maranatha saat tampil di ajang EVOLUSIA 2026 di Imah Seniman, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis, 5 November 2026

Desainer Muda Maranatha Eksplorasi Isu Sosial hingga Teknologi Lewat Fesyen

Roni Kurniawan • 5 November 2026 16:39

Bandung: Sebanyak 18 desainer muda Universitas Kristen Maranatha menghadirkan beragam interpretasi tentang pengalaman manusia melalui koleksi busana dalam pergelaran EVOLUSIA 2026. Mengusung tema OMNIA: Many Worlds, One Human Experience, karya-karya tersebut mengeksplorasi berbagai sudut pandang kehidupan yang dituangkan melalui pendekatan estetika, sosial, dan budaya.

Eksplorasi itu ditampilkan dalam pergelaran busana dan pameran tahunan ke-16 yang diselenggarakan Program Studi Diploma III Seni Rupa dan Desain, konsentrasi Fashion Design, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK), Universitas Kristen Maranatha.

Bekerja sama dengan Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Barat, kegiatan tersebut berlangsung di Imah Seniman, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 5 November 2026.

Ketua Program Diploma III Seni Rupa dan Desain FHIK Universitas Kristen Maranatha, Grace Sahertian, menjelaskan tema EVOLUSIA tahun ini lahir dari pengamatan dan penelusuran mahasiswa terhadap berbagai fenomena serta perubahan yang berlangsung di tengah masyarakat.

Menurut Grace, perkembangan industri mode tidak semata-mata ditentukan oleh perubahan desain pakaian, pilihan warna, maupun bentuk siluet. Berbagai dinamika di bidang politik, sosial, budaya, ekonomi, hingga teknologi turut memberikan pengaruh terhadap arah perkembangan dunia mode.

"Kalau kita berbicara tentang tren, tentu bukan hanya tren fashion. Tren fashion itu juga dipengaruhi oleh perkembangan dunia secara keseluruhan. Ada perkembangan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan berbagai hal lainnya yang pada akhirnya ikut memengaruhi bagaimana industri dan dunia fashion berkembang," ujar Grace saat sesi jumpa pers, Kamis, 5 November 2026.
 


Oleh karena itu, mahasiswa diarahkan untuk membangun kepekaan terhadap perubahan lingkungan dan kondisi sosial di sekitarnya. Mereka diharapkan tidak sekadar mengadopsi tren yang berkembang, tetapi juga mampu memahami berbagai faktor yang membentuk tren tersebut.

"Kami ingin mahasiswa melihat bahwa fashion itu tidak berdiri sendiri. Ada banyak faktor yang memengaruhi. Jadi, mereka harus bisa membaca apa yang sedang terjadi di sekitarnya, kemudian bagaimana fenomena tersebut bisa diterjemahkan menjadi sebuah gagasan dan diwujudkan dalam karya busana," kata Grace.

Tema OMNIA, yang bermakna segalanya, menjadi ruang bagi para desainer untuk mengolah perbedaan latar belakang, pemikiran, dan pengalaman manusia menjadi gagasan kreatif. Setiap koleksi merepresentasikan cara pandang masing-masing desainer terhadap kehidupan dengan tetap berada dalam satu tema besar.

Gagasan tersebut juga diwujudkan melalui filosofi cahaya dan bayangan. Sebagaimana cahaya putih yang dapat terurai menjadi spektrum warna sekaligus menghasilkan bayangan, konsep ini menggambarkan beragam perspektif dan pengalaman yang membentuk satu kesatuan dalam kehidupan manusia.

Grace mengatakan, penyelenggara memberikan keleluasaan kepada mahasiswa untuk mengembangkan identitas kreatif masing-masing. Dengan demikian, kesamaan tema tidak mengharuskan seluruh koleksi memiliki karakter maupun pendekatan desain yang seragam.


