Lestari Moerdijat Usulkan Pembentukan Aliansi Perempuan Bosphorus

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie) saat pidato pembuka pada acara Bosphorus Summit ke-17 di Istanbul, Turki, Kamis, 5 November 2026. . Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Lestari Moerdijat Usulkan Pembentukan Aliansi Perempuan Bosphorus

Siti Yona Hukmana • 6 November 2026 15:17

Jakarta: Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengusulkan pembentukan Aliansi Perempuan Bosphorus atau Bosphorus Women's Alliance. Hal ini disampaikan saat menjadi pembicara kunci sesi "Woman Leading New Economy: Redefining Influence at The Top" di Bosphorus Summit di Istanbul, Turki, Kamis, 5 November 2026.

"Saya mengundang para pemimpin perempuan dunia dari berbagai negara berkumpul di konferensi ini untuk membentuk Alliansi perempuan Bosphorus untuk berbagi kebijakan yang sukses dilaksanakan, membimbing generasi muda di berbagai negara, dan bertemu di sini setiap tahun," kata Lestari dalam keterangan tetulis, Jumat, 6 November 2026.

Bosphorus Summit ialah konferensi tahunan yang diselenggarakan International Cooperation Platform di kawasan Selat Bosphorus. Lestari melanjutkan Aliansi Perempuan Bosphorus kelak bisa mengembangkan kerja sama dengan forum-forum perempuan serupa seperti W20 (Women 20) dari G20. 

"Marilah kita kenang Bosphorus Summit tidak hanya apa yang kita diskusikan tetapi juga karena aliansi perempuan yang kita gagas," ajak Lestari.

Selain Aliansi Perempuan Bosphorus, Lestari mengajukan dua gagasan lain. Pertama, pembukaan akses kepada modal dan pasar digitak sehingga perempuan penguasaha bisa bertahan dan bertumbuh. Kedua, kebijakan berbagi tugas antara laki-laki dan perempuan, misalnya, dalam menjaga dan mendidik anak da  pekerjaan yang fleksibel bagi perempuan.

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie) saat pidato pembuka pada acara Bosphorus Summit ke-17 di Istanbul, Turki, Kamis, 5 November 2026. . Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Lestari juga mengajukan redifinisi sejumlah konsep terkait peran perempuan. Pertama, redefinisi dari posisi menuju dampak, yakni bagaimana perempuan dengan posisinya masing-masing bisa melakukan perubahan.

Kedua, dari sebagai tangga menjadi jembatan. Yakni bagaimana perempuan tidak hanya menaiki tangga untuk mengejar posisi, tetapi membangun jembatan untuk membantu perempuan dan orang lain "menyeberang." 

"Maksudnya, perempuam tidak bisa mengurus diri sendiri, tapi harus mempwsulikab dan memberdayakan perempuan lain," ujar Rerie, sapaan akrab Lestari.

Ketiga, dari kemurahan hati (charity) menjadi strategi. Pemberdayaan ekonomi perempuan tidak boleh lagi dipandang sebagai kemurahan hati, tetapi sebagai strategi ekonomi.

Rerie mengajukan berbagai gagasan tersebut karena perempuan di berbagai belahan dunia masih mengalami diskriminasi. Padahal, perempuan menjalan berbagai fungsi (multitasking). Perempuan bekerja di sektor energi, jurnalisme, bisnis, dan ilmu pengetahuan. Perempuan bahkan berperam besar di saat krisis, misalnya ketika pandemo Covid-19. 

Rerie mengambil contoh Indonesia. Perempuan menjalankan 65,4 persen usaha mikro, kecil, dan menengah. Akan tetapi, hanya 56,6 persen perempuan berpartisipasi dalam lapangan kerja, dibandingkan 84,4 persen laki-laki.

(Siti Yona Hukmana)