Menggelar Taman Talks, Taruna Merah Putih Mengajak Generasi Muda Menjemput Masa Depan di Era AI dan Otomatisasi

Suasana diskusi Taman Asik – Taman Talks oleh Taruna Merah Putih yang membahas kesiapan Generasi Z menghadapi tantangan dunia kerja di era AI. (Foto: Ist)

Menggelar Taman Talks, Taruna Merah Putih Mengajak Generasi Muda Menjemput Masa Depan di Era AI dan Otomatisasi

Patrick Pinaria • 10 October 2026 22:50

Jakarta: Kecerdasan buatan (Artificial Intellegence/AI) membawa babak baru di era digital yang semakin cepat, canggih, dan diiringi ketidakpastian. Ia mengubah cara manusia bekerja. Otomatisasi menjalar di berbagai sektor ketenagakerjaan. Pada titik ini, sebuah pertanyaan penting mengemuka: Kerja 2030: Masih ada kerja buat kita?

Pertanyaan tersebut menjadi tema utama Taman Asik – Taman Talks yang diselenggarakan oleh Taruna Merah Putih. Forum ini menjadi ruang dialog yang inklusif dan konstruktif untuk membahas masa depan pekerjaan, kesiapan generasi muda, serta peran pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi dan otomatisasi.

Mengusung semangat 'Kerja Masa Depan. Masa Depan Kamu', kegiatan ini mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi mengambil bagian dalam membentuk masa depan. Sebab, di tengah kecanggihan mesin dan algoritma, masa depan tetap membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, berinovasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan dengan tanggung jawab.


Para pembicara, penyelenggara, dan peserta Taman Talks Taruna Merah Putih berfoto bersama dalam diskusi tentang masa depan kerja di era AI dan otomatisasi. (Foto: Ist)

Persoalannya bukan lagi apakah teknologi akan mengubah dunia kerja. Perubahan itu telah berlangsung. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan bahwa kemajuan teknologi membuka kesempatan baru, bukan justru mempersempit ruang hidup dan penghidupan generasi muda.
 

Bonus demografi dan masa depan pekerjaan

Indonesia memiliki modal demografis yang besar melalui jumlah penduduk usia produktif. Namun, bonus demografi tidak dengan sendirinya menjadi bonus kesejahteraan. Potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila generasi muda memperoleh akses terhadap pendidikan berkualitas, keterampilan yang relevan, dan lapangan pekerjaan yang layak.

Dalam diskusi tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menyoroti tantangan yang muncul ketika besarnya angkatan kerja berhadapan dengan perkembangan AI dan otomatisasi. Teknologi dapat meningkatkan produktivitas dan melahirkan jenis pekerjaan baru, tetapi pada saat yang sama berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia.

"Otomatisasi dapat menjadi ancaman. Indonesia mengalami bonus demografi, ketika jumlah angkatan kerja besar, tetapi ketersediaan lapangan pekerjaan minim. Kita menghadapi resiko ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan," tuturnya. 

Menurutnya, perkembangan AI tidak hanya berpotensi mengubah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dasar (low-skilled jobs), tetapi juga pekerjaan profesional yang selama ini mengandalkan keahlian dan pendidikan tinggi.

"AI dapat menggusur pekerja bukan hanya yang low skills, tetapi high skills turut terancam oleh AI. Karena itu, kita harus mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi perubahan," ujar Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris. 

Sementara itu, Stephanie Octavia dari Taruna Merah Putih mengajak melihat lebih menyeluruh mengenai tantangan ketenagakerjaan. Ia menilai generasi muda membutuhkan akses terhadap pendidikan dan pelatihan yang relevan, tetapi mereka juga memerlukan ekosistem ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja dan membuka kesempatan untuk berkembang.

"Mempersiapkan generasi muda tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi memastikan ketersediaan lapangan pekerjaan yang layak," ujarnya dalam sesi pembuka kegiatan Taman Asik. 