Pertunjukan busana karya calon desainer muda dari mahasiswa Universitas Kristen Maranatha saat tampil di ajang EVOLUSIA 2026 di Imah Seniman, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis, 5 November 2026


"Setiap mahasiswa memiliki latar belakang, cara berpikir, dan ketertarikan yang berbeda. Kami ingin mereka bisa menunjukkan karakteristik individunya masing-masing. Jadi, meskipun berada dalam satu tema besar, karya yang dihasilkan tidak harus seragam," tutur Grace.

Dalam EVOLUSIA 2026, para desainer mengangkat berbagai persoalan dan perkembangan kehidupan sebagai sumber inspirasi. Isu yang dieksplorasi mencakup kekayaan budaya lokal, persoalan sosial, penerapan prinsip keberlanjutan, hingga perkembangan teknologi masa depan.

Beragam gagasan tersebut memperlihatkan pemanfaatan busana sebagai sarana untuk menyampaikan narasi, mengekspresikan identitas, serta mengomunikasikan pandangan terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat.

Proses penciptaan koleksi juga melibatkan tahapan yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir. Mahasiswa perlu melakukan penelitian, merumuskan ide, mengeksplorasi bahan, serta menyusun konsep agar setiap rancangan memiliki keterkaitan dengan tema yang diusung.

Grace menuturkan, dosen berperan mendampingi mahasiswa dalam mengembangkan gagasan hingga merealisasikannya menjadi koleksi busana. Bimbingan tersebut diperlukan agar setiap ide dapat diolah secara terarah tanpa menghilangkan ciri khas kreatif masing-masing mahasiswa.

"Pastinya ada peran kami sebagai dosen untuk membimbing dan mengarahkan. Mereka masih membutuhkan pendampingan, terutama bagaimana mengembangkan ide, melakukan riset, sampai akhirnya mewujudkan konsep tersebut menjadi sebuah koleksi," jelas Grace.

Selain pendampingan akademik, metode pembelajaran juga perlu mengikuti perkembangan karakter mahasiswa yang semakin akrab dengan teknologi digital. Menurut Grace, perubahan tersebut menuntut tenaga pendidik untuk memahami pola berpikir dan cara mahasiswa memperoleh inspirasi dalam mengembangkan kreativitas.

"Generasi sekarang sudah sangat dekat dengan teknologi. Karena itu, kami juga tidak bisa hanya menggunakan pendekatan yang sama seperti sebelumnya. Kami perlu memahami cara pandang mereka, bagaimana mereka mendapatkan inspirasi, dan bagaimana mereka mengembangkan kreativitasnya," ungkap Grace.

Ia menilai, salah satu tantangan dalam pendidikan desain ialah memastikan kebebasan berekspresi mahasiswa tetap disertai pemahaman konseptual dan tanggung jawab terhadap hasil karya. Kreativitas perlu dibangun melalui proses berpikir yang jelas, bukan sekadar menghasilkan rancangan yang menarik secara visual.

"Kami ingin kreativitas mereka tetap berkembang, tetapi juga harus ada proses berpikir di belakangnya. Mereka tidak hanya membuat sesuatu karena terlihat bagus, tetapi harus memahami mengapa memilih konsep itu, apa pesan yang ingin disampaikan, dan bagaimana karya tersebut bisa dipertanggungjawabkan," beber Grace.

Grace menegaskan, penyelesaian tugas akhir tidak hanya menjadi tolok ukur kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan rancangan busana, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter calon desainer. Selama menjalani proses kreatif, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan nilai kedisiplinan, integritas, kepedulian, dan keunggulan.

"Bagi kami, tugas akhir bukan semata-mata tentang menghasilkan karya yang estetik, indah, atau bagus secara visual. Lebih dari itu, kami ingin melihat bagaimana mahasiswa menjalani proses pendidikan selama tiga tahun dengan menerapkan nilai-nilai kedisiplinan, integritas, kepedulian, dan keunggulan," tandas Grace.

(Whisnu M)