Xanana Apresiasi Lazarus Laiskodat Memorial Cup, Viktor Dorong Petinju NTT Tembus Panggung Dunia

Perdana Menteri Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao (kanan) bersama Anggota DPR Fraksi Partai NasDem dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II, Viktor Bungtilu Laiskodat (kiri). Dok. Istimewa.jpg

Xanana Apresiasi Lazarus Laiskodat Memorial Cup, Viktor Dorong Petinju NTT Tembus Panggung Dunia

Achmad Zulfikar Fazli • 8 November 2026 10:20

Kupang: Riuh sorak penonton, dentuman musik pengiring, dan derap langkah petinju menuju ring menjadi bagian dari atmosfer final cabang olahraga tinju Lazarus Laiskodat Memorial Cup (LLMC) III 2026. Di Lapangan Lazarus, Desa Uitao, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 7 November 2026, pertarungan demi pertarungan berlangsung dalam suasana kompetitif yang menyedot perhatian masyarakat.

Ketika bel ronde pertama berbunyi, perhatian penonton tertuju pada setiap gerakan petinju. Gesekan sepatu di atas kanvas, pukulan yang saling berbalas, hingga sorak dukungan dari pinggir ring menghadirkan atmosfer pertandingan yang penuh energi.

Final turnamen tinju nasional tersebut dihadiri Perdana Menteri Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao. Kehadirannya sekaligus menjadi momentum persahabatan antara Indonesia dan Timor Leste melalui olahraga.

Xanana mengapresiasi penyelenggaraan LLMC III yang mampu mempertemukan atlet, masyarakat, dan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Dia terkesan melihat antusiasme masyarakat, mulai dari anak-anak, generasi muda, hingga orang tua yang hadir menyaksikan pertandingan.

Menurut Xanana, olahraga memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat, membangun persaudaraan, serta menciptakan suasana damai dan stabil.

“Sport adalah suatu cara untuk masyarakat bergabung dalam suasana damai dan stabilitas. Bagus sekali. Saya heran karena peserta datang dari Jawa, Maluku, Ambon, Papua, Bali, dan berbagai daerah lainnya,” ujar Xanana, Sabtu, 7 November 2026.

Atmosfer final cabang olahraga tinju Lazarus Laiskodat Memorial Cup (LLMC) III 2026. Dok. Istimewa



Dia menyampaikan harapan agar Timor Leste dapat berpartisipasi dalam penyelenggaraan berikutnya. “Saya berjanji tahun depan Timor Leste akan bermain,” kata Xanana, yang disambut antusias penonton.

Xanana mengapresiasi Viktor Bungtilu Laiskodat atas inisiatif penyelenggaraan turnamen tersebut. Dia menilai kegiatan olahraga seperti LLMC memiliki nilai penting dalam mempererat hubungan antarmasyarakat dan menumbuhkan semangat persaudaraan lintas generasi.

“Saya merasa senang dan terharu melihat ibu-ibu, anak-anak, orang tua, sampai anak muda berkumpul dalam suasana persahabatan dan damai. Kita harus tetap memegang prinsip perdamaian dan persaudaraan,” tutur Xanana.

Pada malam puncak kompetisi, gelar petinju terbaik putri kategori U-19 dan Elite diraih Getrudis Ndapa dari Sasana CMI. Sementara itu, penghargaan petinju terbaik putra diberikan kepada Philips Tetiray dari Perbati, Provinsi Maluku.

Gelar juara umum diraih Hermansen Ballo Boxing Camp (HBBC) setelah mengumpulkan 15 medali, terdiri atas delapan emas, lima perak, dan dua perunggu. Piala dan penghargaan bagi para pemenang diserahkan langsung oleh Xanana Gusmao.

Pembinaan atlet harus berjenjang


Anggota DPR Fraksi Partai NasDem dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II, Viktor Bungtilu Laiskodat, mengatakan tantangan terbesar pengembangan tinju di NTT bukan pada ketersediaan bakat, melainkan kemampuan membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan.

Menurut dia, potensi atlet muda NTT tersebar di berbagai sasana. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan pembinaan sejak usia dini, pelatih berkualitas, kompetisi rutin, serta kesempatan bertanding menghadapi atlet dari berbagai daerah.

“Bakat yang dimiliki anak-anak NTT harus dipertemukan dengan pembinaan yang baik. Dari sasana-sasana yang ada di seluruh NTT, saya ingin melihat lahir petinju-petinju muda yang kelak mengibarkan Merah Putih di tingkat nasional maupun dunia,” kata Viktor.

Dia menilai kompetisi terbuka, seperti LLMC, memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem olahraga daerah. Melalui pertandingan yang mempertemukan atlet lintas daerah, kemampuan petinju dapat diuji secara langsung, sementara pelatih dan pengelola sasana memperoleh kesempatan mengevaluasi hasil pembinaan.

Viktor berharap keberlanjutan kompetisi dapat membuka jalur yang lebih jelas bagi atlet muda untuk berkembang dari tingkat sasana menuju kejuaraan nasional hingga internasional.

“Jangan sampai anak-anak kita hanya dikenal karena memiliki bakat alamiah. Mereka harus mendapatkan kesempatan berlatih, bertanding, dan meningkatkan kualitas diri. Kita ingin potensi itu tumbuh menjadi prestasi yang bisa diukur dan dibanggakan,” ujar Viktor.

Olahraga sebagai investasi pembangunan manusia

Lazarus Laiskodat Memorial Cup III 2026 bagian dari agenda olahraga multicabang yang berlangsung di NTT pada 4 Oktober-8 November 2026. Dengan total hadiah mencapai Rp1,1 miliar dan tanpa biaya pendaftaran bagi peserta, turnamen ini dirancang untuk memperluas akses kompetisi sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat dan pengembangan sport tourism.

Selain tinju, LLMC III menghadirkan cabang sepak bola yang diikuti 24 klub undangan serta kejuaraan Shorinji Kempo antardojo se-NTT.

Penyelenggaraan tiga cabang olahraga tersebut memperluas kesempatan bagi atlet untuk berkompetisi sekaligus mendorong tumbuhnya budaya olahraga di tengah masyarakat.

Bagi Viktor, LLMC memiliki makna yang lebih mendalam karena diselenggarakan di Pulau Semau, tanah kelahiran keluarganya. Turnamen ini juga menjadi bagian dari upaya merawat nilai perjuangan, pengabdian, dan cinta kasih yang diwariskan almarhum Lazarus Laiskodat.

Dia memandang olahraga sebagai investasi sosial dalam pembangunan manusia. Di arena pertandingan, generasi muda tidak hanya mengasah kemampuan fisik dan teknik, tetapi juga belajar mengenai disiplin, keberanian, kerja keras, sportivitas, serta kedewasaan dalam menerima kemenangan maupun kekalahan.

Nilai-nilai tersebut, menurut Viktor, merupakan fondasi penting untuk membentuk generasi muda yang tangguh, percaya diri, dan siap menghadapi persaingan di masa depan.

“Saya berharap ajang ini dapat memotivasi anak-anak muda di daerah untuk memiliki mental kompetitif yang tangguh. Dari kompetisi seperti inilah kita ingin melihat talenta-talenta NTT tumbuh, berkembang, dan kelak mampu menembus panggung nasional hingga internasional,” kata Viktor.

(Achmad Zulfikar Fazli)