Sedangkan Kepala Kanwil BPJS Ketenagakerjaan DKI Jakarta Ady Hendratta mengingatkan aspek perlindungan sosial dalam dunia kerja. Baginya mempersiapkan generasi muda perlu disertai dengan perlindungan menghadapi risiko dalam bekerja. Dalam konteks ini, BPJS Ketenagakerjaan menjadi instrumen penting untuk membangun rasa aman dan menjaga keberlangsungan hidup pekerja beserta keluarganya.

"Kita tidak pernah benar-benar mengetahui risiko apa yang akan kita hadapi di masa depan. Karena itu, perlindungan tidak boleh baru dipikirkan ketika musibah terjadi," ujarnya. 

Lebih lanjut, ia menambahkan, "Dengan memahami dan mengikuti program jaminan sosial ketenagakerjaan, kita sedang membangun jaring pengaman bagi diri sendiri dan keluarga."
 

Menjadi manusia seutuhnya di tengah era kecerdasan buatan

Meski perkembangan AI semakin canggih dan otomatisasi membawa ancaman, Charles mengingatkan perkembangan teknologi tidak sepenuhnya membawa kabar buruk. Mengacu pada Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF), ia menyoroti proyeksi bahwa hingga 2030 akan muncul pekerjaan-pekerjaan baru dalam jumlah besar, sekaligus terjadi pergeseran pekerjaan yang sudah ada.

WEF memperkirakan sekitar 170 juta pekerjaan baru akan tercipta secara global, sementara sekitar 92 juta pekerjaan tergeser, sehingga menghasilkan pertambahan bersih sekitar 78 juta pekerjaan.

"Ke depan kita harus mempersiapkan kebijakan agar generasi muda siap menghadapi tantangan zaman," pungkas Charles.

Sementara itu, perspektif dunia usaha turut memberikan dimensi penting dalam pembahasan ini. CEO Wahyono Group Pieter Setiawan menyoroti tidak hanya tentang dunia kerja, tetapi mencakup pentingnya memanusiakan manusia. Ia menilai manusia perlu belajar menjadi manusia seutuhnya di tengah era kecerdasan buatan.

"Kita perlu belajar menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang mampu bersosialisasi dengan baik, berkomunikasi dengan baik, berperilaku dengan baik, dan menjadi pekerja yang baik. Kemampuan intelektual penting, tetapi harus disertai karakter dan etos kerja," ujar Pieter Wahyu.
 

Taman sebagai ruang sosial inklusif dan kreatif

Mangatta selaku Ketua Panitia kegiatan Taman Asik menekankan tentang pentingnya menghidupkan taman sebagai bagian membangun ruang publik yang aktif dan bermanfaat. Salah satu pendekatannya adalah menghadirkan kegiatan pelatihan keterampilan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

"Tugas utama kita adalah menghidupkan taman. Salah satu caranya adalah menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, termasuk pelatihan membuat kopi dan keterampilan mekanik atau montir. Dengan begitu, taman tidak hanya menjadi tempat untuk dikunjungi, tetapi juga ruang untuk belajar dan mengembangkan kemampuan," ujar Mangatta.

Hal senada diucapkan oleh Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Abdul Khalit. Ia menjelaskan taman adalah ruang sosial yang terbuka, inklusif, dan kreatif bagi masyarakat. 

"Taman Asik adalah semangat menjadikan taman sebagai area sosial yang inklusif dan kreatif. Taman berperan dalam mendukung kualitas lingkungan, membantu pengendalian limpasan air hujan, serta menjadi ruang hijau yang penting bagi kehidupan kota," tuturnya. 

Melalui Kegiatan Taman Talks, Taruna Merah Putih mengajak generasi muda untuk memandang masa depan dengan kesiapan, daya kritis, dan keberanian untuk mengambil bagian dalam perubahan. Acara ini melibatkan Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta dengan bazaar UMKM dan berbagai pelatihan untuk orang muda dengan menggandeng PPKD Dinas Tenaga Kerja Jakarta Barat.

(Patrick Pinaria)